Pengalaman Memimpin FSGI (part 2) : Aksi Walk-out Dihadapan JK dan Mendikbud

Nekat Aksi Walk-Out Dihadapan JK dan Mendikbud Di Konvensi UN
Oleh : Retno Listyarti

Aksi Walk Out dalam sidang PBB maupun sidang-sidang parlemen di seluruh dunia adalah hal yang biasa. Tapi barangkali tak biasa jika dilakukan oleh seorang guru PNS, perempuan pula, dalam suatu Konvensi UN di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Walk out adalah salah satu pernyataan sikap atas ketidaksetujuan atau penolakan terhadap suatu keputusan. Aksi inilah yang menginspirasiku untuk nekat melakukannya dihadapan Jusuf Kalla, Muhamad Nuh (Mendikbud), Musliar Kasim (Wamendikbud), seluruh pejabat eselon 1 Kemendikbud dan seluruh peserta Konvensi UN yang merupakan perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia.

Aksi bersejarah dalam hidupku ini kulakukan bersama 3 kawan perempuan pemberani, yaitu Itje Chodidjah, Ifa Hanifa Misbach dan Karina (Anyi). Kami melakukannya tanpa komando karena persiapan yang serba terbatas, namun aksi ini berjalan mulus dan sesuai target. Liputan media pun dasyat.

Tak Percaya Diundang Resmi

Dari seorang wartawan yang meliput pra konvensi UN di Bali, aku mendapatkan kabar percakapan saat konfrensi pers berlangsung muncul pertanyaan dari salah seorang wartawan “apakah ibu Retno yang kerap menolak UN akan diundang dalam Konvensi UN di Jakarta?”. Musliar Kasim (Wakil Menteri bidang Pendidikan) menjawab sambil menengok Syawal Gultom (Kepala PPSDM-PMP) “nanti bu Retno akan diundang ya pak Syawal”. Pak Syawal langsung mengiyakan ucapan pak Musliar.

Sejak pra konvensi tersebut banyak wartawan yang kerap menanyakan apakah aku sudah mendapatkan undangan konvensi UN. Sampai H-3 Konvensi UN undangan belum juga ku terima. Aku berpikir, mungkin Kemendikbud memang tak berani mengundangku.

Namun, pada selasa 24 September 2013 dini hari, saat terbangun untuk sholat malam dan membuka BB, aku melihat ada email masuk pukul 2.38 WIB dari Bambang Indriyanto (Ketua Konvensi UN)…. “Haaahhh Kemendikbud akhir mengundangku!” teriakku dalam hati. Meski terkenal sebagai penentang UN selama bertahun-tahun, akhirnya Kemendikbud mengundang aku juga sebagai pihak yang kontra seperti sering diungkapkan oleh para pejabat Kemendikbud “yang pro dan kontra akan kami undang”, begitu ungkap M. Nuh di beberapa media.

Berulang kali ku baca isi email tersebut. Rasa tak percaya masih menyergapku. Tak percaya tapi nyata. Senang tapi bingung. Senangnya karena aku memang ingin membuat perlawanan dalam konvensi tersebut, aku menyakini bahwa konvensi UN ini hanya ajang menghamburkan biaya karena hasilnya sudah jelas bahwa pemerintah tetap ingin menjalankan “proyek UN”. Namun bingungnya, gimana caranya?

Muncul Ide Aksi Walk Out

Rabu, 25 September 2013 aku mengajar seperti biasa di SMAN 13 Jakarta. Hari itu aku mengajar penuh 8 jam atau 4 kelas. Sepulang mengajar aku terus berpikir “apa yang harus ku lakukan besok untuk menolak UN dalam Konvensi UN nanti?”

Aku tak mau kehadiranku dalan konvensi UN akan di klaim telah menyetujui kesepakatan hasil konvensi UN, dimana konvensi ini yang awalnya ku perkirakan akan membicarakan UN dilanjutkan atau tidak, ternyata sudah diarahkan untuk membicarakan hal-hal teknis, yaitu “percetakan soal dan persentasi keluluasan. Artinya UN tetap dilaksanakan. Puluhan masalah UN di reduksi hanya pada 2 hal teknis dan sama sekali tidak menyentuh hal-hal yang substantif.

Kalau konvensi UN itu aku ikuti hingga akhir maka tak ada gunanya juga karena penolakan UN bagiku selama ini bukan soal teknis semata tp lebih substantif. Maka berarti, aku harus tetap hadir dalam konvensi UN untuk menghormati pengundang tetapi harus menyuarakan penolakan yang jelas dan harus di liput media. Aku memutuskan untuk melakukan suatu aksi yang unik, satu-satunya ide yang melintas di kepalaku adalah aksi walk out di pembukaan konvensi UN.

Melaksanakan Aksi Walk Out

Sejak bangun pagi, aku terus gelisah memikirkan rencana aksi WO. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalaku bagaimana teknis melakukannya, apa yang harus ku katakan saat microfon berada di tanganku, apakah mungkin M.Nuh sebagai moderator akan memberiku kesempatan, kalau saat tanya jawab aku tak kebagian ditunjuk bagaimana nanti?

Aku berpikir bahwa aksi WO ini tak mungkin ku lakukan sendiri, maka sejak pagi di milis Koalisi Reformasi Pendidikan (KRP) sudah ku infokan rencana aksi WO-ku dan ku minta dibantu. Walaupun yang tergerak membantu dengan aksi nyata hanyalah segelintir orang, namun aku tetap semangat. Uniknya bantuan justru datang dari para perempuan KRP. Uluran tangan yang pertama datang dari Ifa Misbach yang menawarkan menyatukan ide yang berserakan di milis untuk bahan pres release. Ifa rupanya berkoordinasi dengan Bukik dan Donie Koesuma untuk mempersiapkan release, Ifa juga menggandakan release serta bahan lain yang akan dibagikan kepada para peserta konvensi UN, saking banyaknya yang difotocopy, Ifa sampai harus utang dengan tukang fotocopy. Bantuan berikutnya datang dari Itje Chodidjah dan Anyi yang bersedia hadir menemani dan ikut membagikan buku “Hitam UN”, Anyi datang bersama suaminya yang kemudian menjadi juru foto KRP dalam aksi ini.
Kami berlima berkumpul di hotel Century, setelah semua kumpul, kami masing-masing membawa buku “Hitam UN” sepuluh eksemplar di tas yang kami bawa. Sesampai di gedung D Kemendikbud Senayan Jakarta, kami berlima disambut oleh panitia penerima tamu yang rata-rata mengenalku, karena diantara mereka kerap menyebut namaku saat mempersilahkan dan mengantarku ke kursi yang sudah mereka siapkan.
Kami berlima terpencar dalam ruangan pertemuan yang sangat luas itu. Ruangan itu dibentuk setengah lingkaran dengan deretan kursi yang diarahkan menghadap panggung. Kami masuk dari pintu paling kanan, kecuali Ifa yang masuk dari pintu tengah. Aku duduk di barisan kedua sejajar dengan bu Itje yang berada di barisan pertama. Sedangkan Anyi dan suaminya berdiri di belakang pada posisi lorong antara barisan pertama dan kedua. Aku mulai bingung dengan posisi kami yang sling berjauhan, kami pun belum membicarakan teknis WO secara detail. “Berarti Ifa, Itje, dan Anyi akan bergerak berdasarkan perintahku. Untuk itu, aku harus mendapat mic, bagaimanapun caranya,” tekadku dalam hati.
Saat kami memasuki ruangan pertemuan, Jusuf Kalla (KJ) sedang berbicara sebagai narasumber kunci dalam Konvensi UN. Saat aku duduk di kursiku, aku terus memutar otak bagaimana caranya mendapatkan kesempatan pertama saat sesi tanya jawab nanti. JK terus berbicara yang untuk otak dan hatiku sulit ku terima, aku terus sibuk berpikir agar aksi WO dapat berjalan sesuai rencanaku. Dalam hati aku berharap sesi JK lebih lama lagi agar aku punya kesempatan panjang untuk berpikir melancarkan aksi WO. Aku mulai mengirim bbm ke para wartawan yang kontaknya ada di BB ku. Aku ingin aksi ini mendapat liputan luas dari media agar suara penolakan UN tetap muncul di banyak media. Tiba-tiba ruangan terasa mencekam bagiku, JK berhenti bicara dan M. Nuh sebagai moderator mulai mengambil alih microfon. Jantungku berdebar lebih kencang, aku mulai mempersiapkan diri untuk mengacungan tangan agar bisa mengambil kesempatan menanggapi.
Sontak keberanianku mulai muncul. Aku berdiri dan melambaikan lima jariku, tapi Menteri nampaknya tak mau melihatku. Aku mulai maju tiga langkah ke depan dan mulai mengangkat kedua tanganku, aksiku membuat para peserta Konvensi tampak terpukau dan lupa mengacungkan jari, sehingga dalam ruangan yang berisi hampir 400 orang itu hanya aku yang mengacungkan tangan. Tentu saja, suka tidak suka, mau tidak mau, Mendikbud mempersilahkan ku bertanya. Aku mengambil kesempat emas ini untuk menyampaikan pernyataan FSGI dan KRP atas ketidaksetujuan terhadap UN.
Begitu mic ditanganku, akupun mulai bicara, “Saya dan kawan-kawan tidak mau dilegitimasi oleh Kemdikbud, yang menganggap sudah mengajak pihak yang pro dan kontra dalam mengambil keputusan soal UN,” ujarku.

Keputusan walk out kulakukan bersama kawan-kawan setelah melihat adanya ketidakseimbangan komposisi undangan maupun narasumber antara yang pro dan kontra terhadap UN. “Jadi, UN di dalam konvensi ini tidak dikritisi secara substansi, hanya sebatas pembahasan teknis-teknis yang sebenarnya bisa dibahas di internal Kemdikbud. Dan yang diundang hanya orang-orang yang sepakat dengan UN,” ujarku berai-api.

Aku juga menilai bahwa dalam Konvensi UN, persoalan UN yang kompleks juga direduksi hanya menjadi dua persoalan yang sederhana, yakni soal teknis penggandaan soal dan komposisi kelulusan UN.

Aku juga mempertanyakan kehadiran Jusuf Kalla dalam Konvensi UN. Mantan Wakil Presiden RI ku pandang sebagai seorang politisi yang tidak memiliki kompetensi untuk melihat persoalan UN secara akademik. “Kalau UN ini kajiannya akademik, tapi pembicara kunci yang dihadirkan adalah seorang politisi, bukan akademisi,” ujarku

Menurutku seharusnya sistem pendidikan di Indonesia dibuat untuk mengakomodasi kemampuan siswa secara maksimal. UN dinilai justru memunculkan praktik-praktik yang memberi kesan buruk dalam pendidikan. “Kita semua tahu kalau UN itu memancing siswa untuk nyontek dan berbuat curang lainnya. Belum lagi ada korupsi dalam penyelenggaraan UN seperti yang telah diaudit oleh BPK. Ini kan mengajarkan anak-anak kita untuk korupsi juga,” pungkasku.

Aku mengemukakan tuntutan agar Konvensi UN menetapkan UN hanya sebagai pemetaan, bukan menentukan kelulusan. Selain itu, tiap daerah nanti bisa menyelenggarakan ujian sendiri. “Tergantung pada kondisi masing-masing provinsi,” usulku.

Di akhir pernyataan aku menambahkan pemerintah sudah melalaikan putusan Mahkamah Agung (MA) terkait UN. Menurutnya, bagaimana mungkin delapan standar nasional pendidikan belum terpenuhi, namun pemerintah sudah menyamakan evaluasi.”Rupanya kementerian dan pejabat pendidikan tidak patuh pada hukum yang sudah inkrah. Dilarang melakukan UN, tapi selalu berkilah bahwa yang menentukan adalah negara,” kataku.

Aksi WO ku diikuti oleh aktivis KRP lain antara lain pelatih guru Itje Chodidjah, Ifa Misbach dari Fakultas Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) serta Anyi aktivis KRP. Aksi WO juga di iringi oleh puluhan kamera wartawan yang meliput Konvensi UN. Kami berjalan keluar sambil membagikan siaran pers dan buku berjudul “Buku Hitam Ujian Nasional”. Aksi WO tersebut sempat membuat ricuh suasana pembukaan konvensi karena diwarnai sorakan dari peserta lain. Sungguh pengalaman yang luar biasa…….(4 November 2013)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s