Teror Pasca Pertemuan Kodel

Aku tidak pernah mengira bahwa pertemuan siang itu di lantai 11 Wisma Kodel yang penuh semangat untuk melawan ketidakadilan, ternyata telah menjadi rapat terakhir bagi 22 orang yang hadir. Rupanya semua yang rapat memperoleh intimidasi dari berbagai pihak, rasa takut yang menyeruak membuat pertemuan berikutnya di LBH Jakarta hanya dihadiri 3 orang yaitu Retno, Luthfi, Jaelani dan ditambah Teti dan Amir Hamzah. dua orang terakhir itu tidak hadir dalam rapat Kodel karena berhalangan, namun hadir dalam rapat di LBH Jakarta seminggu setelah pertemuan Kodel.

Mengapa harus diintimidasi? padahal kami hanya merencanakan sebuah diskusi publik–yang ilmiah dengan mengundang DPRD dan Gubenur DKI Jakarta–. Mengapa teman-teman harus takut? padahal apa yang kita rencana tidak melanggar hukum dan aturan apapun. Bahkan ini adalah “HAK” yang dijamin oleh pasal 28 UUD 1945. Meminjam pernyataan Prof Winarno Surachmad “Masih banyak guru-guru kolonial di Indonesia, mereka belum menjadi guru merdeka”.

Dalam pertemuan berikutnya di LBH Jakarta tersebut, kami bersepakat untuk tetap menyelanggarakan diskusi publik meskipun aral melintang, berbagai penghalang bahkan berbagai ancaman yang bertubi-tubi diterima. Dalam kondisi serba ditekan, kami bertekad  mengubah waktu pelaksanaan Diskusi Publik yang semula hari kerja menjadi hari libur, yaitu pada Selasa, 16 Maret 2010, jam 9 s.d. 12 Wib, bertempat di LBH Jakarta, Jl. Diponegoro no. 74 Jakarta Pusat, dengan tema “Memprotes Kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang Mendiskriminasi Kesejahteraan Guru”.

Bayangkan….bekerja tanpa dana, minim teman, minim dukungan dan dibawah tekanan, dibanjiri ancaman, tak dihadiri nasum utama…..namun diskusi publik tetap sukses berjalan. Dihadiri 416 orang, diliput 21 media cetak dan elektronik, serta memperoleh dukungan dana penyelenggara–meski tekor 150 ribu—………………. luar biasa, lega dan puas rasanya…..perjuangan masih panjang dan tekanan pasti akan terus menghampiri……salam perjuangan!

Kegiatan diskusi publik di LBH Jakarta ini menjadi momentum dan cikal bakal berdirinya organisasi guru merdeka—Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ)…..perjuangan masih panjang kawan

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Buku Perjuangan organisasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s