Pengalaman Memimpin FSGI (part 1) : Polwan pun Ingin Tahu FSGI

POLWAN Itu Menangis Haru dan Berucap “Teruslah Berjuang”
Oleh : Retno Listyarti

Suatu siang saat sedang antri di salah satu bank milik pemerintah di Jakarta, tiba-tiba handphoneku berdering. Aku menerima telepon dari seseorang wanita yang mengaku sebagai polisi wanita (Polwan), yang bertugas di divisi pendidikan di Markas Besar (Mabes) POLRI di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.Sang penelepon meminta waktu bertemu aku, alasannya mau mendiskusikan tentang kurikulum 2013 dan Ujian Nasional (UN). Aku merasa heran, untuk apa polisi diskusi tentang itu denganku?

Aku akhirnya menyetujui pertemuan esok harinya di Lembaga Bantuan Hukum(LBH) Jakarta bersama beberapa teman organisasiku. Kami juga didamping dua orang Lawyer dari LBH Jakarta yang kerap menjadi kuasa hukum Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi guru yang aku pimpin. LBH ku pilih karena menurutku tempat yang paling aman dan sekaligus mengukur niat baik orang yang akan menemui kami. Kalau sang penelepon berniat baik, pastilah akan datang sesuai janji yang kami sepakati.

Setelah mengajar, jumat sore, sekitar pukul 16 Wib, kami bertemu empat (4) polisi, dua orang Polwan dari divisi pendidikan masing-masing berpangkat Mayor dan dua polisi dari devisi organisasi Mabes POLRI dengan salah satunya berpangkat Letkol dan satunya lagi Mayor.Aku didampingi oleh pengurus FSGI dan Forum Musyawarah Guru Jakarta ( FMGJ)–organisasi lokal FSGI di Jakarta, yaitu Guntur, Fakhrul, Slamet, Singgih dan Abdul Jalil.

Aku membuka pertemuan dengan memperkenalkan dua lawyerku, Ahmad Biky dan Arhan. Aku juga memperkenalkan kelima kawan pengurus organisasiku. Kemudian aku mempersilahkan tamu memperkenalkan diri dan sekaligus mengemukakan apa yg ingin diketahui tentang kurikulum 2013 dan UN dari kami. Saat saling memperkenalkan diri suasana masih terasa kaku, namun begitu mengetahui bahwa Polwan Astuti berasal dari Bima, satu daerah dengan Guntur Ismail (Presidium FSGI), dan Polisi Irawan pernah bertugas di Bima selama beberapa tahun dan muncullah percakapan dalam bahasa Bima diantara ketiganya, maka cairlah suasana diskusi kami.

Kami diskusi ruang tunggu LBH Jakarta, dilantai 2, karena kebetulan seluruh ruang rapat di gunakan. Kami duduk melingkar di sofa yang memiliki 2 sofa kecil dan 1 sofa panjang. Di seberang sofa panjang kami letakan 7 kursi lipat. Aku sendiri duduk di kursi lipat dekat pintu keluar. Dua polwan duduk di sofa panjang dan dua polisi duduk di kursi lipat di smping lawyer LBH Jakarta. Kawan-kawan organisasiku duduk berbaur mengisi kursi yang kosong.

Pertanyaan pertama dari para polisi adalah “apa alasan mendasar FSGI menolak kurikulum 2013 dan UN?”Aku menjelaskan mengenai alasan FSGI menolak UN. Dari sudut pandang sebagai guru, UN sangat tidak adil mengingat Indonesia yang sangat luas dan beragam serta belum meratanya sarana/prasarana pendidikan di negeri ini. Guru berkualitas pun belum merata menyebar di seluruh Indonesia. UN juga telah merampas hak prerogatif kami sebagi guru untuk melakukan evaluasi atau menilai murid-murid kami. Lawyer kami jugamenjelaskan tentang proses hukum mulai dari Pengadilan Negeri (PN), banding di Pengadilan Tinggi (PT)sampai kasasi di Mahkamah Agung (MA) yang dilakukan untuk menghentikan UN. Semua proses peradilan itu di menangkan oleh pihak penggugat. Namun eksekusi sulit dilakukan. Bahkan pemerintah sebagai pihak yang kalah pun belum membayarkan biaya perkara yang hanya sekitar Rp 400 ribu.

Beberapa kawan organisasiku juga mengungkapkan tentang maraknya kecurangan UN, bahkan terjadi secara sistemik dan masif. Bagi kami, hasil UN sama sekali tidak tepat menggambarkan kualitas pendidikan kita. UN yang penuh kecurangan atas nama “prestise” sekolah dan para pejabat bukanlah yang dibutuhkan peserta didik untuk belajar dan juga bukan yang dibutuhkan guru dalam proses pembelajaran. Fungsi pemetaan dalam UN seperti amanat Undang-undang (UU) tak pernah terealisir, yang terjadi fungsi UN sebagai penentu kelulusan lah yang terus dikuatkan. Itulah alasan mengapa FSGI kosisten terus melawan kebijakan UN.

Ketika diskusi memasuki bahasan tentang kurikulum 2013, suasana kekeluargaan sudah terbentuk, sehingga diskusinya berjalan lebih ringan dan terbuka. Para polisi mulai mengtakn bahwa semua hasil diskusi dengan kami akan dilaporkan kepada KAPOLRI selaku pimpinan mereka dan pastinya pemberi tugas.

Kami mengungkapkan keberatan atas kurikulum 2013 karena sesungguhnya bukan itu yang dibutuhkan pendidikan kita. Kami berkeyakinan, sebenarnya anak-anak normal, apalagi cerdas, tidak membutuhkan kurikulum kaku. Terlalu sibuk mendefinisikan hasilan belajar beserta semua proses dan evaluasinya dalam sebuah kurikulum seringkali justru mempersempit hasilan belajar yang bisa dicapai oleh seorang anak.Inilah yang terjadi dengan semua hiruk-pikuk Kurikulum 2013.

Berikut ini adalah alasan substansi mengapa FSGI menolak kurikulum 2013. Kami mengemukannya secara panjang lebar dalam diskusi yang santai:

FSGI menemukan fakta dilapangan, betapa sekolah melalui kurikulumnya bisa memiskinkan makna belajar dapat dilihat dari bagaimana pengertian prestasi saat ini seringkali dipersempit secara tidak perlu, terutama di jenjang pendidikan dasar, sehingga justru berpotensi tidak mendidik anak.Memperoleh nilai rapor yang tinggi dan mengumpulkan berbagai trofi lomba seringkali dipakai sebagai ukuran prestasi. Semakin tinggi nilai Matematika dan sains dinilai sebagai prestasi hebat.Sementara, prestasi di bidang seni dan olahraga kurang diapresiasi.

Sekolah-sekolah di Indonesia saat ini disibukkan dengan banyak hal kecuali belajar. Anak-anak pulang hingga sore, disibukkan dengan try-outs bertubi-tubi, tetapi tidak membaca koran dan buku-buku. Apalagi menulis! Tidak ada waktu untuk itu.Budaya membaca dan menulis tidak berkembang. Budaya bicara pun tidak. Sementara itu praktik dan pengalaman sehari-hari di luar sekolah tidak dihargai. Padahal pengalaman itu bagian penting dari belajar.

Bagi FSGI, masalah pendidikan di Indonesia sangat khas Indonesia dan harus dipecahkan dengan mendiagnosa terlebih dahulu penyakit pendidikan yang sangat Indonesiawi. Beberapa penyakit pendidikan Indonesia yang kronis sebenarnya dapat didiagnosa melalui beberapa assemen internasional. Misalnya saja kualitas siswa Indonesia yang rendah dapat diukur salah satunya melalui hasil TIMMS dan PISA, dimana anak Indonesia hasil tesnya selama 10 tahun terakhir selalu berada di papan bawah, nyaris menjadi juru kunci. Sementara kualitas guru yang rendah juga dapat diukur melalui hasil penelitian yang dilakukan World Bank di 12 negara Asia dan hasilnya guru Indonesia berada diurutan 12 alias juru kunci. Hal ini diperkuat lagi dengan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang sangat rendah, hanya 43 dari skor minimal 70. Selain itu, sistem pendidikan Indonesia menurut hasil assemen Firma Pearson juga buruk, berada pada juru kunci bersama Meksiko dan Brazil.

Penyakit kronis dalam pendidikan yang sudah sangat parah tersebut justru diobati dengan mengganti kurikulum. Padahal kurikulum bukanlah obat yang tepat untuk semuapenyakit itu. Menurut FSGI, ini merupakan kesalahan obat. Karena bagi FSGI, kunci utama mengobati penyakit kronis pendidikan haruslah lebih dahulu membenahi guru. Dan mengubah sikap guru yang sudah bertahun-tahun berjamaah mempraktekkan cara-cara mengajar yang kita bilang keliru (tapi dibenarkan bertahun-tahun oleh pengawas sekolah) bukanlah hal yang mudah. Diperlukan usaha sungguh-sungguh untuk mengubah mindset guru, salah satunya melalui berbagai pelatihan yang bagus, terencana, berkelanjutan dan terukur.

Menurut FSGI, Pelatihan-pelatihan guru seharusnya bersikap berkesinambungan, berkelanjutan dan masif. Namun pemerintah justru tidak melakukan itu. Data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menunjukkan hal itu. Kami melakukan survey di 29 kota dan kabupaten hasilnya ternyata 62% guru SD tidak pernah mendapatkan pelatihan bahkan hingga menjelang pensiun. Ada satu guru berumur 57 di daerah Pandeglang, ketika mengisi kuisioner kami, ia menyatakan baru mendapatkan pelatihan satu kali selama menjadi guru yaitu pada 1980. Maka tidak heran kualitas guru rendah. Kalau kita bicara mengenai tetangga kita Singapura, guru-guru mereka dilatih 100 jam per orang per tahun. Pelatihan tersebut dibagi 10 kali dalam setahun, dan selama pelatihan murid-muridnya diliburkan. Jadi anak-anak di Singapura hanya masuk 192 hari dari 365 hari, tapi kualitas pendidikan mereka nomor satu.

Pada prinsipnya, guru sangat berpengaruh pada kualitas pendidikan. Tidak mungkin menciptakan murid kreatif kalau gurunya tidak kreatif. Tidak mungkin menciptakan murid kritis kalau gurunya tidak kritis. Tidak mungkin menciptakan murid-murid yang berani berpendapat dan memiliki gagasan, berani punya ide, berani melakukan inisiasi, kalau gurunya penakut dan pengecut. Guru adalah yang pertama harus dibenahi. Kedua adalah kepala sekolah dan pengawas sekolah karena mereka adalah penjaga mutu terdepan.

Mengutip Tan Malaka, pendidikan sejatinya adalah untuk mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan. Ketika orang terdidik, maka dia akan tajam dalam berpikir, kritis, kemudian halus perasaannya. Yang dimaksud Tan Malaka adalah dia peduli pada orang yang diperlakukan tidak adil, tertindas, dan peduli pada bangsa ini. Artinya, belajar di sekolah itu tidak sekadar hanya berpikir mikro, tapi harus makro, bahwa anak anak didik ini harus diajak ikut resah atas bangsa ini. Jadi dia harus diajak untuk berpikir bahwa masa depannya ditentukan sekali oleh pemimpin yang ada dan bagaimana masa depannya sangat ditentukan oleh kondisi yang sekarang dibangun oleh pengelola negara dan pendidikan.

Tak terasa dua jam kami berdiskusi, tibalah saatnya diskusi harus diakhiri. Sang tamu pun memberikan kesan penutup dari diskusi kami. Polwan Astuti sebagai juru bicara berkata perlahan dan serak menahan tangis, beliau mengaku terharu atas semua perjuangan FSG bagi terwujudnya pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan di Indonesia. Dengan suara tertahan, Polwan Astuti mengakhiri kesannya dengan berkata “…..teruslah berjuang”. Kami semua saling bersalaman, bertukar nomor handphone dan berfoto bersama. Penuh kekeluargaan dan penuh keharuan……. (Jakarta, 2013)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s