Menggugat Pendidikan Kita

Menggugat Pendidikan Kita
Ginanjar Hambali*

Selain mengajar Retno Listyarti, sekarang mempunyai kesibukan lain, meladeni wartawan untuk wawancara, berdiskusi bersama guru-guru di Jakarta terutama di Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), guru SMAN 13 Jakarta itu, juga terkenal karena ikut berperan aktif, menggugat dan mempertanyakan praktek pendidikan yang dianggap menyimpang dari tujuan pendidikan itu sendiri.
Sebagai guru, Retno bersaksi di Mahkamah Konstitusi (MK), menolak kebijakan Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI), sebagai sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menggugat kecurangan Ujian Nasional (UN), dan banyak lagi aktivitas yang disuarakan oleh Retno dalam mempertanyakan kembali praktek yang terjadi dunia pendidikan, sekarang ini.

Tidak banyak guru yang berani seperti Retno, di Indonesia dengan jutaan guru, hanya beberapa saja yang berani bersuara, butuh nyali dan keberanian, untuk menyuarakan kegelisahan, tentunya, alih-alih mendapatkan pujian, malah sanksi yang didapatkan seperti yang diterima oleh Iwan Hermawan guru SMAN di Kota Bandung, tahun 2006, diberi sanksi disiplin PNS oleh Walikota Bandung, atas rekomendasi Mendiknas Bambang Sudibyo berupa penangguhan kenaikan pangkat karena menyampikan adanya indikasi kebocoran UN. Retno pun tak sedikit mendapatkan ancaman, seperti akan dimutasi. Para penggugat, sebut saja begitu, mempunyai kesamaan mencintai dunia mereka sebagai guru, resikonya memang cukup besar dan kadang tidak terbayangkan. Tapi, mereka telah memposisikan diri mempertanyakan kembali praktek-praktek di dunia pendidikan.
Lonceng Kematian

Bagi penganut aliran pedagogik kritis, dunia pendidikan di Indonesia sudah cukup mengenaskan kalau tidak boleh disebut mati. Mochtar Buchori mantan Rektor IKIP Muhamadiyah Jakarta, selama ia masih hidup, pernah menulis “Pendidikan dan ilmu pendidikan di Indonesia sudah menuju pada pintu kematian.” Itulah salah satu statement Mochtar dalam artikelnya yang berjudul “Lonceng Kematian Pedagogi”. Artikel itu telah terbit lebih dari dua puluh tahun lalu di harian Kompas. (Baca; Pendidikan yang Mati Suri; Vico; Sekolah Tanpa Batas).

H.A.R Tilaar menulis Pelaksaan Ujian Nasional dewasa ini antara lain yang hanya didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan kognitif yaitu didasarkan kepada standar-standar yang abstrak yang diambil dari negara-negara industri maju akan menghasilkan berpikir kritis yang keliru. (Pedagogik Kritis:Perkembangan, Substansi, dan Perkembangannya di Indonesia;2011)
Roem Toepatimasang bahkan pernah menulis bahwa sekolah itu sudah seperti candu. Candu, kalau sudah menghisapnya tidak bisa lepas, terlanjur menikmati, kita seolah-olah membayangkan sekolah itu berguna.
Kritikus lain yang banyak melontarkan kegelisahanya terhadap dunia pendidikan, antara lain; Lody Paat dan Jimmy Paat, Winarno Surahkmad, semasa hidup Y.B Mangunwijaya (Romo Mangun, 1929-1999), Darmaningtyas. Termasuk nama-nama yang tidak jelas aliran pedagogiknya, kadang ikut mengkritisi dunia penddidikan.
Sebelumnya, dalam pidato pengukuhan DR HC di Univeristas Gajah Mada (UGM) yang penulis kutif dari situs perguruan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara, menyatakan, “Kita lihat di jaman sekarang masih dipakai bentuk-bentuk “rumah sekolah”, daftar pelajaran yang tidak cukup memberi semangat mencari ilmu pengetahuan sendiri. Karena setiap hari, tiap triwulan, tiap tahun pelajar kita terus menerus “terancam” oleh sistem penilaian dan penghargaan yang intelektualistis. Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tenteram, karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, sebaliknya mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam raport sekolah atau untuk dapat ijazah. Dalam soal ini sebaliknyalah kita para pemimpin perguruan bersama-sama dengan Kementerian PP dan K mencari bagaimana caranya kita dapat memberantas penyakit “examen cultus” dan “diploma jacht” (mengkultuskan ijasah dan diploma).”
Selain Ujian, kritik juga banyak dilontarkan terhadap RSBI. RSBI yang dianggap oleh pemerintah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan, nyatanya-nyatanya dimata para kritikus hanya membuat kastanisasi di dunia pendidikan, berbiaya mahal dan tidak berwatak karakter bangsa. Membuat minder karena yang dianggap maju, dan yang hebat hanyalah mereka yang menguasai bahasa inggris, sehingga mengutamakan penguasaaan bahasa Inggris dan mengabaikan bahasa Indonesia terlebih daerah. RSBI dianggap mengingkari sumpah pemuda yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern.
Tujuan Pendidikan
Apa sebenarnya tujuan pendidikan kita? Seperti ditulis Prof Dr Soedijarto, Indonesia menjadi salah satu negara atau satu-satunya negara yang deklarasi kemerdekaannya tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yang menempatkan “Mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai misi penyelenggaraan pemerintahan negara dan menetapkan kewajiban pemerintahan negara dan menetapkan kewajiban pemerintah, “Mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan”. Kebanyakan negara termasuk Jerman dan Jepang hanya menempatkan ketentuan tentang pendidikan hanya sebagai pasal dalam bab tentang hak-hak warga negara. (Pedagogik yang relevan dengan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional yang mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia; 2011;75).
Tujuan pendidikan menurut Undang-undang No.20 tahun 2003, pasal 1 ayat (1) “sebagai usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suatu proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya. Pasal 3, fungsi pendidikan untuk “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan berkembangnya peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa dan berakhlak mulia, berilmu, sehat, kreatif, cakap, mandiri dan demokratis serta bertanggungjawab.
Pendidikan kita telah tereduksi, nyatanya sebagai usaha sadar dan tidak terencana untuk lulus UN. Mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, agar bisa menghidupi dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungannya, menjadi terabaikan. Melihat kenyataan yang terjadi, apa salahnya kalau guru bertanya, menggugat, dan bergerak, bukankah pernah suatu ketika di negeri ini, banyak pejuang kemerdekaan, guru yang juga aktivis menggugat sistem pendidikan yang dianggap salah.

Guru Menggugat
Ki Hajar Dewantara menggugat sekolah-sekolah Belanda yang didirikan jaman itu, dengan menyatakan, “..Rakyat bertabiat kebelandaan dan (akhirnya) mereka berpisahan dengan hidupnya rakjat dengan memberikan suggestie palsu…sekolah belanda juga bertujuan untuk menjadikan anak-anak sekolah sebagai tenaga rendahan. “Pendidikan kolonial bertujuan mendidik rakjat kita supaja mereka tjakap djadi pembantunya kekuasaan kolonial.” (Baca; Ibe Karyanto; Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar Praksis Alternatif Pendidikan Humanistik;2011;104).
Setelah mempelajari ilmu pendidikan di Barat, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan kemandirian melalui pendidikan. Sementara, Tan Malaka mendirikan sekolah syarekat Islam (SI) memberikan pendidikan pada rakyat jelata, Moh Syafei dari Kayutanam mendirikan pendidikan INS dengan pendidikan alamnya. Moehamad Hatta dan Sjahrir ketika dibuang ke Banda Neira pada priode tahun 1928-1942, oleh Belanda, juga membangun sekolah. Mereka menjadi guru bagi anak-anak Banda Neira, mencerdaskan dan menumbuhkan semangat kebangsaan. (Baca:Jejak Nasionalisem Banda,Bagian 5/Kompas/28 April 2012).
Setelah kemerdekaan dan pasca berakhirnya orde baru, sebenarnya, selalu saja ada guru yang mengugat dunia pendidikan sebagai isu publik, tapi terutama sejak orde baru dan jaman revormasi gugatannya kadang hanya sebuah letupan yang kemudian menghilang, yang lebih besar adalah gerakan guru menuntut kesejahteraan. Beberapa tahun kebelakang, kita melihat sejumlah guru kritis yang tampak ‘mulai’ terorganisir, melontarkan gugatan terhadap dunia pendidikan.

Guru menggugat pendidikan, menjadi catatan menarik, barangkali sebagai pertanda kembali bergeraknya gerakan guru kearah yang lebih luas, dari isu-isu pribadi seperti kesejahteraan, menuntut untuk diangkat menjadi PNS, uang sertifikasi yang dipotong, menjadi isu publik, seperti Ujian Nasional, menggugat RSBI, transparansi APBS sekolah, sekolah murah. Isu publik karena isu-isu itu bukan sekedar kepentingan guru di sekolah, tapi juga kepentingan anak didik dan masyarakat luas.
Guru yang tergerak untuk mengusung isu-isu publik, baik yang mengorganisir secara nasional, organ-organ lokal, maupun individu memang secara kuantitas masih kecil, dibanding guru yang menggerutu dibelakang, marah dengan keadaan yang terjadi tapi tidak bersikap, masih takut untuk bersuara. Barangkali juga masih begitu banyak guru yang menganggap bahwa keadaan dunia pendidikan tidak ada masalah, mereka masih menganggap masalahnya ada pada guru itu sendiri. Barangkali lebih banyak guru yang tidak mau ambil pusing, mereka mengajar dan hanya menunggu gaji tiap bulan plus sejumlah tunjangan.
Tampaknya guru harus belajar dari gerakan buruh atau serikat pekerja. Mereka tampak terorganisir, secara sadar memperjuangkan hak-hak mereka, dan juga kepentingan publik seperti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), rumah murah, pendidikan murah, jaminan sosial dan banyak lagi. Sehingga, masyarakat di luar buruh pun sedikit banyak ikut ‘terwakili’ oleh gerakan buruh.
Semasa orde baru hanya ada satu serikat buruh, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), menurut kemenakertrnas seperti ditulis oleh Kompas, saat ini ada 6 konfederasi buruh, 91 federasi SB/SP. (Isu Pabrik sebagai Isu Publik/27 April 2012). Sementara itu, organisasi guru, semasa orde baru yang dikenal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) saat ini telah hadir beberapa organisasi guru yaitu Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Ikatan Guru Indonesia (IGI), dan sejumlah organisasi guru yang bersifat lokal.
Kita melihat ketika mengusung isu publik, organisasi buruh atau serikat pekerja, sudah mulai bersatu untuk mengusung isu yang sama, walaupun tetap dengan bendera yang berbeda. Sementara guru, masih ada yang ‘ngotot’ sebaiknya organisasi guru hanya satu, seperti jaman orde baru. Padahal, ideologi dan warna perjuangan sudah tampak lain. Bagaimana mau bersatu mengusung isu yang sama, dengan bendera yang berbeda, kalau belum ikhlas mengaku ada yang lain?
Sedikit, boleh juga dianggap kecil, karena pilihan untuk memperjuangkan pendidikan yang berkeadilan sosial, tampaknya bukan pilihan yang menarik bagi banyak guru, namun bukan berarti bahwa gerakan guru yang kritis, harus padam.
Terus berkobar, karena guru bukan hanya bertugas memberi pengajaran, mendorong murid dan mengajak masyarakat merubah keadaan sosial. Guru harus bergerak, banyak membaca, berdiskusi, dan mengorganisir diri, agar bisa tumbuh, berkembang dan mencerdaskan. Kalau tidak begitu, mengutif kata-kata Lody, kita (guru dan masyarakat) dirampok habis-habisan. Dirampok oleh siapa? Kebijakan yang tidak berpihak pada nilai-nilai pendidikan dan tidak seusai dengan tujuan pendidikan.
Pendidikan memang harus terus didiskusikan, digugat, dan dipertanyakan, karena kita sedang mendidik orang, selalu saja ada kelemahan, apalagi kalau tidak dipikirkan dengan matang. Jadi, kenapa marah dengan sikap guru-guru yang bersikap menggugat pendidikan, yang menurut mereka menyimpang? Biasa saja, kecuali memang disana ada proyek, bernilai rupiah. Besarnya? Silahkan hitung-hitung.

Penulis: Guru di Pandeglang. Koordinator Forum Diskusi Guru Pandeglang, Presidium FSGI

 

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Menggugat Pendidikan Kita

  1. HEFNI says:

    Saya sangat apresiatif terhadap keberanian ibu retno dalam perjuangan idealismenya yang berani melawan sistem dan penguasa hitam pendidikan yang sudah menjerumuskan pendidikan kita ini kearah yang sangat terpuruk.
    Saya sangat tertarik untuk ikut bergabung dengan perjuangan ibu retno. saya berasal dari sumenep madura jawa timur siap untuk jadi pioner di daerah kami untuk ikut berjuang bersama melawan kebobrokan pendidikan sekarang ini.
    maka daari itu, bagaimana caranya saya bisa gabunng.

    • Terimakasih saudara Hefni… dengan senang hati kami menyambut kawan-kawan guru Sumenep untuk berjuang bersama demi pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan di negeri ini

  2. Kaprawi says:

    Un bocor bukan rahasia lagi dari dulu sampai sekarang semuanya dari ujung berug samapi ujung tulung dari laut sampai kegunung kalau nak berdasarkan hasil Un yang lulus anak bangsa ini paling 35 % sisanya masuk kubur inlah gambaran dunia pendidikan mulai kepala kepala dinas kepalaa sekolah bilang pacak pacaklah kamu tula mun nak lulus dizaman saya sekolah dulu tidak ada yang namanya diaajari sms ataaupun kunci jawaban kalau dak lulus ya memang daak lulus namun sekrang 2 tahun jadi bupati daapat titel SH 2 tahun laigi MH kapan abis jabatan MP Masuk Penjara ini akibat ijazah meli ilmu nol ngandalkan duit hancur mina rakyat jadi korban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s