Dua Jempol Untuk Sanggar Anak Akar

Saat membaca buku “Dari Akar Kami Tumbuh: Prakter Terbaik Pendidikan Alternatif” saya langsung membayangkan betapa sejuk dan hijaunya sanggar akar. Karena hampir semua pengantar dan judul-judul bagian buku menggunakan istilah-istilah yang terkait dengan flora (tumbuhan). Misalnya, Menyiapkan Lahan Menyemai Benih, Pohon Tumbuh Berbuah Ranum, Benih-benih Bertuas, Dari Akar Tumbuh Daun, Buah Yang Manis Tumbuh Dari Akar Yang Kuat, Pohon Membutuhkan Akar Yang Kuat, dan sebagainya. Buat saya judul-judul itu sungguh menggelitik rasa keingintahuan saya.

Bagian awal buku memberikan saya pengetahuan tentang sejarah Sanggar Anak Akar dan perjalanannya sebagai  wadah pendidikan alternatif serta para tokohnya. Ternyata cukup berliku dan penuh tantangan.  Saya kemudian melanjutkan membaca bagian berikutnya, ada  perasaan tidak sabar untuk  membaca tulisan-tulisan anak-anak. Begitu membuka halaman demi halaman isi tulisan anak-anak Sanggar Akar,  saya makin penasaran. Sebagai seorang penulis (baca: saya tahu pasti bahwa menulis itu bukan perkara mudah), saya mulai kagum dengan tulisan-tulisan pendek mereka. Ada tulisanberbentuk naratif  yang asyik untuk di baca, mengalir bahasanya dan beberapa lagi cukup mengharukan bagi pembacanya. Sebagai pemula mereka sungguh luar biasa, bahkan bagi saya dasyat. Meski yang mereka ceritakan sebenarnya hal-hal yang sederhana atau kesan mereka selama bersekolah di Sanggar Akar. Teringat saya pada film “Freedom Writer”,  di mana Mrs. Erin Gruwell, guru di kelas 203 membuat proyek menulis  di akhir tahun kelasnya. Yang ditulis oleh para murid Mrs. G –begitu muridnya bisa memanggilnya– adalah keseharian murid-muridnya yang mengalami berbagai persoalan “kekerasan rasial”. Kisah di kelas Mrs. Gruwell tersebut bahkan sampai di angkat dalam film layar lebar.

Buku  “Dari Akar Kami Tumbuh: Prakter Terbaik Pendidikan Alternatif”  bagi saya merupakan sebuah buku yang menarik. Mungkin tidak sebagus yang ditulis oleh murid-murid Mrs. Erin Gruwell. Buku ini layak dibaca oleh para siswa SD, SMP, SMA dan SMK. Bahkan saya mendiskusikan kepada empat kawan guru yang mengajar pelajaran Bahasa, baik Bahasa Indonesia maupun bahasa asing, dari 2 sekolah yang berbeda. Saya meminta mereka membaca salah satu tulisan dalam buku ini, kemudian saya memintanya untuk memberikan tanggapan. Mereka bilang “bagus”. Saya tanyakan alasannya menyatakan cukup bagus. Mereka menjawab yang standar, baik terkait ide maupun gaya menulis. Kemudian saya tanyakan kepada mereka, “apakah bisa menggerakkan murid-murid untuk menulis seperti anak-anak Sanggar Akar  dan kemudian dijadikan kumpulan tulisan siswa seperti buku ini?”. Jawaban umumnya adalah bisa. Lalu mengapa tidak pernah ada buku semacam ini dari para guru bahasa? Mereka menjawab, mungkin belum terpikirkan. Ketika saya tantang, apakah bisa merancang proyek semacam ini melalui penugasan bahasa –yang dalam kurikulum kompetensi mata pelajaran bahasa terdiri atas tiga bagian, yaitu kemampuan membaca, berbicara dan menulis–.  Jawaban yang saya dapatkan hanyalah “senyuman”. Senyuman ini bagi saya bisa berarti macam-macam, mungkin bisa tetapi banyak hambatan, mungkin bisa tapi malas karena akan repot atau tidak bisa karena tidak yakin anak-anak muridnya tidak bisa menulis.

Agak lama saya merenung, betapa hebat Sanggar Anak Akar ini, baru berusia 17 tahun tapi sudah memiliki kumpulan tulisan siswanya. Sanggar Anak Akar –dimana notabene yang bersekolah di Sanggar Akar adalah anak-anak jalanan dan pengamen di sekitar wilayah Jatinegara, Prumpung, Halim, dan UKI (di wilayah Jakarta Timur)–  ternyata mampu mendorong para siswanya untuk menulis. Seseorang bisa menulis kalau membaca. Padahal mereka belajar dengan segala kesederhanaan tetapi hasilnya buat saya sudah sangat luar biasa. Saya kemudian membandingkannya dengan sekolah-sekolah formal yang kaya, yang sudah bertahun-tahun menjadi unggulan di Jakarta misalnya, setahu saya tidak ada yang sudah menghasilkan buku kumpulan seperti yang disusun oleh Sanggar Anak Akar.

Akhirnya, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Sanggar Anak Akar, semoga akan terus bekerja, berbuat dan berjuang untuk anak-anak yang tidak mendapatkan keadilan sosial. (Retno Listyarti, Sekjen FSGI)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s