4 Guru 4 Mata Pelajaran Dalam 1 Pendidikan Antikorupsi

“Bu, apakah anak kelas XI sudah diajarkan cara membuat lagu? “ tanyaku pada bu Woro yang mengajar pendidikan seni musik.  “Sudah”, kata bu Woro dengan mantap. “Bagus, kalau begitu saya bisa meminta anak-anak kelas XI untuk membuat lagu antikorupsi karena teknisnya sudah diajarkan bu Woro”, kataku saat rekan kerjaku itu tampak mengenyitkan dahi karena heran. Bagaimana tidak heran, masak guru PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) memberikan tugas performance membuat lagu sebagai evaluasi proses pembelajarannya.

Pagi itu cuaca mendung, mentari seakan malu-malu memunculkan diri, langit terlihat kelam, sekelam Indonesia yang tak habis dirundung berbagai kasus korupsi. Negeri yang demikian kaya sumber alam justru terpuruk oleh berbagai kasus korupsi yang sudah membudaya. Koruptor tampak sudah tak malu lagi jika ketahuan korupsi, gaya mereka di televisi bak selebritis, mereka tampil dengan pakaian mewah dan bermerk mahal dengan wajah yang dipenuhi senyum, tak nampak rasa malu di depan publik.  Bahkan lembaga penegak hukum justru berkongkalikong dengan para koruptor. Sungguh memprihatinkan…… Meski pagi itu cuaca tak bersahabat, namun tak menyurutkan semangat para siswaku di SMAN 13 Jakarta menyongsong pentas seni antikorupsi sekaligus deklarasi antikorupsi terkait kasus “Cicak versus Buaya” yang kala itu sedang ramai diperbincangkan.

Kala itu, di negeri ini sedang terjadi perseteruan antara KPK (baca Komisi Pemberantasan Korupsi) versus Kepolisian Republik Indonesia. Istilah “Cicak dan Buaya” pertama muncul dari Jendral Susno Duaji yang kala itu menjabat sebagai kepala Bareskrim POLRI. Susno mengibaratkan “cicak” sebagai KPK dan “Buaya” sebagai Kepolisian. Maklumlah KPK adalah lembaga baru seumur jagung jika dibandingkan usia kepolisian. Sementara para penyidik KPK banyak juga yang berasal dari penyidik kepolisian. Masak “cicak” mau kurang ajar sama “buaya”? Ini menunjukan bahwa, meskipun sang “cicak” memiliki kekuatan superbody, namun bagi sang “buaya” dia tetaplah binatang kecil dan lemah dibandingkan buaya. Sementara buaya dianalogikan sebagai binatang  buas, pembunuh berdarah dingin dan selalu mengalahkan musuhnya. Perseteruan ini berawal dari penyadapan telepon yang dilakukan oleh KPK dimana orang dalam percakapan telepon itu diduga adalah Susno Duaji. Sudah tentu pihak Kepolisian kemudian meradang dan munculah istilah “cicak vs buaya” yang kemudian berlanjut dengan upaya meng-kriminal-kan 2 pimpinan KPK yaitu Bibit dan Chandra. Realita ini kemudian kumasukan dalam pembelajaran di kelas untuk didiskusikan bersama.

Pentas seni antikorupsi yang diselenggarakan OSIS SMAN 13 Jakarta sama sekali tidak bertujuan untuk mendukung “Bibit dan Chandra”, namun deklarasi mereka bertujuan untuk mendukung pemberantasan korupsi di Republik ini. Siang itu, setelah pernyataan sikap selesai di bacakan, para siswa SMAN 13 Jakarta mulai membentang  bahan spanduk putih sepanjang 200 meter mengeliling teras sekolah. Spanduk putih kosong tersebut kemudian diisi ditulisi dan ditandatangani oleh seluruh warga SMAN 13 Jakarta, baik kelas X, XI maupun kelas XII, seluruh guru dan karyawan, termasuk petugas satpam sekolah antusias menandatangani bentangan spanduk. Kegiatan ini cukup istimwa karena diliput oleh 29 media cetak, online dan elektronik , baik radio maupun telelevisi di Indonesia. Belum pernah kegiatan SMAN 13 Jakarta diliput oleh demikian banyak meda massa. Ini sejarah buat sekolah kami.

IDE AWAL

Kegiatan deklarasi dan  pentas seni anti korupsi ini berawal dari aktivis pembelajaran PKn di kelasku. Sebenarnya, metode ini merupakan hal baru bagiku. Lama juga ku pikirkan bagaimana teknisnya untuk memberikan pendidikan anti korupsi melalui pendekatan seni. Ini memang sesuatu yang belum pernah ku lakukan, tapi aku sangat tertantang untuk melakukannya. Aku merencanakan tehnik penilaian yang ku gunakan adalah “proyek”, murid-muridku akan ku minta menciptakan lagu antikorupsi dan menampilkannya di muka kelas saat pengambilan nilai tiba.  Ketika memasuki materi terkait “masalah korupsi, keterbukaan dan jaminan keadilan” ku coba untuk memberikan suasana berbeda pada murid-muridku. “Anak-anakku sekalian,  materi kita kali ini terkait dengan masalah korupsi, keterbukaan dan jaminan keadilan. Saya akan membahas materi tentang  dampak penyelenggaraan pemerintahan yang tidak transparan.  Soal keterbukaan dan keadilan juga akan saya bahas dengan bantuan sumber belajar berupa film dan artikel terkait. Nanti di akhir pembelajaran kalian ibu minta membuat proyek secara berkelompok,” kataku panjang lebar.

Guru    : Ibu sudah komunikasi dengan guru pendidikan seni musik kalian, ibu Woro, katanya kalian sudah diajarkan cara membuat lagu dan mengarasemen musik. Jadi proyeknya berupa membuat lagu antikorupsi. ada pertanyaan ?
Heru    : kapan membentuk kelompoknya bu?
Guru    : Hari ini! Nanti daftar nama kelompok diserahkan ke ibu di akhir jam pembelajaran
Ida    : satu kelompok berapa orang bu? Apakah boleh perempuan semua?
Guru    : satu kelompok 8 orang, karena kelas ini jumlah muridnya 38 orang maka akan ada yang
anggota kelompoknya antara 7-8 orang. Kalian bebas memilih teman kelompoknya. Kalau bisa campuran, ada laki-laki dan ada perempuan.
Raja    : waktu pembuatan proyek berapa lama bu? dikerjakan di luar jam pembelajaran kan bu?
Guru    : Iya betul Raja, proyek ini dikerjakan di luar pembelajaran, waktunya 1 bulan dari sekarang.  Jadi kalian memiliki waktu mnggarap proyek ini selama 4 minggu.
Arina    : Jadi… 4 minggu lagi kita menyerahkan lagu ke ibu atau sudah langsung menyanyikannya di muka kelas?
Guru    : Menyerahkan lagu ke ibu pada hari itu sekaligus tampil untuk dinilai. Kalian boleh mengenakan kostum, boleh menggunakan alat-alat musik, lagunya juga boleh di sertai puisi. Kata Bu Asih guru Bahasa Indonesia kalian, musikalisasi puisi juga sudah diajarkan di kelas XI?
Monika    : Iya sudah bu!
Fajar    : Betul bu, minggu kemarin juga kami sudah latihan membuat puisi kok!
Dinda    : Bu, alat musik yang diperbolehkan apa saja?
Guru    : Apa saja boleh, terserah pada kreativitas masing-masing kelompok!
Linda    : boleh pinjam organ sekolah bu?
Guru    : tentu saja boleh, kamu tahu cara pinjamnya kan?
Linda    : tahu bu….
Desi    : Bu, kalau alat musiknya botol air mineral yang diisi pasir boleh ga?
Guru    : tentu saja boleh, silahkan saja! Apa saja yang bisa menimbulkan bunyi musik boleh kalian gunakan…
Rido    : Nanti teknis pengambilan nilainya bagaimana bu?
Guru    : Teknis penilaian akan dilakukan di dalam kelas masing-masing. Secara bergantian tiap kelompok akan maju menampilkan lagunya. Ada 4 guru yang akan ikut penilaian. Ibu sebagai guru PKn dan bu Eny sebagai guru sosiologi akan menilai contentnya dengan didasarkan pada lirik lagu. Apakah sesuai dengan konteks materi yang kita bahas, yaitu soala kejahatan kerah putih dan dampak penyelenggaraan pmerintahan yang tidak transparan.
Windi    : Guru yang lain siapa lagi bu?
Guru    : Oh ya, bu Woro akan menilai kualitas musiknya, dan bu Asih akan menilai mengenai musikaisasi puisi kelompok.
Agus    : Jadi, setiap  kelompok juga harus buat musikalisasi puisi ya bu?
Guru    : Iya, lagumu di variasikan dengan puisi. Ada pertanyaan lain?
Lidya    : Bu, evaluasinya berarti tidak hanya untuk pelajaran PKn ya?
Guru    : Betul Lidya, jadi 1 proyek akan di nilai oleh 4 guru sesuai KD (Kompetensi Dasar) dan materi di pelajaran masing-masing tadi, yaitu PKn, Sosiologi, Bahasa Indonesia dan Pendidikan seni musik. Jadi ini ulangan untuk 4 mata plajaran itu.
Aldy    : Wah, jadi enak dong… kita murid ga reepot buat tugas atau proyek
Guru     : betul dan ini merupakan pengalaman pertama juga buat kami (baca : 4 guru tersebut). Bagaimana sekarang, apakah bisa dipahami? Jelaskan?
Murid-murid : Jelas buuu!!!

Kami berempat (4 guru terkait) kemudian membuka kesempatan kepada seluruh murid kelas XI, baik program IPA, IPS maupun kelas internasional untuk berkonsultasi terkait proyek jika mereka menemukan masalah atau kendala lain. Sampai kemudian tibalah saat pengambilan nilai. Kami berempat tak menyangka kalau para murid begitu antusias dan serius mengerjakan proyek ini. Mereka bahkan banyak yang mempersiapkan kostum, alat musik, bahkan beberapa kelompok  menyuguhkan drama selain lagu dan puisi. Sampai akhirnya kami berempat bersepakat untuk melanjutkan dalam bentuk pentas seni antar kelas. Jadi, di setiap kelas, kami meminta para siswa memilih siapa yang terbaik dikelas tersebut untuk diadu dalam pentas seni antar kelas.  Pentas seni tersebut kami beri nama “Pentas Seni Antikorupsi”.  Jurinya akan kami minta dari  luar SMAN 13 Jakarta. Kemudian kami mencari juri dari luar dan diperolehlah  3 juri yang bersedia menilai penampilan seni para siswa SMAN 13 Jakarta. Para Juri tersebut berasal dari Universitas Paramadina (UPM), ICW (Indonesian Corruption Watch) dan P2D (Perkumpulan Pendidikan Demokrasi). Hadiah bagi pemenang juga berasal dari ke-3 lembaga tersebut. Para pengurus OSIS kemudian berinisiatif untuk ikut meramaikan pentas seni antikorupsi ini menggelar pernyataan sikap sekaligus dukungan penegakan hukum korupsi di negeri ini melalui gerakan 1000 tandatangan. Inisiasi inilah yang kemudian melahirkan peliputan yang luas.

PENTAS SENI DAN GERAKAN 1000 TANDATANGAN

Hari itu, adalah hari yang sudah dipersiapkan dengan penuh kesungguhan oleh  para siswa SMAN 13 Jakarta. Mereka peduli terhadap persoalan korupsi di negerinya, mereka  ingin  menyatakan sikap antikorupsi dan penegakan hukum korupsi di bumi pertiwi ini. Sejak pagi cuaca sejuk, namun menjelang acara di mulai langit tampak mendung. Acara dibuka tepat pukul 11.15 wib dengan tari Saman (Aceh) yang ke-6 penarinya mengenakan stiker anti korupsi di lengannya. Dilanjutkan kemudian dengan sambutan-sambutan dan disusul pembacaan  “Pernyataan sikap para siswa SMAN 13 Jakarta”. Saat pembacaan berlangsung, hujan mulai turun dengan derasnya disertai petir dan kilat yang menyambar-nyambar. Namun, para perwakilan siswa tampak tetap sungguh-sungguh membacakan pernyataan sikap tersebut, meski suara mereka nyaris kalah dengan derasnya hujan. Isi pernyataan sikap tersebut sangat mengagumkan banyak pihak.  Apa yang mereka tuliskan sangat tajam dan dengan kuat mendukung semangat penegakan hukum bagi berbagai kasus korupsi di negeri ini. Bagaimana pernyataan sikap yang disusun oleh pengurus OSIS SMAN 13 tersebut? Penulis melampirkan isi pernyataan sikap tersebut pada uraian dalam tulisan ini.

Menulis dan menandatangani spanduk adalah acara yang dinanti-nanti oleh seluruh warga sekolah. Bentangan spanduk segera diserbu begitu panitia mengumumkan bahwa spanduk sudah diperbolehkan untuk ditulisi dan ditandatangani. Meski spidol yang disediakan panitia tidak cukup, namun para siswa tampak sabar saling antri dan bergantian membubuhkan tandatangan. Ada yang tampak serius menulis, ada yang menulis sambil tertawa-tawa dengan kawan-kawannya, ada yang antusias membaca coretan kawan-kawannya di spanduk, dan ada pula yang asyik menulis dengan spidol yang disiapkannya dari rumah, ada juga yang menulis dengan pilox. Para guru dan satpam pun ikut antri, banyak siswa yang tampak menunggu guru-gurunya menulis. Mereka tampaknya penasaran dengan apa yang ditulis guru-gurunya.  Pokoknya sepanjang mata memandang semua orang sibuk dengan spanduk dan coretan. Guru, siswa, karyawan dan satpam tampak berbaur dan saling membaca cioretan kawan-kawannya. Tulisan-tulisan dalam spanduk pun tampak menggelikan saat membacanya.  Beragam coretan  tersebut mengundang kekaguman, sekaligus tawa. Berikut beberapa tulisan dalam spanduk yang sempat terekam penulis.

Monika        : ABG saja tahu, masak yang tua kagak ….
Rahmat        : Korupsi udah bukan jamannya. Ngerti nggak sih lo?!
Arina            : Lawan korupsi, jangan diam!
Dina              : Kita saja care, masak yang tua-tua enggak. Malu kan?!
Nadia            : Kami tahunya korupsi itu merusak. Karena mengambil duit yang bukan hak-nya
Irfan        : KPK YES, KORUPSI NO!
Andi        : Katakan TIDAK pada korupsi!
Ika          : Miskinkan para Koruptor…. biar mampus mereka!
Hermawan    : Hukum MATI Koruptor!
Indah             : Mau kaya? KERJA! Bukan KORUPSI
Zulkarnaen    : KORUPSI??? Enggak lha yooo!
Zainal             : Katakan najis pada Koruptor!
Indah             : Nyontek adalah bibit jadi koruptor…. mari budayakan kerja keras!
Lidya             : Hey Koruptor!!!! Harta ga akan di bawa mati kok
Andri             : Sholat jalan terus tapi kenapa korupsinya juga jalan terus ya?
Aldi                : Koruptor Indonesia mencuri jatah orang miskin untuk nyuap orang kaya…
Vinardo         : Ini bentuk keprihatinan sama kondisi KPK yang saat ini diserang oleh kriminalisasi
Agus               : Cicak VS Buaya = Dinosaurus VS Gendrowo
Raja Hanif     : Kami prihatin tindakan saling serang antarlembaga negara di negeri tercinta kita ini
Nidya             : Hobi kok korupsi sih pak?
Lusi                : Miskin Malu tapi Korupsi Ga Malu
Rini                : Urat malu koruptor udah putus kale….

Masih ratusan coretan yang menghiasi 200 meter kain spanduk yang dibentangkan. Pengurus OSIS merencanakan spanduk tersebut akan diantar perwakilan pengurus OSIS langsung ke KPK –Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan–, waktunya seminggu setelah kegiatan pentas seni antikorupsi. Pihak KPK sendiri—yang juga hadir dalam pentas seni antikorupsi tersebut— juga menyatakan   siap menerima pengurus OSIS SMAN 13 Jakarta di KPK minggu depan.  Minggu depannya, dengan dijemput 3 mobil KPK, 20-an pengurus OSIS SMAN 13 Jakarta mengantarkan spanduk ke KPK dan sekaligus bersilaturahmi dengan bagian pencegahan dan pendidikan di KPK.  Bagi para siswa kami, pengalaman ini benar-benar pengalaman luar biasa dan tak akan terlupakan sampai kapan pun.  Semoga, di pikiran dan di dada mereka trus berkobar perlawanan terhadap korupsi di negeri ini…… (Retno Listyarti)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Kreativitas Pembelajaran. Bookmark the permalink.

2 Responses to 4 Guru 4 Mata Pelajaran Dalam 1 Pendidikan Antikorupsi

  1. Kaprawi says:

    walaupun coretantanda tangandibuat dari sabang sampai maruke korupsi tetap jalan la masuk penjara masih dak mau ngaku la masuk kubur koruptor baru tau raso biarlah Allah yang menghukum dengan seadil adilnya pengadilan dunia ini tak perlu dipercayo jaksa hakim polisi setali tiga uang ,negeri ini dak lamo lagi hancur karena digrogoti tunggu azabAllah

    • itulah karakter bangsa kita…. dibutuhkan usaha keras luar biasa dalam dunia pendidikan untuk mengubah karakter anak bangsa ini. Tapi kalau sistem pendidikannya masih seperti ini dibutuhkan krja keras yang berkali-kali lipat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s