Metode Permainan Garis : Sebuah Pengalaman Mengangkat Isu Sensitif Dalam Pendidikan Multikultural dan anti Kekerasan Di Ruang Kelas

Menerima perbedaan adalah salah satu karakter yang harus dibangun dalam pendidikan.  Kasus Ahmadiyah adalah salah contoh menarik untuk dibicarakan di dalam kelas. Selama ini para guru menghindari isu sensitif semacam itu untuk pembelajaran. Aku memutuskan untuk mengangkat kasus itu dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  (PKn) melalui permainan.  Teringat aku pada film  “Freedom Writers (2007)” yang berlatar belakang konflik etnik di Amerika Serikat. Erin Gruwell, guru dalam film itu,  menggunakan permainan garis (games line) untuk menggali pikiran dan perasaan siswanya berterkaitan kekerasan yang mereka alami akibat konflik rasial di Amerika Serikat pada tahun 1990an.

Permainan garis membutuhkan ruangan yang luas untuk keleluasaan siswa dalam bergerak. Sementara ruang kelas di sekolahku sempit, hanya berukuran 9 x 6 meter. Itu pun sudah dipenuhi oleh satu buah lemari kayu dua pintu, satu buah meja dan kursi guru yang besar, 40 meja dan kursi siswa. Tentu sulit bagiku untuk menerapkan metode permainan garis kecuali meja dan kursi siswa di singkirkan.  Ku coba memikirkan jalan keluarnya, sampai ku dapatkan ide untuk melakukan permainan “letter U”, maka di awal pelajaran para siswa memulai dengan permainan tiga menit membentuk letter U  kursi dan meja di kelasnya.

Pemindahan kursi dan meja tersebut dilakukan melalui permainan “komunikasi dengan bahasa isyarat”. Sebelum memindahkan meja dan kursi, para siswa diperbolehkan untuk  merundingkan teknis memindahkan meja dan kursi, tetapi ketika aksi akan dilaksanakan maka tidak diperkenankan satu orangpun mengeluarkan suara kecuali menggunakan bahasa isyarat. Della, gadis hitam manis dan berkerudung dengan percaya diri berinisiatif memimpin. Secara cepat dia melakukan perundingan, mengambil spidol dan mulai menggambar U di whiteboard besar di muka kelas. Kawan-kawan sekelasnya segera mendekat ke whiteboard secara tertib dengan membentuk barisan setengah lingkaran tanpa dikomando. Terjadi begitu saja. Dari mulut mungilnya keluarlah penjelasan mengenai pembagian tugas, siapa melakukan apa.

Kemudian dengan hitungan mundur dari 3…2…1 maka bergeraklah seluruh siswa sesuai instruksi dari hasil perundingan tadi. Ada yang segera mengitung posisi dan segera memerintahkan beberapa teman menggunakan isyarat untuk menggeser beberapa meja, ada mengangkat kursi, ada yang mengamati posisi, ada yang mengitung ketepatan posisi, ada yang hanya melihat saja dan ada yang mengambil fungsi finishing merapikan posisi meja dan kursi. Semua memiliki tanggungjawab masing-masing. Semua sibuk bekerjasama menyelesaikan target dalam waktu cepat. Hasilnya sungguh luar biasa, kursi dan meja dapat dibentuk “U” dalam hitungan kurang dari tiga menit. Tersedialah ruang cukup lapang di tengah kelas yang memungkinkan permainan garis dilakukan di kelas tersebut.

Aku kemudian memasang garis lurus di tengah kelas dengan menggunakan lakban besar hitam, ukurannya sekitar 5 centimeter. Seluruh siswa diminta untuk berdiri di sisi kiri dan kanan garis. Beberapa siswa bertanya untuk apa garis itu. Aku kemudian memberitahu teknis permainannya. Guru akan melontarkan beberapa pertanyaan kepada para siswa yang jawabannya hanya “ya atau tidak.” Jika ya, maka para siswa diminta untuk maju menginjak garis hitam yang dibuat, tetapi jika jawabannya tidak maka para siswa diminta mundur meninggalkan garis hitam tersebut. Aku juga akan melontarkan beberapa pertanyaan kunci kepada siswa yang menjawab ya atau tidak tergantung situasi dan kondisi.

Aku memulai pertanyaan dengan hal-hal yang ringan. Pertanyaan awal mengenai selera  musik. Ketika aku menanyakan siapa yang suka mendengarkan musik, semua anak di kelas itu menginjak garis. Ketika aku tanya lebih lanjut tentang selera musik, tidak disangka ada enam siswa yang sangat menyukai musik dangdut–musik yang dinilai banyak remaja sebagai “kampungan”–.

Guru             : Mengapa kamu menyukai musik dangdut?

Christin         :“Enak music di dengar dan mendorong saya untuk berjoget”, jawabnya.

Peserta yang lain tertawa riuh. Aku agak terkejut atas selera musik Christin. Karena secara fisik, Christin sangat cantik, berhidung bangir, berdagu lancip. Tubuhnya langsing, berkulit putih dan berambut panjang bergelombang hingga melebihi bahunya. Penampilannya jauh dari “kampungan”. Inilah yang disebut selera. Aku kemudian menperdengarkan salah satu lagu dangdut terkenal dan meminta ke-enam siswa tersebut menebak judul dan penyanyinya.

Tiga siswa berteriak berbarengan termasuk Christin :

“Dangdut is the music of my country!

Penyanyinya Project Pop!”

Guru             : Kalian ber-enam adalah kelompok minoritas soal selera musik, apa tanggapannya?

Kemudian di jawab oleh salah satu siswa dengan penuh percaya diri.

Desi              : Tidak masalah karena selera orang atas musik berbeda-beda, dangdut lebih merakyat meski banyak yang bilang kampungan. Di ruangan ini kami minoritas soal selera dangdut, tetapi di luar sana kami mayoritas.

Tepuk tangan pun membahana di ruang kelas dan selanjutnya lagu Dangdut is the music of my country aku putarkan dan seluruh siswa ikut berjoget dan bernyanyi, tetapi yang paling semangat berjoget adalah keenam siswa tadi. Apalagi Christin dan Desi, goyangannya benar-benar enak untuk dinikmati. Sangat luwes dan pas dengan irama musiknya. Betul-betul penggemar musik dangdut. Suasana tercipta begitu hangat dan penuh canda serta tawa.

Setelah lagu berakhir dan kelas kembali hening. Suasana kelas sudah demikian cair. Aku pun mengajukan pertanyaan yang lebih serius. Aku mulai bertanya apa agama yang dianut oleh para siswa. Mayoritas siswa beragama Islam, hanya tiga yang Protestan, satu  beragama Katolik dan Hindu, tak ada yang Budha. Tapi yang menarik di kelas ini adalah satu anak beragama Konghuchu. Dengan langkah pelan, penuh keraguan dan sedikit kikuk anak itu menginjak garis, seorang anak laki-laki, bermata sipit, berambut kaku dan agak berdiri, dan berwajah bulat. Tubuhnya sedikit gemuk, berkulit putih dan memiliki tinggi sekitar 160 centimeter. Andri Wijaya namanya.

Aku mendekatinya dan bertanya : “Mengapa kamu tampak ragu untuk melangkah maju tadi?”.

Andri            :  Selama ini saya mengaku beragama Protestan, jadi saya ragu.

Guru             : Mengapa kamu mengaku sebagai Protestan padahal kamu beragama Konghuchu?

Andri            : Karena saya khawatir akan jadi minoritas di sekolah ini.

Guru             : Mengapa kamu khawatir? Memang apa yang kamu pikirkan?

Andri            :Dari TK sampai SMP saya bersekolah di sekolah swasta yang di tempat itu saya tidak sendiri meski bukan mayoritas, tapi saya merasa nyaman mengakui agama saya. Di sekolah negeri seperti SMA 13 saya pasti satu-satunya orang yang beragama Konghuchu”.

Guru             : Mengapa Protestan yang kamu pilih?

Andri            :Karena jumlah siswanya juga tidak banyak,

selain itu gurunya sangat baik. Kalau pilih Islam, saya tidak bisa membaca Al-Quran, kalau baca Injil bisa karena dalam bahasa Indonesia.

Guru             :Mengapa kamu merasa takut menjadi minoritas, sampai rela belajar lain?

Andri            :Saya tidak tahu, cuma perasaan takut saja yang saya rasakan, mungki karena orangtua saya juga sudah berpikir negatif jika saya bersekolah  di negeri dan berada di lingkungan  yang mayoritas Islam.

Guru             :Apakah sebelum bersekolah di sini kamu atau keluargamu pernah

mengalami kekerasan saat ada konflik karena agamamu?

Andri            :Ya, kakek nenek saya, tapi saya tidak pernah mengalami.”

Guru             : Apa yang dialami kakek atau nenekmu?

Andri            :“Di bakar tokonya”.

Anak itu tampak menunduk. Siswa yang lain terlihat ikut terdiam, entah apa yang mereka pikirkan, aku mendiamkan saja kondisi ini beberapa saat. Dari jarak sekitar satu meter aku melihat  ada siswa yang terdekat dengan Andri mencoba memeluk pundaknya.

Aku  menarik nafas dalam-dalam beberapa saat. Tibalah saatnya memasuki ranah sensitif. Aku menarik kembali nafas panjang sambil memandang para siswaku yang terlihat menanti pertanyaanku selanjutnya. Aku perlu menguatkan tekadku bahwa bahasan ini harus didiskusikan dengan para siswa. Kini tibalah saatnya membahas pertanyaan yang sangat sensitif, yaitu tentang Front Pembela Islam (FPI).

Guru             : siapa  yang tahu soal FPI?

Semua siswa yang berjumlah 40 orang maju menginjak garis.

Guru             : Siapa yang setuju dengan sepak terjak FPI selama ini?

Tigapuluh sembilan siswa mundur dari garis,  1 orang tetap menginjak garis.

Tiba-tiba dalam keheningan terdengar suara

Ekky             : Sepak terjang yang mana bu, kalau yang berkaitan dengan Ahmadiyah saya setuju?

Guru             : Apa yang membuatmu setuju atas tindakan FPI atas Ahmadiyah

Ekky             : Karena Ahmadiyah ajarannya sesat.

Guru             : Mengapa ajarannya kamu katakan sesat?

Ekky             :Karena Ahmadiyah tidak mengakui Nabi Muhamad sebagai nabi terakhir, mereka mengakui Mirza sebagai Nabi terakhir.

Guru             : Apakah manusia berhak menilai sesat atau tidaknya suatu agama?

Ekky             :Bisa bu, berdasarkan keyakinan nurani kita dan kitab suci yang kita yakini kebenarannya.

Guru             :Bukankah kaum Ahmadiyah pasti juga berpikir sepertimu soal kebenaran agama dan keyakinannya?

Ekky             : Ahmadiyah seharusnya jangan mengaku Islam, tapi jadilah agama yang lain.

Guru             : Mengapa harus demikian, apakah kita tidak bisa hidup berdampingan

meski berbeda agama?

Ekky             :Boleh saja, tapi jangan Islam dong!

Guru             :Jadi, kalau mereka tidak mengaku sebagai Islam, maka kamu dan FPI

dapat hidup berdampingan dengan Ahmadiyah?

Ekky             :Iya! Jawabnya tegas.

Guru             :Siapa diantara kalian yang setuju dengan pemikiran Ekky?

Lima siswa menginjak garis.

Guru menanyakan kepada kelompok yang tidak maju, mengapa kelompok tersebut tidak setuju dengan pemikiran Ekky?

Vero             :Saya tidak setuju pada pernyataan Ekky yang menganggap bahwa manusia berhak menilai dan menentukan kesesatan suatu agama. Kalau dia sebagai Islam saja minta Ahmadiyah ganti agama karena dianggap sesat, berarti dia pun akan menganggap agama saya (Protestan) lebih sesat lagi, walau dia tidak pernah mengatakan itu kepada saya.

Guru             : Mengapa Manusia tidak berhak menilai sesat atau tidaknya agama orang lain?

Vero             : Karena menurut saya, hanya Tuhan yang berhak menilai sesat atau tidaknya suatu  agama atau keyakinan seseorang. Itu merupakan urusan privat, urusan ke atas (vertical,penulis) antara manusia sebagai makhluk pribadi.

Guru             :Siapa yang setuju pada pendapat Vero?

Firdha           :Saya setuju dengan Vero. Karena Nabi Muhamad saja pada masa pemerintahannya membuat piagam Madinah dengan para pemuka agama yang berbeda saat itu sebagai jaminan hidup berdampingan antar agama yang berbeda. Itu artinya dalam Islam kita memang harus membangun budaya toleransi dan mau hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama yang berbeda.

Guru             : Bagaimana pendapatmu mengenai Ahmadiyah yang mengaku Islam?

Firdha           : Kalau Ahmadiyah mengaku Islam saya rasa tergantung kita saja menanggapinya, kalau saya sih berpatokan pada pernyataan Nabi Muhamad menjelang wafat, beliau mengatakan umatku akan terbagi atas 70 aliran, mungkin Ahmadiyah salah satunya.

***

Di kelas yang lain lagi juga ditemui hal yang tak kalah menariknya. Saat saya melontarkan pertanyaan: “Siapa diantara kalian yang tidak setuju pada kekerasan yang dilakukan oleh pihak manapun terhadap kelompok Ahmadiyah?”

Tigapuluh delapan siswa maju dan hanya satu orang yang tidak menginjak garis.

Guru             : Mengapa kamu setuju pada kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah?

Renaldy        : Karena mereka sesat, dan sudah di beri peringatan tetapi tetap ngotot pada keyakinannya, padahal MUI (Majelis Ulama Indonesia, penulis) dan banyak pihak di beberapa negara juga menganggap Ahmadiyah sesat.

Guru             :Jika Ahmadiyah dikatakan sesat, apakah dibenarkan mengusir mereka dari rumahnya? Merampas harta bendanya? Membakar rumah ibadahnya? Membatalkan perkawinannya secara hukum? Menganiaya dan bahkan membunuhnya?

Satu orang dari kelompok yang tigapuluh delapan orang menginjak garis menyatakan pendapatnya.

Saras           : Menurut saya tidak dibenarkan bahkan seharusnya negara mencegahnya dan melindungi kelompok Ahmadiyah.

Guru             :Mengapa negara harus melindungi?

Saras           :Karena semua yang Ibu sebutkan tadi adalah bentuk-bentuk pelanggaran HAM, apapun alasannya kita tidak boleh menyiksa, membunuh, mengusir dan merampas harta orang lain.  Negara harus menjamin dan melindungi HAM warga negaranya”.

Della             :Iya bu, saya setuju dengan pernyataan Saras, karena semua tindakan yang tadi ibu sebutkan terkait kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah adalah tindakan criminal. Oleh karena itu, sebagai negara hokum, negara harus menegakan hukum, siapapun yang bersalah harus dihukum dan yang tidak bersalah harus dilindungi.

Guru             : Pada bagian yang mana dalam konstitusi kita yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah?

Della             : landasannya adalah pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945 tentang kebebasan beragama dan beribadah yang dijamin konstitusi, hukum tertulis tertinggi di negeri ini.

Di kelas yang lain lagi, pertanyaan aku ganti dengan penyerangan FPI ke kelompok HKBP di Bekasi. Saat ada seorang anak yang melontarkan persetujuan atas pelarangan pendirian rumah ibadah dengan alasan hanya ada tiga keluarga di sana yang beragama kristen, ramai sekali tanggapan terkait polemik ini, ada pro dan kontra. Ketika bahasan terasa berlarut-larut maka ada seorang siswa yang beragama Islam dan pernah tinggal di Belanda selama enam tahun menyatakan pandangannya berdasarkkan pengalaman sebagai minoritas.

Aditya           :Di Belanda saya dan keluarga adalah minoritas karena kami

muslim. Namun, selama tinggal dan bersekolah di Belanda saya tidak pernah cemas sebagai minoritas.

Guru             : Apakah selama kamu di Belanda pernah ada peristiwa yang hampir serupa dengan masyarakat Cibenting Bekasi yang menolak pembangunan rumah ibadah?

Aditya           : Seingat saya tidak pernah. Soal pendirian gereja di Bekasi itu, saya sebagai muslim akan mendukung pendirian itu, karena saya menyadari pernah menjadi minoritas. Di Belanda, gereja ada dimana-mana, seperti halnya masjid ada dimana-mana jika di Indonesia. Namun, di Belanda jarang ada masjid karena memang Islam minoritas.

Guru             : Lalu bagaimana cara kamu dan keluarga beribadah. Misalnya sholat taraweh, Iedul Fitri atau Iedul Adha?

Aditya           :Kalau sholat tarawih, kami sekeluarga harus melakukan di rumah karena tidak ada masjid di dekat lokasi tempat tinggal kami. Kalau sholat ied, maka kami harus ke Den Haag, yang berjarak lebih dari 200 Kilometer dari tempat tinggal saya. Meski jauh, tapi waktu tempuh dengan Kereta Api hanya sekitar 2 jam dari rumah saya, dan jika itu jatuh pada hari senin-jumat maka kami tidak libur, tapi kami diperbolehkan datang terlambat ke sekolah.

Guru             : Lalu apa kaitan ceritamu dengan kasus masyarakat Cibenting Bekasi yang menolak kehadiran gereja HKBP di sekitar tempat tinggalnya?

Aditya           :Islam di Indonesia sembilan puluh persen, sementara kristen dan agama lainnya hanya sepuluh persen, maka wajar jika yang beribadah ke gereja tentu saja orang yang jarak rumah jauh-jauh dari gereja itu, seperti ketika saya sholat ied di Den Haag. Jadi tak ada alasan melarang mereka mendirikan gereja di lokasi yang dipermasalahkan tersebut.”

Dialog  panjang dengan Aditya ternyata mendapat tanggapan dari siswa lain.

Fadly            : Itu kan untuk kasus sholat iedul fitri yang hanya setahun sekali. Kalau

umat kristen atau katolik yang mendirikan gereja di tengah kelompok muslim  beribadahnya tidak cuma setahun sekali, tapi seminggu sekali. Jadi ya menganggu dong!

Pernyataan tersebut dibantah siswa yang lain lagi.

Dewi             : Menurut saya, bukan soal seminggu sekali atau setahun sekali, tetapi

rasa nyaman yang dirasakan Aditya di Belanda substansinya adalah karena masyarakat Belanda menghargai mereka yang berbeda keyakinan.

Fadly tampak ingin kembali membantah pernyataan Ika, namun  sayangnya bel tanda istirahat sudah berdering. Pembelajaran selesai, tetapi beberapa siswa tampak kecewa karena belum kebagian bersuara. Aku meminta setiap siswa untuk merenungkan setiap dialog dalam permainan ini, minggu depan akan kita diskusikan untuk kemudian ditarik kesimpulan.

***

Setelah pembelajaran, aku berkali-kali merenung. Terus terang saya sangat kaget mendengar jawaban-jawaban para siswaku. Mungkin banyak siswaku yang sebenarnya belum  mengenal istilah “multikultural”. Namun bagiku ini tidak menjadi masalah berarti –karena bisa jadi mereka  mungkin ada yang belum pernah mendengar dan mempelajarinya–, namun yang mengejutkan adalah banyak diantara mereka sudah berpikir plural. Bahkan  proses pembelajaran ini kemudian menjadi gerbong untuk membangun proses berpikir siswa lain yang mungkin awalnya belum multikultural cara berpikirnya kemudian menjadi berubah pandangannya.

Aku menyakini jika guru memiliki pemahaman, sikap dan perilaku multikultural pasti dengan sungguh-sungguh dia tidak akan ragu melakukan pendidikan multikultural di kelasnya. Guru seharusnya galau melihat situasi Indonesia belakangan ini, dimana masyarakat kita melakukan tindak kekerasan karena tidak mau menerima keberagaman agama –sebagai contoh, terjadi penyerangan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik yang menewaskan tiga orang, pembakaran tiga gereja pantekosta di Temanggung, penyerangan pesantren yang beda aliran dan ajaran di Jawa Timur. Menyusul kemudian  serangkaian teror bom buku yang di kirim ke JIL (Jaringan Islam Liberal), termasuk ke artis Achmad Dani yang disinyalir sebagai Yahudi. Juga terjadi bom bunuh diri yang diledakkan ketika umat melangsungkan ibadah shalat Jumat di Masjid Az-Dzikra Mapolres Cirebon.

Belum selesai kesedihan masyarakat atas peristiwa bom di Malpores Cirebon, suasana kembali dicekam Kasus bom bunuh diri di Solo yang diduga masih ada kaitannya dengan bom di Cirebon. Di Solo, terjadi teror bom bunuh diri pada Minggu 25 September 2011 di Gereja Katolik, wilayah Laweyan, Solo (Jawa Tengah). Korban luka-luka pun berjatuhan. Bahkan di Solo ada satu korban tewas dan banyak yang mengalami luka berat. Simbol agama dan hukum negara ini kembali tercederai oleh tindakan biadab. Rentetan peristiwa tersebut tentu saja membuat kita semua  gundah,  mengoyak rasa kemanusiaan dan menambah panjang katalog kekerasan massa di Indonesia.  Segala kegalauan dan kegundahan ini tentu saja memacu adrenalinku sebagai guru untuk mengubah pola pikir dan menanamkan kesadaran anak didik untuk menerima segala perbedaan dalam masyarakat kita yang majemuk.

Jika kita sebagai guru memiliki pemahaman, sikap dan perilaku multikultural pasti kita dengan sungguh-sungguh akan melakukan pendidikan multikultural di kelas kita. Kita pasti galau melihat situasi Indonesia belakangan ini, dimana masyarakat kita melakukan berbagai tindak kekerasan karena tidak mau menerima keberagaman. Kita pun akan gundah menyaksikan pemerintah daerah mengeluarkan berbagai peraturan daerah (perda) yang mendiskreditkan perempuan, yang melarang keberadaan Ahmadiyah dan menyerang penganut Ahmadiyah. Juga ada perda yang mensyaratkan kemampuan membaca Al-Quran untuk jabatan tertentu, dan lain sebagainya. (Retno Listyarti/RL)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Kreativitas Pembelajaran. Bookmark the permalink.

7 Responses to Metode Permainan Garis : Sebuah Pengalaman Mengangkat Isu Sensitif Dalam Pendidikan Multikultural dan anti Kekerasan Di Ruang Kelas

  1. good posting! dan sangat menginspirasi

    salam
    Omjay

  2. Sriayu says:

    Bravo Bu..! Keren..
    Jujur saya mengakui dibutuhkan kecerdasan, ketrampilan dan kebijaksanaan dalam menerapkan metode ini.
    Salam Pendidikan

  3. Jimmy Philip aat says:

    Salam Perjuangan,
    Saya baru saja sempat masuk ke Blog Mbak Retno. MENARIK !!
    Saya ada sedikit catatan mengenai di Tulisan Permainan Garis (yang mengingatkan kita pada film yang selalu kami KOALISI PENDDIKAN dan STB gunakan ketika berdiskusi dengan para guru), tepatnya ketika ada dialog antara enam siswa yang suka musik dangdut. Seandainya bagian ini dijelaskan secara sosiologis mungkin akan lebih menarik. Pertanyaan seperti : Mengapa di sekolah yang penuh dengan anak-anak dari kelas menengah, menengah atas begitu sedikit pecinta musik dangdut, padahal diakui oleh para siswi-a sekelas di luar kelas pecinta musik tersebut mayoritas ? Pertanyaan seperti ini mau tidak mau akan membawa para siswi-a melihat pengetahuan yang dipakai di kelas, di sekolah. Dan bahkan para siswi-a akan mencapai ke pertanyaan : Pengetahuan siapa yang diberikan di sekolah?

    Salam Perjuangan,
    jphp

    • Terimakasih pa Jimmy, senang sekali mengetahui pa Jimmy memembaca blog saya.
      Terimakasih juga untuk komentar pa Jimmy, masukannya akan saya kembangkan pada pemblajaran berikutnya

      Salam perjuangan
      RL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s