Sekolah Siasati Dana UN

Sumber dari http://cetak.kompas.com/read/2012/01/19/03070174/sekolah.siasati.dana.un

Jakarta, Kompas – Sekolah mesti bersiasat untuk menutupi biaya penyelenggaraan ujian nasional. Hal ini disebabkan anggaran penyelenggaraan ujian nasional dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah terbatas serta tidak menanggung semua kebutuhan.
”Memang ada bantuan dana ujian nasional (UN) dari pemerintah pusat untuk ujian kompetensi siswa. Tetapi, untuk semua bidang keahlian, besar dana dipatok sama, padahal kenyataan di lapangan tidak sama. Sekolah akhirnya harus punya dana untuk menutupi kekurangan,” kata Armedi, Kepala SMKN 54 Jakarta, Rabu (18/1).
Semisal uji kompetensi keahlian tata boga tentu memerlukan dana yang lebih besar untuk membeli bahan masakan. Sebaliknya, uji kompetensi sekretaris hanya membutuhkan alat praktik sederhana, seperti kertas.

Sejumlah pemimpin sekolah negeri mengatakan tidak memungut tambahan dana dari siswa untuk persiapan dan penyelenggaraan UN. ”Kalau di SMA, sekolah masih bisa memungut lewat iuran sekolah, yang diurus komite sekolah. Dana itulah yang sebagian dialokasikan untuk kebutuhan UN,” kata Hartono, Kepala SMAN 12 Bandung.
Menurut dia, biaya penyelenggaraan UN memang besar. Untuk itu, alokasi dana UN sudah dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah setiap tahun. ”Iuran bulanan siswa kelas XII sudah dialokasikan untuk kebutuhan UN, mulai dari pemantapan, try out, hingga hari pelaksanaan,” ujar Hartono.

Menurut dia, dibukanya peluang partisipasi masyarakat di jenjang SMA cukup membantu sekolah. ”Jika nanti ada kebijakan BOS untuk SMA, jangan sampai menutup peluang partisipasi masyarakat. Pemerintah harus benar-benar jujur dalam menghitung besarnya biaya pendidikan tiap siswa. Nanti bisa dilihat apakah pemerintah sanggup menanggung semuanya atau tidak,” ujar Hartono.

Tidak dipungut langsung
Retno Listyarti, guru SMAN 13 Jakarta, mengatakan, penyelenggaraan UN secara tidak langsung ditanggung masyarakat. Memang sekolah tidak memungut dana langsung untuk UN. Namun, katanya, biaya UN diperhitungkan dalam biaya iuran bulanan yang kemudian dialokasikan sekolah.
Di sekolah berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional ini, iuran bulanan Rp 600.000 per siswa. Selain untuk biaya pemantapan siswa menjelang UN, perlu juga diperhitungkan biaya pengawas dan konsumsi.

Kendala geografis


Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua James Modouw khawatir distribusi naskah soal ujian nasional akan terlambat mengingat kondisi geografis Papua yang sulit. Untuk itu, James meminta pemerintah pusat menyerahkan wewenang kepada pemerintah provinsi untuk mencetak soal di Papua. Namun, pengawasan tetap dilakukan pemerintah pusat. ”Dengan mencetak di Papua, distribusi bisa lancar karena mereka memahami kondisi geografis setempat,” kata James.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Chairil Anwar Notodiputro menegaskan, semua daerah boleh mengajukan proposal percetakan. Namun, proses tender tetap di tangan pemerintah pusat. ”Kalau Papua punya percetakan bagus, silakan. Tetapi, proses lelang tetap di pusat,” ujarnya.
Sebelumnya, Senin lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, lokasi percetakan naskah soal bisa di mana saja asalkan ada jaminan distribusi yang tepat waktu ke seluruh Indonesia. ”Yang penting distribusi tidak terlambat dan percetakan harus memenuhi syarat, antara lain sistem security printing,” ujarnya.
Sampai saat ini ada 300 proposal yang masuk untuk mengikuti proses tender pencetakan naskah soal ujian nasional. Adapun yang dipilih enam perusahaan. (ELN/LU

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Berita, Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s