Mau Jadi Kuntilanak

Saya Mau Jadi Kuntilanak
Oleh : Retno Listyarti

“Saya mau jadi Kuntilanak saja bu!”, kata Septi muridku. Pecah tawa seisi kelas mendengar pernyataan Septi. Sementara Septi tampak tenang saja sambil matanya menatapku tanpa berkedip. “Kenapa peran Kuntilanak yang kamu pilih?”, tanyaku sebagai guru. Dijawab dengan lantang “Bingung  jadi eksekutif atau legislatif bu, karena keduanya termasuk pelaku korupsi juga”. Langsung ku jawab, “Silahkan tulis pemikiranmu sebagai kuntilanak untuk menyelamatkan hutan kita dari keserakahan pengusaha yang berselingkuh dengan penguasa”.

Indonesia adalah paru-paru dunia, karena di bumi pertiwi ini tumbuh hutan tropis yang terluas di dunia, konon mencapai hampir 30%  hutan tropis dunia. Ironisnya, fungsi paru-paru dunia itu mulai berkurang dan nyaris punah. Hutan Indonesia di tebang secara membabibuta, datanya hutan Indonesia  setiap 1 menit hilang 6 kali lapangan bola. Dalam satu tahun di perkirakan hutan kita hilang 5 kali luas DKI Jakarta.  Kalau kondisi ini didiamkan terus maka hutan Indonesia akan habis. Kalau itu terjadi maka keseimbangan lingkungan di dunia akan terganggu. Perubahan iklim bahkan sudah terjadi. Bumi terasa semakin panas. Keadaan ini mendorongku untuk menjadikan realita ini sebagai bahan analisa di kelas bagi pembelajaran “Sistem Hukum dan Peradilan di Indonesia”, dikaitkan dengan penindakan hukum bagi kasus korupsi di Indonesia. Tentu saja, ini berkaitan dengan kasus kongkalikong antara penguasa pemberi hak penguasaan hutan (HPH) dengan pengusaha yang meminta HPH. Selain pelajaran PKn, sebenarnya pembelajaran ini dapat juga diterapkan pada pelajaran biologi tentang materi keseimbangan ekosistem dan pembelajaran sosiologi tentang kejahatan kerah putih.

Untuk membantu memudahkan pemahaman siswa, maka ku gunakan bantuan sumber belajar “film Hutanku Hilang 1 Menit 6 Kali Lapangan Bola yang dibuat INFORM”. Film yang berdurasi 3 menit 12 detik itu berkisah tentang  pola penebangan hutan yang sama sekali tidak memperhitungkan kesimbangan lingkungan. Kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan ekologi, tetapi hanya mengedepankan kepentingan  ekonomi sesaat tersebut telah mnghancurkan hutan Indonesia. Semua kerusakan ini terjadi atas seijin pemberi HPH yang dalam hal ini adalah para pejabat publik negeri ini. Atas nama pendapatan daerah dan pendapatan nasional maka ijin pemberian HPH terus diberikan, penebangan membabi buta terus terjadi. Di atas kertas memang ada kewajiban pemegang HPH melakukan tebang pilih serta keharusan kembali melakukan reboisasi (penghijauan kembali), tapi pada kenyataannya aturan itu hanya sekedar aturan. Pada tingkat pelaksanaan tidak jelas, bahkan nyaris pengawasannya begitu longgar.

Untuk menggali gagasan menyelamatkan hutan Indonesia demi masa depan bumi dan lingkungan, maka setelah menyaksikan film kuajak para siswaku untuk mendiskusikannya melalui tanya jawab aktif. Kami bersepakat bahwa setiap orang boleh bertanya, boleh menanggapi langsung dan boleh memiliki pendapat sendiri. Diskusi berlangsung sangat menarik.

Guru        : Apa pendapat kalian tentang film yang barusan kita saksikan?
Saddam        : Saya tak habis pikir, mengapa kita bisa membiarkan hutan ditebangi sedemikian rupa tanpa memperdulikan akibatnya bagi keseimbangan ekosistem hutan dan wilayah sekitarnya?
Guru         : Maksudmu, pola penebangan yang seperti ini telah menganggu keseimbangan
ekosistem lingkungan? (Saddam tampak mengangguk). Bisa kamu uraikan yang dimaksud dengan terganggunya ekosistem hutan akibat pola penebangan tersebut?
Saddam        : Kalau hutan terus ditebangi tanpa mengindahkan tebang pilih dan tidak berpikir menghijaukan kembali, maka lama-lama hutan akan gundul. Kalau hutan gundul maka wilayah sekitar akan mudah longsor karena tak ada lagi akar pohon sebagai penahanan tanah. Selain itu, persediaan air tanah juga akan jauh berkurang.
Erni        : Saya mau menambahkan jawaban Saddam bu!
Guru      : Silahkan Erni
Erni        : Beberapa kasus banjir bandang yang terjadi di wilayah pemukiman penduduk
sekitar hutan rata-rata terjadi setelah hutannya ditebangi oleh pemegang HPH. Banjir bandang terjadi karena pohon-pohon di hutan yang biasanya menjadi penahan tanah dan tempat penyimpanan air sekarang sudah tidak ada, sehingga longsor maupun banjir bandang pastilah menjadi ancaman yang menghantui masyarakat sekitar hutan.
Indah        : Bu, menurut saya kalau sampai terjadi longsor atau banjir bandang yang menerjang pemukiman penduduk dan kemudian menelan korban jiwa sampai meninggal, maka itu artinya tindakan pemegang HPH yang membabat hutan tanpa memikirkan dampaknya adalah kejahatan luar biasa .

Reza yang duduk di kursi nomor dua dari belakang tampak mengangkat tangannya, aku mengangguk mempersilahkan.
Reza        : Iya, saya setuju dengan pernyataan indah. Menurut saya, setidaknya ada dua
kejahatan bu, yang pertama kejahatan korupsi,dan yang kedua kejahatan pembunuhan.
Guru        : Mengapa kamu menyimpulkan bahwa korupsi akibat kongkalikong antara
pengusaha HPH dengan aparat dan penguasa juga merupakan kejahatan pembunuhan?
Reza        : Menurut saya merupakan kejahatan korupsi karena pemegang HPH sudah
menebang kayu melebihi haknya atau jatahnya. Ini jelas kriminal. Sedangkan aparat negara yang tahu tetapi mendiamkan saja, kemungkinan memang sudah disuap juga.  Sedangkan yang kedua adalah kejahatan pembunuhan, karena kongkalikong atas kejahatan yang pertama tersebut telah mengakibatkan banyak penduduk mati akibat longsor ataupun banjir bandang.
Budi        : Bu, apakah kerusakan hutan itu satu-satunya kesalahan pengelola HPH? Apakah masyarakat sekitar hutan tidak melakukan pencurian kayu di hutan juga?
Rudi        : Mungkin saja masyarakat sekitar hutan juga melakukan penebangan, tapi berapa sih kemampuan mereka menebang pohon? Masyarakat umumnya pakai kampak, tidak menggunakan mesin seperti pengelola HPH. Pohon yang ditebang masyarakat pasti  tidak akan sebanyak yang ditebang oleh pemegang HPH tersebut.
Dinda        : Betul, selain itu masyarakat umumnya “mencuri kayu” karena desakan kebutuhan sehari-hari. Mereka miskin dan tak ada pekerjaan lain. Tapi kalau pengusaha HPH pasti sudah kaya dan makin kaya dengan menebangi kayu di hutan tersebut.
Dhama        : Saya paham yang dikatakan Dinda, tapi menurut saya mencuri ya tetap mencuri, artinya tetap melanggar hukum.
Dani        : Betul bahwa mencuri tidak boleh, tapi masyarakat hutan kan semestinya punya hak mengelola hutan, setidaknya ada lahan sekitar hutan yang dapat di kelola masyarakat untuk pertanian atau perkebunan sehingga masyarakat tidak perlu mencuri.
Feri        : Kalau tidak salah peraturan itu ada, tapi mungkin banyak tidak direalisasikan
karena ketidaktahuan masyarakat juga. Masyarakat kita rata-rata kan memang tidak melek hukum.
Sari        : Kasian dong masyarakat kita. Kok pemerintah tega ya?
Rudi        : Ya itu sulitnya mewujudkan kesejahteraan di negeri ini karena pejabat publiknya dan aparatnya hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.
Aulia        : Iya, kebodohan dan ketidaktahuan masyarakat juga dimanfaatkan untuk
kepentingan pribadi oknum-oknum semacam itu.
Indra        : Kenapa para pejabat publik kita yang memiliki weweenang memberi ijin HPH tidak memikirkan kepentingan rakyat dan negeri ini ya?
Lia        : Iya dan aparat penegak hukum juga lebih berpihak pada para “pencuri besar” itu.
Karena mereka bisa membli pengadilan dengan uangnya. Uang yang dicuri dari hak rakyat juga.
Sari        : Iya, nurani mereka sudah mati, yang ada di kepala dan hati mereka  adalah
keserakahan dan keinginan untuk terus menjadi kaya.

Kelas tiba-tiba hening dan agak muram. Sampai kemudian ada suara dari pojok kiri deretan kursi paling depan.

Sukaesih    : Berarti dalam kasus ini, korupsi tidak hanya menyengsarakan kehidupan rakyat miskin tetapi korupsi juga  menelan korban jiwa. Ini semua harus dihentikan. Apa yang dapat kita lakukan bersama untuk menyelamatkan hutan kita bu?
Guru        : Kalian adalah generasi muda pemilik masa depan. Hari depan bangsa ini ada di
tangan kalian. Jadi sekarang tulisankan ide/gagasan kalian untuk menyelamatkan hutan Indonesia. Pilih peran sebagai eksekutif, legislatif atau yudikatif, bisa juga menjadi warga negara biasa.
Indra        : Bu, kalau milih peran jadi pohon boleh ga?
Guru        : Boleh, silahkan
Septi        : Saya mau jadi kuntilanak saja bu! (Pecah tawa seisi kelas mendengar pilihan Septi)
Guru         : Kenapa peran kuntilanak yang kamu pilih?
Septi        : Bingung  jadi eksekutif atau legislatif bu, karena keduanya termasuk pelaku korupsi Juga.
Guru        : Silahkan tulis pemikiranmu sebagai kuntilanak untuk menyelamatkan hutan kita dari keserakahan pengusaha yang berselingkuh dengan penguasa. Waktunya hanya
15 menit. Dimulai dari sekarang.

Para muridku langsung menuliskan ide/gagasannya di kertas yang ku bagikan. Mereka tampak asyik menuliskannya dengan antusias. Sambil keliling kelas, aku tertarik memperhatikan satu persatu yang ditulis para muridku. Ada yang memilih menjadi hakim dan mau menghukum mati koruptor yang mengakibatkan banjir bandang hingga menelan korban puluhan jiwa. Ada yang memilih menjadi anggota DPR yang akan mendorong dibuatnya UU perlindungan hutan. Ada juga yang memilih menjadi presiden yang akan memerintahkan moratorium penebangan hutan dan memprogramkan penghijauan kembali hutan di seluruh Indonesia selama periodenya menjadi prsiden. Ada yang memilih jadi pohon yang menyuarakan keluhan agar para penebang hutan dan pemegang HPH sadar kalau pohon juga makhluk hidup yang harus di lindungi dan dipelihara di bumi ini. Ada juga yang memilih menjadi pengusaha pemegang HPH yang bernurani, dan  masih banyak lagi peran yang mereka pilih, seperti jadi jaksa penuntut umum, jadi pengacara, jadi produser film, jadi penebang kayu, dan lain-lain. Yang tak sempat ku intip justru yang memilih jadi kuntilanak. Karena tak terasa 15 menit sudah berlalu. Sehingga aku pun lekas-lekas ke muka kelas untuk mengumumkan waktu sudah habis dan para muridku harus bersiap-siap mempresentasikan gagasan yang ditulisnya. Mereka akan tampil bergantian berdasarkan inisiatif pribadinya, dan kawan-kawannya yang lain boleh bertanya maupun menanggapi presentasi rekannya yang maju.

Biasanya, ketika  penilaian performance kulakukan maka para muridku akan berebut maju. Tapi kali ini mereka tak berebut maju, mereka justru satu suara untuk meminta kuntilanak maju lebih dahulu.
Guru        : Sudah selesai semua?
Murid-murid    : Sudah buuu…..!
Guru        : Ok, siapa yang mau maju terlebih dahulu?!
Murid-murid    : Kuntilanak buuu! (serentak suara kompak ini bergaung seantero kelas)
Guru        : Bagaimana Septi?
Septi        : Siap Bu!

Septi berdiri dari kursinya, membenahi roknya, mengambil kertas di mejanya dan mulai melangkah ke muka kelas. Langkahnya mantap dan pandangannya lurus, sementara  pandangan seisi kelas mengikuti langkahnya. Dalam waktu singkat, Septi sudah di muka kelas dan menghadp ke arah kawan-kawannya. Gadis manis ini tampak tersnyum, menyapu pandangan ke seluruh kelas, menarik nafas dan mulailah dia berbicara.

Septi        : Saya memilih menjadi Kuntilanak. Karena sebagai makhluk halus di Indonsia, saya akan tinggal di pohon-pohon besar, terutama di hutan.
Yasir        : Mengapa kamu mengatakan seakan  makhluk halus di Indonesia saja yang tinggal di pohon-pohon besar?
Septi        : Saya mengatakan seperti itu karena memang dalam budaya masyarakat Indonesia ada mitos bahwa  makhluk-makhluk halus seperti Kuntilanak, Gendruwo, Sundel Bolong, Pocong, dan lain-lain akan bertempat tinggal di pohon-pohon besar dan di rumah-rumah kosong.
Ana        : Iya, betul juga. Beda banget sama masyarakat Eropa yang mitos setelah matinya
maka para makhluk halus itu akan tinggal di kastil-kastil mewah, berdandan, dam  berpakaian mewah juga, seperti jas. Liat aja di film “Twilight”. Tapi, kalau setan Indonesia pakaiannya daster dan rambutnya juga acak-acak.
Septi        : Iya, mana dasternya juga kotor, belel lagi! Kasian banget orang Indonesia, hidup
miskin, mati juga lebih melarat…

Mendengar  pernyataan Ana dan Septi maka pecahlah tawa seisi kelas. Akupun tak bisa menahan tawa mendengarnya. Lama kegaduhan kelas terjadi karena kami tertawa bersama. Sampai kemudian Septi melanjutkan presentasinya.

Septi        : Kalau pohon-pohon besar di hutan di tebangi sampai habis maka saya dan kawan-kawan makhluk halus lainnya akan kehilangan tempat tinggal. Ini tentu sangat
berbahaya buat kami. Kami mau tinggal dimana?  Jadi, saya sebagai kuntilanak
memutuskan untuk mengorganisir seluruh makhluk halus di hutan untuk menakut-
nakuti semua penebang pohon, mandor-mandornya, supir-supir pengangkut
kayunya, pokoknya semuanya yang terlibat.
Firdha        : Kalau mereka ditakuti dan misalnya takut, terus berhenti kerja, pasti akan banyak lagi orang yang melamar kerja untuk menggantikannya. Apakah metode menakuti itu efektif?
Septi        : Ya pokoknya kami  akan terus menakuti, ada orang baru silih berganti pun kami akan konsisten terus menakutinya. Khusus untuk pengusaha pemegang HPH dan Menteri Kehutanan, kami akan menakuti dia dan seluruh keluarganya secara terus menerus sampai penebangan ditinjau kembali dan dihentikan.
Feri        : Gimana cara kalian menakut-nakuti pengusaha dan menteri tersebut sementara
kalian tidak tahu keberadaannya?
Septi        : Gampanglah, kan ada google, kami bisa cek di internet, kan banyak Warnet (baca warung internet) di mana-mana…. (Kelas kembali di penuhi tawa). Kalau sudah dapat alamatnya di google maka kami akan membentuk tim yang  akan bertugas di rumah pengusaha HPH dan menteri kehutanan.
Ana        : Gimana cara kalian ke rumah pengusaha dan menteri? Kalian kan berada di hutan-hutan sementara rumah pengusaha dan menterinya di Jakarta.
Septi        : Sebagai makhluk halus, kami bisa numpang truk, pesawat, taksi, dan sebagainya menuju Jakarta dan menuju rumah si pengusaha maupun menteri.

Septi serius dan tidak tertawa sama sekali, sementara seluruh isi kelas tidak berhenti tertawa mendengar semua jawaban Septi. Septi mengakhiri presentasinya diiringi tepu tangan seluruh penghuni kelas.

Guru        : Siapa yang punya tanggapan atas presentasi Septi?  Harus positif ya!
Rinaldy        : Septi punya bakat jadi pemimpin bu, dalam presentasinya dia aktor intelektual, perencana misi dan sekaligus mampu mengorganisir para makhluk halus.
Guru        : Siapa lagi yang mau menanggapi?
Ari        : Awalnya saya bingung, kok bu Retno boleh Septi milih jadi Kuntilanak, kesannya
kayak ga ilmiah banget. Tapi saat saya mengikuti presentasinya, semua jawaban Septi sangat rasional, meski dia seorang kuntilanak.

Setelah itu,  beberapa muridku maju bergantian untuk mempresentasikan gagasannya. Banyak hal yang menarik muncul dan disikapi dengan sangat positif oleh murid-muridku. Tak terasa bel tanda ganti pelajaran berbunyi, aku pun segera  mengakhiri pembelajaran di kelas tersebut dan pindah ke kelas lainnya.

Mengajarkan sikap anti korupsi dengan tema lingkungan ternyata juga sangat menarik. Pembelajaran berlangsung aktif dan para siswa terbangun sikap anti korupsinya sekaligus sikap peduli lingkungannya. Proses pembelajaran tidak monoton, tidak menjenuhkan, tetapi berjalan sangat mengasyikan. Guru bukan sebagai satu-satunya sumber belajar. Kami semua belajar, baik guru maupun siswa.

*******

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Kreativitas Pembelajaran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s