Menciptakan Konflik dalam Ruang Kelas

Chintya dan Adit adalah siswaku yang sedang di mabuk asmara. Pasangan yang serasi ini sering terlihat berduaan dan tampak selalu mesra. Chintya yang senang membaca, pintar dan cantik, serta Adit yang tampan dan pandai beradu argumentasi merupakan pasangan yang pas di mataku. Tak ku duga, mereka bisa menjadi inspirasiku dalam menemukan ide kreatif pembelajaran di kelasku.

Memang tidak mudah menanamkan pemahaman pada anak didik, apalagi untuk materi yang tidak dapat dicerna hanya dengan ingatan. Diperlukan media atau instrumen inovasi guru, hasil kreatifitas  dan imajinasi, walau tidak banyak guru yang mau bersusah payah memikirkan apalagi melakukan hal tersebut. Namun, guru yang mencintai profesinya pasti akan berupaya menemukan media  kreatif.

Walaupun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sudah dibuat, bahan pelajaran sudah dikuasai benar. Namun sejak berangkat tidur semalam, aku masih saja memikirkan medium apa yang akan ku gunakan untuk melekatkan pemahaman anak muridku tentang materi “konflik”.   Dini hari saat banyak orang masih tertidur  lelap aku malah sudah mulai sibuk mempersiapkan perangkat ngajar dan bahan ajar yang diperlukan untuk proses pembelajaran hari ini. Aku memang lebih menyukai mempersiapkan pembelajaran pada pukul 03.00 WIB. Karena pada jam  itu suasana sepi, tubuhku pun sudah segar setelah beristirahat semalaman,  sehingga ide-ide  mengalir lancar.  Namun pagi ini, aku seperti menemui jalan buntu, tak menemukan ide baru dan segar untuk pembelajaran konflik di kelasku nanti. Memang ada beberapa ide, namun aku merasa belum sreg menggunakannya.

Sampai  jam pelajaran kedua habis, aku masih belum puas karena proses pembelajaran berlangsung seperti yang selama ini sudah sering ku lakukan. Mulai dengan menyampaikan pengertian konflik di masyarakat, kasus konflik antar pemeluk agama, dan konflik antar etnis. Kemudian putar film singkat tentang konflik, anak-anak diskusi ramai dan diakhiri dengan kesimpulan yang dipresentasikan murid.  Aku masih merasa belum puas.

Pergantian jam pelajaran berikutnya masuk kelas XI IPA 1, di pintu ku lihat Adit dan Chintya sedang duduk dan mengobrol mesra. Tampak Adit menggengam jemari Chintya sambil menyimak celoteh Chintya. Chintya sendiri tampak begitu antusias bercerita sambil matanya tak berhenti menantap mata Adit. Adit dan Chintya adalah pasangan yang kerap membuat banyak temannya iri. Chintya adalah gadis manis yang ramah, bertubuh langsing, dan berambut panjang sebahu.  Sedangkan Adit bertubuh tinggi, agak kurus, dan tampan.  Mereka  sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta monyet. Tiba-tiba aku mendapat inspirasi dari kisah cinta mereka berdua.

Bu Retno         : Selamat pagi anak-anak

Murid-murid     : Selamat pagi buuuu!!!

Setelah mengabsen siswa kelas XI IPA 1, aku mulai berpikir keras melaksanakan niatku untuk menciptakan konflik dengan melibatkan Adit sebagai kekasih Chintya.

Bu Retno         : Anak-anak pada pertemuan hari ini kita akan membahas mengenai

konflik dan upaya menyelesaikannya. Kita akan membahas konflik dari      sudut korban, pelaku dan juga provokator.

Fahmi              : Kok enggak dari sudut aktor intelektual juga bu?

Bu Retno         : Mengapa terpikir olehmu tentang aktor intelektual?

Fahmi              : karena kalau lagi baca koran  sering di bahas mengenai aktor intelektual

dari suatu berita konflik. Terkadang aktor intelektualnya tidak diketahui siapa orangnya.

Bu Retno         : Boleh juga masukan dari Fahmi. Terimakasih Fahmi, masukan ini sangat

berarti. Nanti aktor intelektual jadi bagian yang akan kita bahas juga

ya….Materi ini terkait  sikap pluralisme yang merupakan salah satu ciri

dari masyarakat madani.

Setelah percakapan singkat dengan Fahmi tersebut, yang sekaligus menjelaskan tujuan pembelajaran pada materi bab 2 dengan SK (Standar Kompetensi) tentang menganalisis budaya demokrasi dalam masyarakat Indonesia, kemudian secara  tiba-tiba (yang memang ku sengaja) aku mencoretkan  spidol ke pipiku, anak-anak yang sedang menyimak penjelasanku kontan berteriak “bu, pipinya kecoret spidol tuh!”.  Ku jawab : “Masak sih, waduh harus ada yang ngapusin nih.” Belum hilang kagetnya para siswa, tiba-tiba aku memerintahkan Adit menghapus coretan dipipiku.  “Adit tolong bersihkan dengan tisu ini!”, perintahku tegas. Suaraku begitu keras dan membahana di setiap sudut kelas karena suasana kelas cukup hening. Karuan  saja Adit langsung kaget, bukan cuma Adit, teman-teman sekelas Adit pun kaget, pasalnya ada pacarnya  dikelas itu.

Meski Adit kaget dan ragu, namun Adit  bangkit juga dari kursinya sambil  nengok Chintya kekasihnya yang tampak tertunduk bingung tidak tahu harus bersikap bagaimana. Adit juga nengok Santi yang duduk di samping Chintya untuk mengharapkan dukungan. Tapi wajah Santi juga tampak kebingungan. Akhirnya, Adit nengok Bobby,yang teriak, “Ayo Dit hapus cepat”. Kelas jadi gaduh.

Ronald            :Bu, Chintya cemburu, tuh Bu.

Arif                 :Ayo Dit jangan ragu!

Husni              :Nggak berani Dit?.

Bu Retno         :Chintya jangan kuatir, ini hanya ngetes Adit”.

Kelas pun  semakin gaduh.

Ferry               : Woi… Bu Retno genit ya…ha ha ha

Kevin              : abis Adit cakep sih … he he he

Bu Retno         :”Ayo Dit! Cepat!” .

Adit maju diringi macam-macam teriakan kawan-kawannya. Seluruh pandangan isi kelas tertuju padanya. Adit tampak berjalan pelan-pelan mendekatiku. Ketika Aku menyodorkan tissu dan Adit menerima, terasa pecah kelas dengan berbagai teriakan.

Bagus              : Waahhh ……. seru nih!

Andis              : Asyik…. euy!

Ivan                 : Saatnya kita saksikan bersama adegan berikut ini……..

Adit dengan berat hati menerima tissu, nengok ke belakang, mungkin maksudnya minta ijin Chintya. Seperti di komando seluruh kelas teriak “Ayo, ayo, ayo, ayo!!!”   Ketika tisu  sudah di tangannya, Adit tampak  gemetar menyentuh pipiku, kembali kelas serempak berteriak, “Nah lo!!!”  Adit cepat-cepat membersihkan tinta hitam di pipiku. Belum sepenuhnya bersih, Adit sudah berhenti. “Ah belum bersih, Dit!” kataku. Serempak sekelas tercipta koor  seirama: “Lagi,lagi, lagi, lagi!” Adit tampaknya sudah jengah, mukanya merah padam  dan mulai tampak kesal. Adit buru-buru beranjak kembali ke kursinya. Ku lihat dari ujung ekor mataku, Adit menuju kursinya, langsung membanting pantatnya di kursi sambil menarik nafas panjang. Setelah Adit duduk kembali di kursinya, Aku kemudian mencoba meredakan suara gemuruh di kelas. Setelah kelas hening maka aku mulai menjelaskan maksud dari permainan tadi.

Bu Retno         : Baiklah anak-anak, kita semua barusan terlibat dalam sebuah konflik,

tidak cuma Adit dan Chintya.  Konflik itu juga dirasakan langsung oleh  kita semua.

Kiki                 :Yeah, betul Bu, tapi paling kasian Chintya…

Fetty                :Chintya jadi korban olok-olok nih Bu.

Noorman         :Iya bu, Chintya mau nangis tuh!

Anak perempuan memandang Chintya dengan penuh empati. Anak laki-laki masih terus menggoda Adit dan Chintya.  Aku segera mengambil alih situasi di kelas. Aku mengajukan permintaan maaf yang tulus pada Chintya dan Adit karena mereka telah ku jadikan “korban” di kelasku. Aku ceritakan secara singkat latar belakang mengapa aku memilih simulasi ini untuk materi konflik di kelas XI IPA 1.

Bu Retno         : Saya ingin kalian memahami apa itu konflik. Saya berpikir, untuk memahami konflik maka para siswa saya harus merasakan langsung  sebuah konflik. Jadi kalian tidak hanya hafal definisi konflik, tetapi kalian sekaligus belajar bagaimana rasanya terlibat dalam konflik.

Sari                 : mengapa harus begitu bu?

Bu Retno         : karena seseorang baru benar-benar belajar jika  dia mendengar,  mengatakan, melakukan/mengalami, dan kembali mengatakannya. Maka dia paham. Bukan sekedar mereproduksi pengetahuan, tapi kalian bahkan bisa memproduksi pengetahuan sendiri atas pemahaman kalian.

Adit                 : mengapa harus mengorbankan saya?

Bu Retno         : karena kamu pacaran dengan Chintya. Sehingga apa yang ibu lakukan akan berpotensi menimbulkan konflik.

Ratih               : Apakah kalau tidak mengorbankan Adit, kita tidak bisa menciptakan konflik?

Bu Retno         : Bisa saja, tetapi kebetulan ide ini lahir saat melihat Adit dan Chintya di depan kelas tadi sebelum ibu masuk kelas ini. Semua berjalan begitu saja, tanpa rekayasa dan ibu senang melihat hasilnya tadi. Bagi ibu ini  cukup sempurna.  Ada pertanyaan lain?

Beberapa anak tampak menggelengkan kepalanya. Aku kemudian memandang sekeliling kelasku. Setelah mataku menyapu sekeliling kelas dan yakin bahwa tidak ada pertanyaan atau sanggahan lagi maka kucoba memberi instruksi selanjutnya.

Bu Retno         : Baiklah, anak-anak, coba kalian membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 5-6 orang, kemudian identifikasi  hal-hal yang menjadi penyebab   konflik dan siapa saja yang berperan dalam suatu konflik berdasarkan permainan tadi, tulislah hasil diskusi kelompokmu.

Paizal              : Bu, apakah kami juga harus mendefinisikan apa itu konflik ?

Bu Retno         : Terimakasih atas pertanyaanmu Paizal. Pertanyaanmu mengingatkan ibu. Iya, setiap kelompok juga harus mendefinisikan sendiri apa yang dimaksud dengan konflik. Ibu yakin kalau kalian pasti dapat merumuskan dengan bahasamu sendiri terkait dengan  definisi konflik.

Aku membentuk siswaku menjadi enam kelompok.  Mereka ku minta untuk merumuskan apa yang dimaksud  dengan konflik  berdasarkan persepsi masing-masing kelompok.

Para siswa segera membentuk lingkaran-lingkaran kecil di kelas dengan menggeser kursi. Diskusi berjalan dengan santai tetapi serius, beberapa kali terdengar tawa dari beberapa kelompok. Tampak mereka asyik diskusi dengan sekali-kali ada debat kecil. Hasil diskusi diketik oleh salah satu anggota kelompok dalam bentuk powerpoint, hasil diskusi ini kemudian dipresentasikan secara bergantian oleh tiap kelompok. Diperolehlah gabungan hasil identifikasi kelompok tantang konflik sebagai berikut :

No Hasil Diskusi Kelompok
1 setiap konflik selalu dipicu oleh suatu masalah yang ditimbulkan oleh seseorang ataupun kelompok orang (actor)  dengan tujuan tertentu
2 dalam setiap konflik selalu diwarnai dengan provokasi dari provokator
3 setiap konflik selalu menimbulkan korban (minimal korban perasaan), tapi kalau konflik dengan kekerasan dapat menimbulkan korban jiwa
4 terkadang dalam setiap konflik ada pihak yang terpaksa terlibat, meski mungkin yang bersangkutan tidak mau terlibat pada awalnya
5 setiap konflik pasti ditemukan penyebabnya dan dapat dicari jalan keluar (solusinya). Misalnya melalui dialog atau musyawarah, harus dihindari cara kekerasan
6 belajar menerima perbedaan pandangan atau pendapat dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga konflik di negara majemuk seperti Indonesia dapat diselesaikan dengan cara damai dan manusiawi

Aku kemudian menyimpulkan hasil diskusi melalui dialog bebas.

Bu Retno         : Jadi siapa aktor intelektual dalam konflik yang kita simulasi di kelas tadi? (sambil ku tulis dengan huruf cukup besar di whiteboard).

Siswa              : Ibu Retno !!!

Bu Retno         : kenapa saya aktornya?

Ayu                 : Karena bu Retno yang punya ide dan sekaligus pelaku utama drama di  kelas tadi… (beberapa siswa tertawa cekikikan mendengar pernyataan ayu).

Yesika             : Iya bu, kalau ibu tidak punya ide “ngerjain”  Adit kan enggak mungkin  juga kita semua terlarut dalam permainan tadi (aku tersenyum sambil menuliskan kembali pernyataan Ayu dan Yesika)

Bu Retno         : Siapa yang menjadi provokator dalam konflik tadi ?

Ghea                : Semua anak laki-laki di kelas ini bu!

Fikri                : Enggak Cuma laki-laki kok bu, beberapa anak perempuan juga kok.

Bu Retno         : Siapa anak perempuan yang kamu maksud?

Fikri                : Anita, Nungky, Syifa, Ruwanti dan Mitha tadi juga ikut teriak-teriak nyorakin Adit sambil ketawa-ketawa juga

Mitha              : Iya bu, ngikutin anak-anak laki-laki, abis seru sih! (sambil menahan tawa)

Juneswat         : menurut saya, provokator malah lebih jahat bu perannya.

Bu Retno         : Kenapa?

Juneswat         : karena mereka jadi menularkan kelakuannya ke orang lain yang semula mau diam saja.

Anita               : Iya bu, tadinya saya mau diam saja karena kasian sama Chintya, tapi karena provokatornya semangat banget, kita jadi terpancing ikut.

Bu Retno         : Saat kapan kamu terpancing oleh para provokator?

Anita               : Sewaktu Adit berhenti menghapus coretan spidol di pipi ibu. Saat itu ada teriakan lagi lagi lagi, saya ikut-ikut deh manasin keadaan he he he

Bu Retno         : Lalu, siapa korban dalam konflik di kelas tadi?

Windy             : Adit dan Chintya bu… korban perasaan.

Bu Retno         : Kalau sebuah konflik yang besar seperti di Aceh, Ambon dan Poso, siap dan apa yang menjadi korban?

Windy              : Yang jadi korban masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak… bentuk pengorbanannya bisa harta benda bahkan nyawa.

Bu Retno         : Mengapa korbannya terutama perempuan dan anak-anak?

Windy             : Karena perempuan akan menanggung resiko menanggung anak-anaknya jika suaminya jadi korban (meninggal) dalam bentrokan tersebut.   Untuk anak-anak saya yakin pasti trauma dalam  konflik tersebut. Mengobati trauma butuh proses panjang.

Kelas menjadi hening, namun keheningan kemudian pecah oleh suara Fikri.

Fikri                : Bu…dari simulasi konflik tadi saya jadi berpikir. Jangan-jangan konflik di Ambon dan Poso sebenarnya juga disebabkan oleh pihak lain. Karena dari keterangan yang saya dapat sebenarnya umat islam dan nasrani di wilayah konflik tersebut sudah berpuluh-puluh tahun hidup damai, bahkan saling gotong royong membangun tempat ibadah.

Bu Retno         : maksudmu pihak ketiga itu aktor intelektual dan dikompori oleh provokator?

Fikri                : Iya bu

Bu Retno         : Bagaimana pendapat yang lain tentang pernyataan Fikri?

Monica            : Apa yang dipikirkan Fikri menurut saya ada benarnya.

Bu Retno         : Apa alasanmu mengatakan ada benarnya pendapat Fikri?

Monica            : Saya pernah mendengar obrolan di lingkungan keluarga saya soal kasus  Ambon. Kami nasrani. Ada cerita suatu siang ada pengumuman bahwa  gereja di bakar umat Islam. Banyak yang menyaksikan dari kejauhan ada kepulan asap hitam pekat dari gereja. Masyarakat pun segera mengambil parang dan berlari menuju gereja. Semakin dekat gereja bau karet terbakar semakin kuat dan ternyata masyarakat “kecele” karena yang dibakar ternyata ban-ban bekas.

Bu Retno         : Siapa kira-kira yang membakar ban-ban tersebut menurutmu?

Monica            : Provokator bu… bukan umat islam Ambon.

Pernyataan Monica menutup pertemuan pada hari itu karena bel panjang tanda istirahat pertama sudah berbunyi. Proses pembelajaran berakhir.

**********

Proses pembelajaran konflik yang diuraikan di atas menggambarkan bagaimana para siswa menguraikan yang dimaksud dengan konflik, siapa saja yang berpotensi memicu konflik, yang terlibat dalam konflik, korban konflik, contoh konflik dan sebagainya. Semua siswa merumuskan  sendiri  semua itu dengan menggali dari diskusi kelas. Apa yang mereka rumuskan menjadi produksi pengetahuan yang memperluas wawasan,  mempertajam cara berpikir dan beragumentasi, serta keberanian mengemukakan ide/gagasan dan pendapat.

Dengan menggunakan media sederhana semacam ini, anak-anak senang dan menikmati pengalaman belajar. Proses  pembelajaran jauh lebih bermakna, materi lebih dipahami dan bertahan lama dalam ingatan para siswa.

Pendekatan pembelajaran seperti ini dapat mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga siswa mengembangkan potensinya  dan memproduksi pengetahuannya sendiri. Menurut Colin Rose dalam “Accelerated Learning” yang ku lakukan dalam proses pembelajaran ini adalah :

1 menciptakan suasana lingkungan yang rileks, rasa aman dan tidak takut dihukum guru, serta terbuka harapan siswa untuk mencapai hasil belajar yang  bermutu  tinggi.
2 menjamin bahwa materi belajar relevan dan terintegrasi ke dalam proses pembelajaran.
3 menjamin bahwa belajar dengan melibatkan emosi adalah positif, ketika belajar dilakukan bersama, ada humor dan dorongan semangat
4 melibatkan secara sadar semua indera dan pikiran, otak kiri dan otak kanan
5 menantang siswa untuk berpikir komplek, mengeksplorasi pengalaman belajar dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan.
6 mengkonsolidasikan hasil belajar ke dalam gudang memori pengetahuan siswa.

Semua langkah tersebut di atas, menyenangkan dan merangsang siswa dalam proses pembelajaran. Pengalaman ini dapat menjadi inspirasi untuk para guru yang mau berubah dalam pembelajarannya di kelas. Awalnya memang tidak mudah, namun jika kerap kita lakukan lama-lama malah membuat kita ingin selalu bereksperimen  dan ingin selalu menerapkan pendekatan-pendekatan baru di kelas.

Selain metode “mencoretkan spidol ke pipi”, aku juga memiliki pengalaman lain yang tak kalah menarik dengan merode permainana garis, yaitu pengalaman mengangkat isu sensitif dalam pendidikan multikultural dan anti kekerasan. (RL)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Konflik, Kreativitas Pembelajaran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s