Najis di Sentuh Koruptor

Najis di Sentuh Koruptor
Oleh : Retno Listyarti

“Bolehkah saya memilih menjadi uang, bu?”, kata seorang muridku saat ku minta untuk memilih peran yang bisa dilakukan bagi upaya pemberantasan korupsi yang sudah membudaya di Indonsia. Kenapa dia memilih menjadi uang? Padahal setelah menyaksikan bersama film  “korupsi” yang diproduksi Indonesia Corruption Watch (ICW), aku meminta para siswaku memilih peran sebagai Presiden, anggota DPR, Menteri Hukum dan HAM, ketua KPK, hakim Tipikor,  dan lain-lain. Tak habis pikir kenapa dia memilih menjadi “uang”? Setelah tertegun beberapa saat kemudian ku jawab dengan mantap “tentu boleh, silahkan!”

Pagi itu, kuawali pembelajaranku di kelas dengan menyaksikan film berjudul “Korupsi Sepanjang Masa” yang dibuat ICW. Film yang berdurasi 2 menit 20 detik tersebut berkisah tentang bagaimana korupsi di Indonesia sudah terjadi sejak Indonesia baru merdeka. Silih berganti penguasa tak membuat kondisi berubah, bahkan korupsi makin terbuka. Para penguasa justru berkolaborasi dengan para pengusaha untuk memuluskan korupsinya. Hampir semua lembaga pelayanan publik mulai dari kepolisian, departemen pendidikan, pengadilan bahkan departemen agama tak luput dari penyakit korupsi. Kondisi ini tentu saja makin membuat rakyat kecil semakin menderita.

Film ini ku pilih karena kebetulan dalam pembelajaran di bidang studi yang ku ampu ada standar kompetensi (SK) tentang menganalisis keterbukaan dan jaminan keadilan, dimana di dalamnya ada materi mengenai “dampak pemerintahan yang tidak transparan”. Ku pikir, percuma menyampaikan  materi mengenai pengetahuan tentang seluk beluk korupsi dan peraturan perundangan yang mengaturnya. Lebih baik kugunakan teknik yang lebih merangsang daya kritis siswaku untuk menggali gagasan mereka tentang upaya pemberantasan korupsi. Mereka adalah generasi muda pemilik masa depan, ditangan merekalah masa depan bangsa ini akan diperjuangkan. Jadi mereka harus ku dorong untuk memikirkan masalah bangsa ini.

Usai menyaksikan film tersebut ku buka forum tanya jawab di kelas. Para siswaku boleh menanyakan apa saja terkait film yang disaksikan, juga boleh berpendapat atau memberi kesan dari film yang disaksikan. Diskusi berlangsung sangat hangat dan menarik. Hampir seluruh siswa antusias dan terlibat aktif.

Ryan     : Bu, mengapa para presiden kita di era reformasi seperti Gusdur, Megawati, dan SBY tak  mampu mengurangi korupsi?
Guru    : Siapa yang mau menanggapi?
Friska    : Saya bu! Karena semua orang berpikir kepentingannya sendiri dan kelompoknya (baca: partainya) saja, bukan kepentingan seluruh rakyat.
Guru    : Mengapa kamu berpikir demikian? Apa alasanmu?
Friska    : Kalau mereka berpikir untuk kemakmuran dan kesejahteraaan rakyat mereka tidak akan korupsi. Lihat saja kasus tertangkap tangannya pejabat Kementrans menjelang Idul Fitri
2011, ternyata ada kaitannya dengan orang-orang PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Atau tertangkap tangannya sekretaris Menpora tentang kasus wisma atlet ternyata melibatkan    para petinggi partai Demokrat, mulai dari ketua umum, bendahara umum, sampai wakil  Sekjen.
Guru    : Bagaimana yang lain? Ada yang mau menanggapi Friska? Atau ada yang mau mengajukan pertanyaan?
Abu     : Saya mau bertanya bu! Kalau para pengusaha itu menyuap para penguasa untuk kepentingan bisnisnya, darimana uangnya? Dari dana proyek yang akan dia dapat atau dari  sumber lain?
Guru    : Siapa yang mau jawab?
Dhavid    : Menurut saya saat nyuap tentu pakai uang simpanan perusahaannya dulu, tapi nanti pasti diperhitungkan dari proyek yang akan diterimanya. Sebenarnya pengusahannya tidak rugi,
yang rugi rakyat karena mengurangi mutu barang yang di beli atau mutu bangunanan   yang akan dibangun.
Sri    : Berarti jahat banget dong tuh penguasa dan pengusaha….
Guru    : Kenapa kamu berpikir begitu Sri?
Sri    : Kalau uang proyeknya Rp 100 Milyar, terus nyuapnya Rp 20 M, keuntungan perusahaan Rp 20 M, maka sisanya Rp 60 M yang digunakan untuk membangun infrastruktur rakyat, misalnya jembatan, sehingga berdampak pada mutunya yang pasti akan di bawah standar karena pasir, semen, tiang, dan lain-lain dikurangi kualitas maupun kuantitasnya. Jembatan akan mudah rubuh dan berumur pendek. Pengguna jembatan rakyat, maka rakyatlah yang akan menanggung akibatnya (banyak yang meninggal) jika jembatan rubuh, seperti kasus di Kalimantan. Ini sama dengan pembunuhan, makanya saya bilang para pengusaha dan penguasa itu jahat!
Guru    : Bagus analisamu…… Masih ada yang mau bicara?
Cahya    : Bu, kenapa banyak anggota dewan (baca: DPR/DPRD), yang berpikir kepentingannya dan  kelompoknya saja, bukan kepentingan rakyat? Padahal mereka jadi anggota dewan kan di  pilih rakyat. Rakyat milih mereka sebagai wakilnya biar memperjuangkan kepentingan rakyat, tapi mereka kok kayak lupa sama fungsinya?
Wisnu    : Karena mereka saat mencalonkan diri juga sudah keluar banyak uang untuk beli suara, makanya pas jadi anggota dewan berpikirnya balik modal!
Ana    : Bukannya gaji dan tunjangan anggota dewan sudah besar? Masak ga  bisa balik modal?
Yudhi    : Mungkin modalnya lebih besar dari gaji dan tunjangan yang diterimanya
Dinda    : Barangkali juga memang serakah padahal sudah berlimpah
Fajar    : Mungkin juga bukan buat dianya tapi buat partainya
Icha    : Ya ga mungkin buat partainya saja, pasti dianya juga ikut menikmatilah
Angga    : Wah…. bisa hancur dong negeri ini kalau isinya gedung rakyat  kebanyakan orang kayak gitu! Gimana mengubahnya nih?
Nia    : Kayaknya sulit mengubahnya, karena dari atas sampai ke bawah kelakuannya sama. Korup semua, sampai mau jujur saja sulit di negeri ini!
Guru    : Bisa di jelaskan maksud pernyataanmu Nia?
Nia    : Coba saja amati kalau kita ngurus KTP (Kartu Tanda Penduduk) di kelurahan, pasti kita membayar lebih, bahkan pengurus RT/RW di banyak tempat mengutip uang dari warga yang butuh syarat administratif. Terus tiap hari kita melihat di tivi berita korupsi uang APBN maupun APBD. Kelakuan hakim, pengacara, pejabat pemerintahan, anggota dewan yang korup hampir selalu ada dalam pemberitaan sehari-hari, dan terjadi hampir merata di seluruh daerah.
Ika    : Ibu Siami dan Alif yang berani membongkar kecurangan UN di SD Gadel 2 Surabaya malah diusir dari kampungnya. Jujur malah mendapat masalah. Serba membingungkan.
Iwan    : Iya, terus SD Gadel 2 malah dapat hadiah 40 komputer dari Mendiknas, bukannya di hukum karena curang tetapi malah dapat hadiah. Makin bingung kita!
Angga    : Jadi apa yang bisa kita lakukan dong? Kita kan Cuma pelajar
Guru    : Baiklah anak-anakku, kalau begitu pada sesi berikutnya kalian ibu persilahkan untuk menuliskan  ide/gagasan  upaya pemberantasan korupsi atau melawan korupsi  di sekitar kita. Tuliskan gagasanmu dalam kertas yang ibu bagikan. Jangan lupa tuliskan nama dan kelasmu. Kalian boleh menuliskan gagasan apa saja, tetapi  pemikiranmu harus didasarkan pada peran yang kamu pilih.
Yuni    : Perannya jadi apa saja bu?
Guru    : Kalian dapat memilih peran sebagai anggota DPR/DPRD, Presiden, Menteri, Jaksa, Pengacara, Hakim, aktivis LSM, Ketua KPK, guru, rakyat, dan lain-lain. Pokoknya kamu  bebas pilih peran menjadi siapa kemudian tuliskan gagasanmu, kalau peranmu presiden tuliskan apa yang dapat kalian lakukan untuk memberantas korupsi, begitupun kalau kalian memilih peran yang lain. Paham?!
Siswa    : (Serempak menjawab)….Pahaaammm bu!
Guru    : Bagus! Silahkan mulai menuangkan gagasanmu dalam bentuk tulisan.
Doni    : Bu, kalau milih jadi uang boleh ga?
Guru    : (setelah tertegun beberapa saat, kemudian aku menjawabnya)… Tentu boleh, silahkan!
Doni    : (tersenyum lebar)…. Yess! Makasih bu!

Para siswaku mulai sibuk berpikir beberapa siswa tampak mengenyitkan keningnya. Ada juga siswa yang tampak menggigit penanya sambil berpikir, ada yang asyik membuka-buka buku cetaknya, ada yang terlihat sudah mulai menulis dengan antusias, tetapi ada juga yang tengok kiri tengok kanan
memperhatikan teman-teman sekelas.

Kutengok jam tanganku, aku agak terkejut karena tak terasa waktu sudah berlalu selama 10 menit. Langsung aku berseru di depan kelas: “Sudah selesai anak-anak?”. Para siswaku serentak menjawab “belum bu!”.

Fajar    : Kasih tambahan waktu 5 menit dong bu!
Guru    : Baik, saya kasih tambahan waktu mengerjakan 5 menit lagi. Setelah itu tulisan kalian akan  kita bahas bersama
Siswa    : (beberapa siswa menjawab) Terimakasih bu….

Para siswaku kembali melanjutkan pekerjaannya. Ku perhatikan mereka satu persatu. Terbayang olehku betapa pintarnya mereka. Aku seringkali takjub dengan imajinasi dan kecerdasan mereka.  Sebentar lagi aku akan menyimak pendapat mereka tentang upaya memberantas korupsi. Pasti ada hal unik yang akan muncul. Tak sabar aku ingin mendengarkan “uang” mengemukakan gagasannya, sungguh penasaran rasanya. Lima menit berlalu, ku perhatikan banyak siswa yang sudah selesai menuliskan gagasannya dan tampak asyik membacanya kembali. Aku menunggu sejenak sampai para siswa meletakan pena dan mulai memperhatikan kedepan.

Guru    : Sudah selesai?
Siswa    : (serempak menjawab)…. Sudaahhh buu!
Guru    : Ok….. Sekarang tiba saatnya untuk mempresentasikan apa yang kalian tulis. Siapa yang  mau maju lebih dulu?!
Siswa    : (banyak siswa berseru)…. Uang aja yang maju duluan bu!
Guru    : Bagaimana “uang” ?
Uang    : Siap bu!

Doni, nama siswaku yang menjadi uang maju dengan langkah pelan tetapi mantap. Tubuhnya cukup tinggi sekitar 165 cm, beratnya sekitar 55 kg, rambutnya ikal dan berkulit kecoklatan. Doni termasuk anak yang periang, murah senyum dan percaya diri. Di bawah tatapan puluhan pasang mata, Doni mulai menghadap ke teman-temannya. Sebelum bicara, dia tampak membetulkan dasinya. Menarik nafas dan menyapu pandangan ke sekelililng kelas, Doni mulai bicara….

Doni    : Saya memutuskan memilih menjadi uang… (terdiam sejenak). Tapi saya tidak mau menjadi  uang ratusan ribu. Saya mau menjadi uang recehan saja, uang logam.
Chusnul    : Kenapa ga mau jadi uang kertas 100 ribu?
Doni    : Karena, kalau jadi uang kertas 100 ribu saya pasti bisa masuk dompet koruptor, padahal “najis” banget buat saya di sentuh oleh tangan koruptor. Pantang buat saya disentuh koruptor.
Nissa    : Apa enaknya jadi uang logam? Terus kamu memilih jadi uang logaman yang berapa?
Doni    : Kalau jadi uang logam saya yakin akan disentuh oleh orang-orang miskin. Di tangan mereka, saya diperoleh dengan cara yang pasti halal. Di tangan mereka juga saya pasti jauh lebih berarti. Saya menjadi merasa tentram dan bahagia. Selain itu, kalau si miskin sakit, biasanya  dia lebih membutuhkan saya untuk kerok-an. Maklum, umumnya si miskin tidak sanggup membayar dokter dan membeli obat. Sayalah yang kerap jadi “alat” pengobat di kala mereka sakit….

Beberapa anak tampak terpana mendengarkan Doni, beberapa lainnya tersenyum lebar, dan beberapa lagi tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.  Namun yang pasti semua anak mengamgumi pemikiran Doni.

Guru    : Apa yang membuatmu begitu benci, sampai tak sudi di sentuh koruptor?
Doni    : Korupsi itu bagi saya lebih dari mencuri. Perbuatan korupsi sangat jahat. Kalau pencuri, biasanya karena kebutuhan. Tapi kalau korupsi biasanya dilakukan bukan karena    kekurangan, tetapi karena keserakahan. Saking serakahnya, mereka sampai mati nuraninya, tak peduli rakyat susah, menderita, bahkan mati. Sudah berapa banyak anak-anak yang   mati karena gizi buruk, berapa banyak ibu-ibu melahirkan yang mati karena miskinnya.
Michel    : Apakah itu berarti kamu membenarkan orang untuk mencuri jika kekurangan?
Doni    : Tidak, bagi saya  mencuri tetaplah pelanggaran hukum. Mencuri tetap tidak di benarkan. Tapi kalau suruh memilih mana yang lebih “mending”, saya akan berpihak pada pencuri. Saya masih rela dipegang dan digunakan kerok-an oleh pencuri.
Guru    : Menurutmu apa dampak perbuatan korup yang tadi kamu katakan akan menyengsarakan rakyat bahkan membunuh rakyat?
Doni    : Dampaknya perbuatan koruptor yang menyengsarakan rakyat  banyak, misalnya kasus korupsi anggaran kesehatan dan pendidikan. Ini berdampak rakyat miskin tidak bisa berobat layak, akhirnya meninggal karena tidak tertolong lagi. Si miskin juga tidak mendapat pendidikan layak. Akibatnya, si miskin sudah tidak sehat, kekurangan gizi, dan hanya dapat mutu pendidikan yang rendah. Kondisi ini menyebabkan si miskin tidak akan pernah keluar dari lingkaran kemiskinan samapai kapan pun. Ini jelas berdampak menyengsarakan rakyat.
Guru    : Hebat kamu Doni! Ada pendapat yang lain?
Tigor    : Saya bu! Saya ingin menambahkan contoh korupsi bisa mengakibatkan kematian. Misalnya soal penebangan hutan. Kalau pengusaha pemegang HPH menyuap pejabat pemerintah untuk mendapatkan hak penguasaan hutan, kemudian si pengusaha dengan rakusnya menghabisi hutan, maka dampak lingkungannya bisa mengakibatkan banjir bandang dan menerjang rumah penduduk di sekitar hutan seperti terjadi di Sumatera Utara. Banjir bandang yang menerjang perkampungan penduduk di kaki bukit mengakibatkan puluhan penduduk mati karena tak sempat menyelamatkan diri. Menurut saya, perbuatan korupsi ini sama dengan pembunuhan.
Guru    : Mari kita beri tepuk tangan untuk Tigor dan Doni…. Semoga kalian berdua tetap teguh menganggap koruptor sangat jahat bahkan bisa jadi pembunuh. Sehingga kalian tidak akan pernah nerniat korupsi, apalagi melakukan korupsi. Ibu bangga pada kalian!

Tepuk tangan membahana di kelas sampai Doni kembali duduk di kursinya. Selanjutnya silih berganti beberapa orang  maju mempresentasikan pemikirannya. Ada yang memilih menjadi Presiden, ada yang menjadi anggota DPR, dan ada pula yang memilih menjadi hakim. Semua ide mereka sangat luar biasa. Pembelajaran anti  korupsi yang dilakukan tidak menggurui, tidak hafalan dan tidak ceramah ternyata justru melahirkan gagasan dan ide-ide cemerlang dari para siswa untuk melawan korupsi. Mereka ternyata mengikuti pemberitaan di berbagai media dan memiliki analisa yang luar biasa. Mari kita latih para siswa kita untuk berani berpikir berbeda dan berani mengemukakan pikirannya di muka umum. Ayo, kita wujudkan Indonesia kedepan yang bebas korupsi!

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Kreativitas Pembelajaran. Bookmark the permalink.

22 Responses to Najis di Sentuh Koruptor

  1. Ameliasari says:

    Kereeen bu, all in nih semua dapet ya, anak-anak jadi seneng belajarnya dan tambah pe de karena pendapatnya di dengar..

    Semangaatt!!…(^.^)/..
    *pingin banyak belajar dari Ibu Retno…:)

    • Betul ameliasari, ini namanya pembelajaran aktif, tapi saya lebih suka menybutkannya sebagai pendidikan kritis buat genarasi muda. Mari kita saling berbagi, silahkan kalau mau belajar. Saya sedang menuliskan beberapa pengalaman mengajar saya dan pasti sy upload di blog saya. Salam hangat

  2. chemydeedee says:

    mantap Bu.. ! Pikiran anak2 ternyata tajam juga ya mensikapi situasi negara kita saat ini.. Hebat banget !

    • Iya bu…. terimakasih komentnya. Memang keliru ketika kita menganggap anak murid kita tidak tahu apa-apa, sehingga sebagai guru kita merasa harus memberikan semua pengetahuan, makanya jadi ceramah terus dh

  3. Galis says:

    Salam,
    ternyata lebih menarik membaca kisahnya langsung dalam bentuk tulisan. Lebih detail dan memberi inspirasi🙂. Senang membaca tulisan ini. Terima kasih.

    • Salam hangat, senang membaca komentmu Galis. Sebentar lagi saya akan share tulisan saya tentang “Ingin menjadi Kuntilanak”, nanti ikut baca ya dan ditunggu juga komentnya. Sekali lagi terimakasih

  4. Ramli, M.Pd says:

    Mantap Bb, mudah-mudahan ke depan Indonesia memiiki generasi yang anti terhadap korupsi

  5. li says:

    Wah saya sampai enggak napas baca tulisan ibu. Yang paling hebat dari semuanya adalah ibu gurunya!

  6. Ujang Suherman says:

    mantap…jeng Retno

  7. arif says:

    duh..bagus pisan tulisannya..ditunggu tulisan lainnya bu..

  8. agus munandar says:

    mantap bu retno…jd terinspirasi nih…

  9. irwan sadzali says:

    luar biasa.. mantap sekali.. ingin sekali berguru sama bu Retno..

  10. salut buat bu retno….kalo boleh usul….di buat dalam format video kemudian di upload ke youtube….sehingga banyak para pembelajar yang dapat belajar dari kegiatan tersebut. salam kenal.

  11. Dudung Koswara says:

    Wah….andaikan guru Indonesia mayoritas seperti ibu…..Indonesia akan menjadi “Hantu Asia”…saya suka bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s