Retno Listyarti : Tetaplah Berkobar By Ginandjar Hambali

Retno Listyarti, diberhentikan sebagai Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta. Kembali menjadi guru biasa, di SMAN 13 Jakarta. Kabar menyebar, dia tidak menerima pemecatan, stres sampai menabrakan mobilnya. Lalu, dia muncul dengan riang, seperti membantah kabar buruk, bahwa si tukang kritik itu baik-baik saja, seperti terbaca di Koran Tempo Minggu. Wajahnya terlihat berseri, mengaku kini memiliki waktu untuk membaca dan menulis, sebuah keistimewaan yang tidak bisa dilakukan ketika menjabat sebagai kepala sekolah. Tapi, mengapa melakukan gugatan hukum?

Menurut perempuan kelahiran Jakarta tahun 1970 itu, ketika kami bertemu, beberapa hari sebelum serah terima jabatan kepala sekolah, juga seperti ditulis sejumlah media termasuk Koran Tempo, gugatan hukum bukan untuk mengembalikan jabatan, namun sebagai bentuk perlawanan atas kebijakan yang dianggapnya sewenang-wenang. Retno dipecat dari jabatannya sebagai Kepala Sekolah, karena dianggap melalaikan tugas sebagai Kepala sekolah, saat Ujian Nasional (UN). Melalaikan?

Retno, mencoba menyanggah, sebagai kepala sekolah dia telah mempersiapkan pelaksanaan UN jauh-jauh hari, datang sebelum pukul enam pagi ke sekolah, melakukan rapat persiapan UN. Lalu, memenuhi undangan talkshow salah satu stasiun televisi untuk membicarakan kebocoran UN selama sepuluh menit, kembali ke sekolah sebelum pukul delapan pagi. Retno, barangkali melakukan kesalahan. Jadi, menulis kepala sekolah keluyuran, disusul berita rencana kepindahan ke Perguruan Tinggi tanpa pernyataan yang bersangkutan, sungguh terlalu, karena hanya menghasilkan olok-olok, sebab orang biasa pun tahu mutasi dari guru menjadi dosen, ada aturan yang sangat sulit untuk dilakukan. Berita negatif tentang Retno, terus bermunculan, seolah-olah Retno melakukan kesalahan yang pantas dipecat, sebagai kepala sekolah juga sebagai PNS, padahal kalau ‘wartawan’ mau sedikit membaca tentang aturan pemecatan PNS, barangkali beritanya tidak teralu bombastis.

Pada akhirnya, terlepas dari berita yang terkesan membunuh karakter Retno, Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama, yang dulu dikagumi setengah dipuja, kemudian mencopotnya sebagai kepala sekolah. Sebagai pribadi maupun sebagai Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno terkesan selalu melawan; menentang Ujian Nasional (UN) sebagai syarat utama kelulusan, menentang politisasi guru pada Pilkada DKI Jakarta, mengkritisi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasonal (RSBI), mengkritisi kebijakan kurikulum 2013, banyak lagi. Barangkali, tidak banyak guru yang berani lebih-lebih dia perempuan, ucapan dan pernyataannya banyak diminati media. Media yang dulu diyakininya sebagai teman untuk memperluaskan gagasan dan pemikiran. Sebagian menganggapnya arogan, keras kepala, merasa paling benar. Kritik halus sampai kasar mudah ditemukan di laman facebook-nya. Mengaku berulang-ulang diancam mau dibunuh. Banyak pula yang memuji langkah-langkahnya. Menangisi pemecatannya, menyalaminya dengan hormat, mengungkapkan kekaguman.

Retno mengaku mencintai profesinya, mencintai murid-muridnya. Ketika Retno menjabat kepala sekolah, peringkat UN IPA SMA 3 yang dulunya rangking ke-126 menjadi ke-59, UN IPS dari ke-100 menjadi ke-57, jalur undangan PTN dari 13 menjadi 31 orang. Usaha memutus mata rantai kekerasan patut diapreasiasi. Sebelumnya, sebagai guru dia menghasilkan karya tulis, puluhan buku dan puluhan artikel. Beberapa kali menjadi juara lomba menulis.

Terlepas dari kelemahan dan kelebihannya, Retno, seperti simbol keberanian mengungkapkan apa yang terjadi pada guru-guru. Sebab, sejak Retno si tukang pengungkap itu, ditimpa persoalan, nyaris tidak ada guru, yang berani menyuarakan tanggapan terkait kebocoran UN SMP, secara terbuka dan blak-blakan. Pada titik ini, betapa mahal dan berharganya keberanian menyuarakan kejadian apa yang dilihat, dirasakan, dan disaksikan, untuk perbaikan dunia pendidikan. Selamat menjadi guru biasa yang luar biasa, Retno. Tetaplah berkobar dengan lebih hati-hati! (Ginandjar Hambali)

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s