Kembalinya si Pengurus yang Hilang……

Pagi itu handphoneku berdering, ku lihat di layar muncul nomor yang tidak ku kenal. Saat kuangkat, terdengar suara yang cukup ku kenal, namun sulit ku percaya pendengaranku. Aku tertegun begitu lama, seolah  tak mempercayai telingaku, sapaan si penelepon tak langsung ku jawab sampai yang bersangkutan mengulanginya  sapaannya beberapa kali, semakin  keras suaranya, memastikan aku mendengarnya! Yah… suara itu memang milik Maman Suparman, guru SMPN 250 Jakarta, salah seorang aktivis Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) yang sempat menghilang dari perjuangan selama berbulan-bulan.

Maman Suparman mulai ku kenal saat aku menginisiasi pertemuan diskusi publik membahas “Diskriminasi pemerintah provinsi atasTunjangan Kinerja Daerah (TKD)” , yang dihadiri oleh lebih dari 400 guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Jakarta. Kegiatan yang berlangsung di aula LBH Jakarta tersebut menyatukan banyak guru dari berbagai sekolah dan berbagai organisasi guru untuk hadir dan bertekad berjuang bersama atas perlakuan diskriminatif pemprov DKI Jakarta, Maman Suparman adalah salah satunya. Pertemuan besar ini kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya organisasi guru lokal bernama FMGJ, bahkan tanggal pertemuan yaitu 16 Maret 2010 ditetapkan sebagai “Hari Lahirnya FMGJ”.

Maman Suparman adalah guru IPA di SMPN 250, Cipete Jakarta Selatan. Ayah dari dua orang anak ini memiliki semangat kuat untuk berjuang. Kegigihannya dapat dilihat dari beberapa kali upayanya mengantar surat kemana-mana dan selalu semangat saat rapat pengurus FMGJ. Padahal Maman menderita sakit diabetes. Pengorbanannya dalam berjuang atas TKD yang didiskriminasi sungguh tidak diragukan, mulai dari keliling untuk dialog dan paparan ke fraksi-fraksi  di DPRD DKI Jakarta, dialog dengan DPD, Pemprov bahkan hadir pula dalam aksi demo di Balai Kota dan depan gedung DPRD DKI Jakarta, serta mengadu ke Komnas HAM atas intimidasi yang diterima para guru yang berjuang.  Bahkan Maman sempat menjadi ketua panitia pertemuan nasional  (Januari 2011) yang kemudian melahirkan organisasi profesi guru nasional yang bernama FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia). Padahal, saat pertemuan nasional berlangsung, anak sulungnya masuk rumah sakit karena demam berdarah, Maman tetap mengikuti pertemuan nasional hingga selesai. Kami, pengurus FMGJ sempat bezuk ke RS Fatmawati Jakarta. Di sana, kami berkenalan dengan istri dan dua anaknya yang sudah dewasa. Rupanya Maman kawin muda.

Namun, saat FSGI sedang sibuk mempersiapkan  Kongres Nasional pertamanya pada Juni 2011, Maman tiba-tiba menghilang pada April 2011. Tak jelas alasannya, hanya Ujang Subiatun (sekretaris FMGJ) yang mengatakan bahwa kepergian Maman terkait  perbedaan pendapat denganku soal kode etik guru FSGI. Maman tak muncul di Kongres Nasional di Wisma Haji Pondok Gede, meski diundang oleh FMGJ.

Maman tidak pula hadir dalam pertemuan-pertemuan rutin di FMGJ, juga tidak aktif lagi saat FMGJ dan FSGI berjuang untuk sertifikasi guru maupun penolakan permennegpan terkait ketentuan kenaikan pangkat untuk guru yang disyaratkan menulis artikel, jurnal ilmiah, buku, dan lain-lain. Padahal Maman biasanya yang paling semangat. Sewaktu FMGJ/FSGI ke DPR (komisi X dari Fraksi PDIP dan Fraksi Golkar), ke Ombusdman, bahkan ke Wakil Mendiknas –saat itu masih di jabat Fasli Jalal– Maman tidak ikut, meski sms pemberitahuan selalu di kirim ke hp dan emailnya.  Terakhir saat rapat kerja nasional FSGI di Apartemen Gading Icon, Maman juga tidak hadir. Setelah rakernas FSGI,  Kami semua, aktivis FMGJ sudah yakin bahwa Maman tidak akan kembali. Harapan Maman kembali sudah mulai kami kubur. Kami menduga, Maman kembali ke PGRI, organisasi profesi yang sebelum dia bergabung dengan FMGJ sudah menempatkannya sebagai ketua ranting dan bahkan pengurus cabang.

Namun, sabtu pagi itu, 3 Desember 2011, setelah 8 bulan lebih tidak menampakan batang hidungnya, tiba-tiba Maman menghubungiku dan ingin hadir dalam rapat rutin FMGJ. Tentu saja aku menyambut ramah dan mempersilahkan dia untuk hadir. Sebelumnya di FB FMGJ “Dukung Guru Tolak Diskriminasi” Maman sempat mengeluhkan kebijakan dinas pendidikan soal kenaikan pangkat yang mensyaratkan kepemilikan kartu anggota PGRI. Dia mengaku sudah keluar dari PGRI dan sedang mengurus kenaikan pangkat. Makanya Maman bingung dan ingin mengurus kartu tanda anggota (KTA) FMGJ.

Maman yang sudah tahu ketentuan UU Guru dan Dosen, memahami bahwa organisasi guru sudah tidak lagi tunggal.  Jadi dia akan mengurus kenaikan pangkat dengan menggunakan KTA FMGJ. Saya mengatakan kepadanya, kalau nanti bermasalah dan dihambat maka FMGJ akan melakukan advokasi atas perlakuan diskriminatif birokrasi pendidikan.  Diskriminasi ini cepat atau lambat pasti akan dialami juga oleh anggota FMGJ yang lain. Kami sudah bertekad akan melawan perlakuan diskriminatif semacam ini. Kebebasan berorganisasi bagi guru memang masih barang mewah di negeri ini.

Siang itu, rapat di mulai tanpa Maman. Maklum saja sampai pukul 15 wib maman tak juga muncul dalam ruang rapat. Heru—salah seorang pengurus FMGJ– brinisiatif menghubungi Maman, ternyata masih terjebak macet di perjalanan. Sekitar pukul 16 wib, Maman muncul di ruang rapat. Awalnya Maman agak canggung memasuki ruangan, melepas sepatu agak lama, kemudian bersalaman dengan kami satu persatu. Setelah  Maman duduk beberapa saat, sudah mulai rileks, aku kemudian mempersilahkannya untuk bicara.

Maman            : Saya sudah mengundurkan diri dari pengurus cabang dan ketua ranting di       PGRI. Ini surat pengunduran diri saya yang ditujukan kepada ketua PGRI Jakarta Selatan.

Retno               : Sejak kapan pak?

Maman            : Sudah hampir dua bulan yang lalu. Tapi saat ini, ketika saya mau mengurus kenaikan pangkat, ternyata dipersyaratkan memiliki KTA PGRI.

Heru                : Nggak bener tuh, kan organisasi guru sudah tidak tunggal lagi

Maman            : Betul pak, tapi kenyataannya saya mendapatkan perlakuan seperti itu.Oh ya, ada surat balasan dari pengurus PGRI Jakarta Selatan soal pengunduran diri saya. Dalam surat itu  dijelaskan bahwa menjadi anggota PGRI sangat penting karena KTA-nya banyak manfaatnya, bahkan sampai urusan kenaikan pangkat dan pencairan dana sertifikasi

Suasana menjadi hening mendengar penjelasan Maman, kemudian surat pengunduran diri itu beserta jawaban dari pengurus PGRI Jakarta Selatan diserahkan kepadaku. Ku baca sesaat karena suratnya sangat singkat kemudian ku oper kepada teman lain yang secara bergiliran membacanya. Sambil surat  berkeliling dari tangan para peserta rapat secara bergiliran, Maman kemudian melanjutkan omongannya.

Maman            : Saya akan urus kenaikan pangkat saya dengan menggunakan KTA FMGJ.Kata Bu Retno kalo ada masalah kita akan advokasi bersama.

Retno              : Iya Pak Maman, pasti kita akan lawan diskriminasi model begini. SekarangPak maman serahkan foto kepada pak Ujang, nanti akan  segera dibuat KTA FMGJ-nya. Minggu depan sudah bisa diambil.  Pengurus PGRI Jakarta Selatan apakah mengundang pak Maman untuk menjelaskan mengapa mengundurkan diri dari PGRI?

Maman            : Saya ditanya dan saya menjawab bahwa PGRI tidak jelas kinerjanya dalamberjuang atas guru. Jadi untuk apa saya jadi anggota PGRI?  Saya mau memilih organisasi profesi guru yang jelas perjuangannya untuk guru. Kemudiana terjadi perdebatan dalam tanya jawab itu, saya tetap bersikeras mengundurkan diri dari pengurus dan keluar dari PGRI.

Aku dan kawan-kawan pengurus FMGJ tidak pernah menduga, bahwa Maman Suparman yang kami kira kembali ke organisasi awalnya yaitu PGRI, ternyata selama menghilang justru dia memantapkan diri untuk keluar dari PGRI.  Tiba-tiba aku teringat, bahwa Maman sempat muncul waktu FMGJ/FSGI mengadakan konfrensi pers di ICW terkait pencairan dana sertifikasi yang kacau balau di 14 daerah—sekitar September 2011–. Maman hadir bahkan sempat bicara di hadapan kawan-kawan pers. Namun, dia segera meluncur pulang setelah konfresi pers berakhir, tak sempat ngobrol  denganku kecuali sekedar say hello dan bersalaman. Tapi kami semua menyambut hangat kehadirannya.

Si pengurus yang hilang ternyata sudah kembali…. Peristiwa ini menguatkan langkah kami, ada semangat dan energi baru untuk terus berjuang bagi guru dan bagi pendidikan yang berkualitas serta berkeadilan……. Selamat bergabung kembali Maman Suparman! (RL)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Buku Perjuangan organisasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s