Pendidikan Berstatus RSBI dan SBI Harus Dikaji Ulang

http://koranbogor.com/nusantara/08/04/2012/pendidikan-berstatus-rsbi-dan-sbi-harus-dikaji-ulang.html

KORANBOGOR.COM,JAKARTA – Kategorisasi sekolah yang terdiri dari sekolah standar nasional (SSN), rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), dan sekolah bertaraf internasional (SBI) perlu dikaji lagi.

Pengotak-ngotakan status seperti diatur dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20/2003 Pasal 50 tersebut dalam prakteknya cuma menciptakan penggelembungan biaya pendidikan secara umum yang mencekik masyarakat kelas bawah.

Penggelembungan biaya itu terutama pada sekolah-sekolah berstatus RSBI yang membagi para siswa ke dalam dua kelas, reguler dan internasional. Demi mengembangkan fasilitas serta sarana prasarana murid-murid kelas internasional, teman-teman mereka di kelas reguler pun ikut dibebankan biaya-biaya tambahan yang memberatkan. Padahal, tidak semua siswa kelas reguler berasal dari keluarga berada.

Seperti terjadi di SMPN 216 Jakarta yang berstatus RSBI. Intan Fahmi, salah satu orang tua murid dari kelas reguler, mengeluhkan banyaknya “tagihan” dari sekolah yang dibebankan kepada mereka untuk menyokong kelas internasional.

“Saya dan orang tua murid lainnya sempat dipanggil menghadiri rapat di SMPN 216, Juli 2011. Diberitahukan, bahwa kami harus membayar Rp4,8 juta/tahun karena ada perubahan status sekolah menjadi RSBI. Lalu ada tagihan Rp1 juta/kelas untuk toilet, Rp1 juta/kelas untuk kolam renang, dan masih ada beberapa (biaya) lagi,” ujar Intan, di sela-sela Testimoni Guru Terkait Implementasi RSBI di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta, Kamis (5-4) lalu.

Padahal, menurut Intan, sebelum beralih status menjadi RSBI, SMPN 216 bebas dari sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) layaknya sekolah negeri pada umumnya.

Tidak berhenti di situ, lanjutnya, di sekolah anaknya itu juga pernah ada intimidasi demi mendapatkan sokongan dana. Kondisi itu tentunya menciptakan ketakutan tersendiri bagi masyarakat kelas bawah untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah dengan embel RSBI, meskipun secara akademik si anak mampu masuk ke sekolah tersebut.

Hal serupa dialami Rama Sulaeman, orang tua murid sekolah bertaraf RSBI, SMAN 22 Jakarta Timur. Para orang tua murid dari kelas reguler, kata Rama, kerap dimintai uang oleh pihak sekolah untuk kebersihan, AC, dan penghijauan. Namun, aliran dana itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Anak-anak masih sering kepanasan di kelas karena AC tidak dinyalakan dan sejak dipasang ternyata AC tidak pernah dicuci. Padahal itu ada di perincian tagihan,” ujarnya.

Masalah

Menurut Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti, lahirnya kategorisasi RSBI tak lepas dari Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang menyebutkan pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan setelah memenuhi standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju.

Namun, kata dia, pada kenyataannya masih banyak masalah yang melingkupi transformasi sekolah berstatus SSN menuju RSBI. Beberapa pihak seperti Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) bahkan telah mengajukan judicial review UU Sistem Pendidikan Nasional pada Mahkamah Konstitusi (MK) sejak Maret.

Kabar teranyar pada Rabu (11-4) mendatang MK akan menggelar kembali judicial review dengan agenda pleno mendengarkan keterangan saksi ahli dari pemohon dan pemerintah.

“Keberatan ini diajukan lantaran biaya sekolah di RSBI memang mahal. Termasuk, bagi guru yang mau menyekolahkan anaknya ke RSBI,” ujarnya. (ikp)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s