Pengalaman Memimpin FSGI (part 3): Besarnya Dukungan Keluarga

Suami Mendukungku Sebagai Praktisi Pendidikan, Penulis dan Aktivis Guru
Oleh : Retno Listyarti

Suamiku adalah lelaki yang luar biasa bagi kesuksesan karirku. Dialah pendukung utamaku dan rela berkorban apapun untuk mendukungku dalam segala hal. Dia memiliki permakluman yang luar biasa terhadap semua kekuranganku dan kesalahanku. Mungkin kalau tidak menikah dengannya, aku tak mungkin memiliki pencapaian seperti sekarang. Nama suamiku Mochmad Basuki Winoto, aku biasa menyapanya dengan “Maswin”.

Kami pertama kali berkenalan di suatu aksi demo warga Tanah Merah di depan kantor Walikota Jakarta Utara di tahun 1992, sejak itu kami kerap bersama-sama berjuang bersama warga Tanah Merah Plumpang Jakarta Utara , selama kurang lebih 14 bulan. Pada 8 Agutus 1993 kami menikah di hadapan jenasah ayahku , pernikahan dipercepat dari rencana semula karena ayahku wafat. Sekarang kami sudah mengarungi biduk rumah tangga selama 20 tahun dan dikaruniai 1 putri bernama Aulia Dirayati Putri (19), dan 2 putra bernama Maulvi Muhammad Adib (16) serta si bungsu Gemilang Prilo Muhamad (4).

Suamiku memberikan kebebasan bagiku untuk berorganisasi dan berkarir. Saat ekonomi keluargaku masih pas-pas-an, dia tetap mengijinkan aku mendampingi Kelompok Ilmiah Remaja Jakarta Utara (KIRJU), padahal sebagai pembina KIRJU waktuku tersita cukup banyak mendampingi kegitan anak-anak KIR, tidak dibayar, bahkan sering mengeluarkan uang. Alhamdulillah, cukup saja rejeki kami sekeluarga. Hal ini ku lakukan mulai tahun 1998 sampai 2006.

Maswin juga mendukungku untuk menyalurkan talenta menulisku. Pada tahun 2004, bukuku yang pertama diterbitkan oleh Erlangga. Senang dan bangga sekali rasanya mencapai obsesi memiliki publikasi ilmiah di saat usiaku 34 tahun. Kebahagian ini tidak lama karena bukuku yang kedua (buku teks PKn untuk SMA kelas 2 KBK 2004) yang baru terbit Mei 2005 ternyata pada 31 Juli 2005 disomasi oleh Akbar Tanjung (AT), karena memuat “Dissenting opinon Andul Rahman Saleh untuk kasus Buloggate”. Karena aku menolak mengganti 2 halaman kasus tersebut, AT memutuskan menggugatku secara perdata dengan mengganti kerugian immateril sebesar Rp 10 milyar yang kemudian di ralat menjadi Rp 1 juta. Saat menghadapi kasus ini selama berbulan-bulan di pengadilan negeri Jakarta Utara, Maswin yang saat itu bekerja di Aceh (NAD) memutuskan keluar dari pekerjaanya dan mendampingiku menghadapi kasus ini bersama-sama. Dukungannya sungguh sangat berarti bagiku. Ketika aku memutuskan “melawan” gugatan AT, maka resikonya tentu tidak kecil, namun dia selalu dan terus mendukung keputusanku untuk melawan.

Pada tahun 2005-2007, saat Maswin bekerja di Medan (Sumatera Utara) dengan ukuran gaji yang lumayan besar, dia mendukungku untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang strata 2 (S2). Aku dibantunya membiayai kuliah di pasca sarjana Universitas Indonesia (UI) jurusan Politik dan Hubungan Internasional kajian Islam dan Timur Tengah. Alhamdulillah, studiku terbilng lancar, aku lulus dengan cum laude dengan IPK mencapai 3.7 pada tahun 2007.

Tahun 2007 buku teks PKn SMK untuk kelas X sampai XII dan buku teks PKn SMA kelas X sampai XII (KTSP) terbit sehingga total bukuku yang diterbitkan mencapai 9 judul buku. Gugatan yang dilakukan AT ternyata memberikan berkah tersendiri buatku, buku ajar PKn SMA dan SMK yang ku tulis lumayan laku, sehingga royalti bukuku terus meningkat dari tahun ke tahun sampai kami bisa membeli mobil dan rumah di daerah Kelapa gading, Jakarta Utara. Dukungan keluarga atas kelancaran menyelesaikan buku-bukuku sangat berpengaruh, suamiku memainkan peran sangat penting dalam hal ini.

Sejak 2010, aku kembali bergairah untuk berorganisasi, kali ini aku ingin membentuk dan memimpin organisasi guru, obsesiku organisasi guru yang berbeda dengan organisasi guru yang sudah ada, organisasi guru yang kritis. Namun sayangnya sulit sekali membangun organisasi guru semacam itu, karena banyak guru masih enggan berorganisasi dan masih takut pindah organisasi meskipun kebebasan berorganisasi bagi guru sudah dijamin dalam Undang-undang No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Tapi, aturan itu masih sebatas aturan, Cuma di atas kertas, tak pernah disosialisasi aplagi dipahami oleh guru.

Akhirnya, pucuk dicinta ulam tiba Gubenur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengeluarkan peraturan gubenur No 215/2010 tentang Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) yang mendiskriminasi TKD untuk guru sebaga tenaga fungsional terhadap TKD tenaga Struktural. Para guru TKD –nya disamaratan (tidak berdasarkan golongan) tetapi tenaga struktural TKD-nya besarannya di dasarkan pada golongannya. Yang lebih menyakitkan persama-rataan TKD pun dihitung sama dengan TKD tenaga struktural yang terendah yang hanya lulusan SD (Sekolah dasar). Kebijakan ini ternyata membuat para guru PNS meradang hebat dan terjadi gerakan guru PNS pertama kali di DKI Jakarta yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ). Inilah momentum kebangkitan semangatku untuk mulai membangun organisasi guru yang berbeda.

FMGJ lahir pada 16 Maret 2010 dan aku terpilih sebagai ketua umum periode 2010-2015. Pada 25 Januari 2011 berdirilah Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan aku terpilih sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) periode 2011-2015. FSGI beberntuk federasi sehingga anggotanya adalah organisasi guru daerah, bukan individu. Individu menjadi anggota organisasi daerah. Karena FMGJ menjadi salah satu anggota FSGI, maka aku melepaskan jabatan ketua umum ketika terpilih sebagai Sekjen FSGI pada Kongres Nasional I FSGI di Jakarta.

Tak terasa aku sudah memimpin FSGI selama 4 tahun tanpa donor kecuali sumbangan dan iuran anggota. Meski penuh keprihatinan sebagai organisasi baru dan serba memiliki keterbatasan, namun FSGI berkembang pesat menjadi 21 anggota dan nama FSGI sangat dikenal public karena sepak terjangnya yang kritis….. Suamiku adalah satu-satunya orang yang selalu menemani jatuh bangunnya upayaku membangun FSGI dan dia senantiasa mendukung aktivitas dan perjuanganku di FSGI tanpa henti meski penuh resiko…….. Terimakasih Maswinku, I love you (Jakarta, Oktober 2014)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s