Wawancara Tertulis Retno Listyarti untuk majalah “Educare” dan “Teachers Guide”

Bagaimana awal tertarik memulai karir menjadi guru?  Motivasi menjadi guru dan latar belakang pendidikan? Saya ingin menjadi guru sejak saya masih SMA,  ini cita-cita, saya memang ingin mengajar. Pilihan saya menjadi guru civic karena saya menyukai politik dan saya menyadari bahwa guru dapat menjadi agen pengubah kepada para siswanya. Saya dibesarkan dalam lingkungan yang kurang beruntung  secara ekonomi, tetapi saya bersyukur bisa bergabung dengan lingkungan (kelompok) yang  membangun daya kritis saya dan mengasah talenta menulis saya, kelompok itu bernama “Kelompok Ilmiah Remaja Jakarta Utara (KIRJU)” di Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU) yg saya tekuni ketika masih SMA—saat kuliah saya aktif di Litbang SM FPIPS dan pers mahasiswa “Didaktika”. Benang merah perubahan dalam  hidup  saya dimulai dari kelompok kecil ini. Di era tahun dalam 80an—ketika rezim orde baru masih kuat mengukung kebebasan warga negara— saya diajarkan melakukan “perlawanan” melalui berbagai arena diskusi, berbagai referensi yang justru di larang oleh penguasa saat itu, berlatih menuliskan ide/gagasan, dan berlatih meneliti serta menulis laporan penelitian. Dari arena terbatas inilah keinginan saya menjadi guru tumbuh, keinginan untuk menjadi guru yang pejuang.

Adapun Pengalaman mengajar saya yaitu, saya pernah mengajar di SMA Labschool Rawamangun (1994-1997), kemudian menjadi guru PNS di SMPN 69 Jakarta Barat (1997-2000), sampai akhirnya mengajar di almamater saya sendiri yaitu SMAN 13 Jakarta (2000 s.d. sekarang). Sedangkan Latar belakang  pendidikan : S1 IKIP Jakarta (S1) dan S2 Universitas Indonesia (2007)

Sebagai seorang guru, apa idealisme ibu, apakah ibu Retno punya metode pengajaran tersendiri atau inovasi? apakah menurut ibu penting bagi seorang guru mempunyai metode pengajaran sendiri? Pendidikan buat saya seharusnya bertujuan untuk “Mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan”. Mempertajam pikiran berarti pendidikan bukan untuk menghafal, mentransfer pengetahuan, bukan hasil tapi  sebuah proses pembelajaran. Pendidikan harus membangun kehalusan perasaan berupa : rasa empati, simpati dan kepedulian atas berbagai ketidakadilan dalam masyarakat.  Ini adalah pemikiran yang muncul setelah saya membaca berbagai tulisan Tan Malaka, Paolo dan Mochtra Buchori. Kalau istilah pak Mochtar, huru jangan hanya ngurusin mikro (sebatas ruang kelas), tapi guru juga harus bicara, berpikir dan bertindak secara makro (menembus batas ruang kelas, bicara politik, kritisi kebijakan dan berbagi keresahan atas masa depan bangsanya).

Berdasarkan idealisme itu, maka dalam proses pembelajaran, saya memiliki inovasi dalam praktek kelas. Bagi saya, penanaman nilai-nilai humanisme, anti korupsi, anti kekerasan, multikultural, dan lain-lain tidak dapat diajarkan hanya dengan metode ceramah. Diperlukan multi metode dan multi media untuk menanamkan nilai tersebut. Metode dan media yang kerap kali saya pergunakan diantaranya adalah : Metode analisis kasus dengan media film, analisis kasus dengan media artikel dari mass media, analisis konsep dengan media pameran, bermain peran, menciptakan “lagu, puisi,  skenario drama”, diskusi dan debat

Apa suka dukanya menjadi guru?

Kepuasan batinlah yang saya dapatkan, setiap saya berjuang—baik ketika melawan Akbar Tanjung di Pengadilan perdata tahun 2005 (karena kasus buku yang saya tulis), juga ketika saya memimpin perlawanan terhadap keputusan Gubenur DKI Jakarta yang mendiskriminasi tunjangan guru tahun 2010— banyak orang yang mendukung saya (ini sangat membahagiakan dan menjadi amunisi yang memperkuat saya), namun tak sedikit yang mencibir, menyalahkan saya, menjauhi saya, bahkan menaruh prasangka atas perjuangan saya (ini mungkin dukanya). Namun, setiap kali memenangkan “pertempuran” maka segala kegalauan dan kesedihan –atas sikap negatif orang terhadap saya—langsung hilang, berganti dengan gelora semangat dan kepuasan batin. Sulit saya menggabarkan kebahagian dan kepuasan batin yang saya rasakan. Tapi yang pasti, setiap berjuang, kalah atau menang, selalu menambah kekayaan pengalaman saya dan membuat saya semakin “militan”.

Yang membuat saya bahagia dan yang membuat saya sedih adalah :

Saya bahagia ketika ada individu atau kelompok yang menghargai perjuangan kami (saya dan kawan-kawan guru), baik hanya sekedar mengucapkan terimakasih maupun memberi apresiasi lebih dari sekedar terimakasih. Saya juga bahagia ketika apa yang kami perjuangkan berhasil. Kalau berhasil, maka semua kelelahan dan  kekesalan (karena jarang kawan guru mau berjuang, rata-rata hanya titip doa) langsung hilang, berganti dengan kebahagiaan dan keikhlasan.

Bagaimana ibu Retno melihat kondisi guru dan pendidikan saat ini? banyak orang menilai banyak guru yang tidak profesional karena tidak mau mengembangkan diri, dan tertinggal secara pengajaran maupun penguasaan teknologi? Kalau menggunakan pandangan konvensional (umum), guru profesional adalah yang guru yang menguasai materi pelajaran dan mampu menyampaikannya dengan baik kepada para siswanya. Sedangkan menurut adalah guru yang menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam. Ke-2 pandangan itu kemudian memunculkan 2 tipe guru, yaitu guru tipe penerus pengetahuan (guru pakar) yang selalu berinovasi dalam pembelajarannya; dan tipe guru pembimbing, guru yang perhatiannya lebih tertuju ke masalah siswa daripada ke masalah materi pelajaran.   Jika menggunakan 2 pandangan ini, menurut saya sebagian besar  guru sudah profesional. Ini kan trgantung cara pandang kita. Kalau bagi saya, 2 tipe ini benar-benar masih bicara pendidikan dan mutu guru dari sudut pandang mikro (sebatas ruang kelas), padahal guru bukan pentransfer ilmu, tapi merupakan agen perubahan.

Apakah ibu Retno terlibat dalam organisasi guru dan adakah penghargaan yang ibu raih sebagai guru?

Ya, Saya aktif dalam organisasi guru. Organisasi guru lokal saya Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) saya menjabat sebagai ketua umum, dan di organisasi guru nasional Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) saya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Adapun rencana saya 3 – 5 tahun ke depan adalah :

Pertama, Membesarkan FSGI. Saya ingin membangun organisasi guru yang kuat,  terutama di level nasional. Hal ini berangkat dari keresahan saya akan kondisi organisasi guru yang ada selama ini. Organisasi guru selama ini tidak mampu memiliki posisi tawar yang tinggi dan sederajat atas berbagai kebijakan pendidikan di Indonesia.  Organisasi guru selama ini cenderung menjadi legitimasi atas berbagai kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Mungkin butuh waktu 5 – 10 tahun untuk membangun organisasi guru yang kuat.

Kedua, Membesarkan komunitas guru Civic (Pendidikan Kewarganegaraan). Saya memiliki obsesi membangun komunitas guru civic atau guru PKn (istilah di Indonesia), tujuannya membangun kapasitas guru PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Guru PKn menurut saya harus mendidik siswanya untuk “Tajam dalam berpikir dan halus  perasaannya”, sehingga guru  PKn harus memiliki sikap dan perilaku toleran, multikultural, demokratis, menjunjung tinggi HAM dan humanisme— karena para guru harus (yakin) menanamkan semua nilai positif tersebut, tentu saja hanya akan menjadi agen pengubah jika si guru sudah memiliki nilai-nilai itu. Obsesi ini lahir ketika saya memiliki keresahan menyaksikan MGMP (Musyawarah Guru  Mata Pelajaran) PKn yang  tidak lagi berfungsi membangun kapasitas guru semacam itu.

Ketiga, Menulis buku (umum). Dari dulu saya bercita-cita menjadi guru yang menulis. Sebagian obsesi itu sudah tercapai, tapi masih sebatas menulis buku pelajaran, tahun depan saya harus menyelesaikan buku “umum” saya. Saya sedang menyusun buku tentang kisah perjuangan yang saya lakukan, baik secara individu maupun secara kelompok, cukup seru pengalaman ini, saya berharap dapat menjadi inspirasi bagi para guru untuk berani berjuang.

Keempat, Melanjutkan Kuliah S3 : saya ingin kuliah di jurusan Filsafat pendidikan, saat ini saya sedang mencari ide untuk menulis proposal (disertasi) sebagai syarat mendapat beasiswa. Saya sudah bulatkan tekad untuk menekuni masalah-masalah pendidikan. Penghargaan yang pernah saya raih :Pemenang citi succes fund dari City Bank (2004); Penerima Award dalam bidang science dari Toray Foundation Japan (2004); Pemenang Go Green School dari Yayasan Kehati (2005); Penerima Award sebagai tokoh pendidikan dari PKS (2007); Juara 1 Lomba Karya Tulis “Kata Mutiara Bung Karno” dari PDIP (2010); Juara 1 Lomba Karya Tulis Lingkungan dari Pertamina (2011); Juara 1 Lomba Karya Tulis Konstitusi dari Mahkamah Konstitusi (2011)

Apa Harapan ibu Retno terhadap guru dan pendidikan indonesia ke depan?Inti perjuangan saya selama ini adalah “mendorong terwujudnya pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan di Indonesia”, ini merupakan gagasan yang besar yang tidak mungkin dilakukan sendirian.  Saya memandang pendidikan secara makro. Langkah awal yang kemudian saya lakukan adalah membangun kapasitas guru, baik daya kritis guru maupun kapasitas dalam praktik mengajar. Tentu ini tidak mudah—mengingat depolitisasi terhadap guru telah berlangsung selama 32 tahun–. Namun, saya merasa harus memulai menjadi “guru yang berbeda”, guru yang berani melawan ketidakadilan—berbagai diskriminasi dalam segala bentuk, guru yang akan mengajak siswanya untuk berbagi keresahan akan kondisi negeri ini; guru yang akan mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan murid-muridnya. Saya yakin bahwa guru adalah sebuah kekuatan raksasa untuk mengubah negeri ini, namun sayangnya para guru Indonesia merupakan raksasa yang tertidur sangat lelap —saking lelapnya sampai tidak terbangun meski memperoleh berbagai gangguan  berat apalagi ringan—, benar-benar terlelap hingga tak bergerak –tak melawan– meskipun  didiskriminasi, diintimidasi, bahkan ditindas.  Menerima begitu saja perlakuan dari birokrasi pendidikan yang berkolaborasi dengan kekuasaan tanpa membantah, tanpa melawan dan tanpa memberontak. Karena dia juga pengecut maka dia pun (para guru) tidak pernah mengajak muridnya untuk berani menegakan kebenaran dan keadilan, apalagi mengajak untuk menjadi pemberontak. Kondisi guru  Indonesia yang seperti ini,   tentu saja penghambat utama dalam mewujudnya pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. Apa kita akan menunggu  sampai terjadinya Revolusi  setelah keadaan Indonesia seperti di Libya, Mesir, Bahrain dan Yaman?  Di negara-negara tersebut, Pemerintah mengabaikan pendidikan, sehingga menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi, tingginya pengangguran, dan tingginya angka penduduk yang buta aksara, serta tingginya angka kemiskinan.

Seberapa banyak teman Guru yang mau mendukung  perjuangan Anda? Takutkah mereka dekat dengan Anda, takut dianggap sebagai ‘pemberontak’ juga?

Sebenarnya lebih banyak yang mendukung dan bersikap positif atas berbagai  upaya perjuangan saya, dibandingkan yang negatif. Bahkan kawan-kawan yang positif pun kerap membela saya ketika si negatif berkoar-koar menyerang di belakang saya. Sebagian besar rekan-rekan di sekolah saya akrab bahkan kerap menjadikan saya sebagai sumber informasi dalam banyak hal – — dan yang tidak suka terhadap saya biasanya tidak pernah terbuka langsung, dihadapan saya mereka ramah–. Yang jelas, saya dianggap musuh oleh birokrasi pendidikan dan individu-individu yang ambisi atas jabatan tertentu. Bahkan dalam komunitas MGMP (Musyawaragh Guru Mata Pelajaran) PKn –mata pelajaran yang saya ajarkan—sekarang ini beberapa pengurus sangat tidak bersahabat dengan saya, terutama mereka-mereka yang menjadikan MGMP sebagai batu loncatan untuk menjadi Kepala Sekolah— ironis, padahal MGMP semestinya dijadikan sebagai wadah membangun kapasitas guru, makanya saya punya obsesi—sekarang sedang saya rintis–, yaitu membentuk Ikatan Guru Civics— yang cerdas, berwawasan, kreatif, inovatif dan berjiwa pejuang.

Kompetensi pribadi yang semakin berkembang seiring dengan kegiatan saya sebagai aktivis:

Pertama, Kompetensi menulis, karena di organisasi guru yang saya dirikan — baik Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) yang berskala lokal DKI Jakarta, maupun yang berskala nasional yaitu Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI)— menuntut saya selalu menulis— mulai dari proposal, rilis media, sampai membuat paparan dari kajian yang didiskusikan bersama. Hal ini di karenakan masih rendahnya kemampuan kawan-kawan guru dalam menulis— mayoritas kawan-kawan saya kritis, namun baru sebatas oral (bicara), belum biasa menulis,  hanya beberapa orang saja yang memiliki kemampuan menulis, tetapi kawan-kawan mulai mau belajar menulis—memang, umtuk bisa menulis  harus mulai mencoba menulis–, kami semua terus belajar.

Kedua, Kompetensi berbicara dan berdiskusi. Ternyata banyak kawan guru yang memiliki kemampuan mengkaji  berbagai peraturan  perundangan, banyak kawan guru yang mengetahui data lapangan yang sebenarnya tentang kondisi pendidikan, semua ini dibangun bersama melalui diskusi rutin, saling berbagi, dan saling menguatkan serta mulai belajar mengenai berbagai persoalan pendidikan di Indonesia, mulai membangun keberpihakan pada kelompok marginal.

Ketiga, Kompetensi mengorganisir kelompok. Banyak membantu guru yang bermasalah—mulai dari masalah TKD, Sertifikasi, sampai masalah pelecehan seksual, dll—.  Saya jadi tahu strategi advokasi. Ini merupakan kekayaan pengalaman yang luar biasa. (Retno Listyarti)

Catatan: semua hasil wawancara ini sudah dimuat di kedua majalah tersebut pada tahun 2011.

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Buku Perjuangan organisasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s