Kisah Awal Sebagai Kepsek SMAN 3 (Part 1)

Diminta Kadis Pendidikan untuk Memimpin SMAN 3 Jakarta
Oleh : Retno Listyarti

Pada suatu sore yang cerah, ditengah kemacetan Jakarta aku menyetir mobil dengan santai dari kantorku, SMAN 76 Cakung, Jakarta Timur, menuju kantor Dinas Provinsi DKI Jakarta di jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. Sore ini aku dijadwalkan bertemu dengan Lasro Marbun, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, aku didampingi Guntur Ismail, kawan seperjuangan dalam pendidikan. Setelah berjibaku dengan kemacetan Jakarta selama sekitar 130 menit, tibalah kami di gedung Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang halaman parkirannya mulai sepi dari mobil, waktu menunjukkan pukul 17.30 wib.

Di ruangan yang cukup luas, sekitar 5 x 6 meter persegi aku merasa begitu nyaman dengan penerimaan sang Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik)yang begitu hangat dan bersahaja. Kami duduk berhadapan di meja kerja beliau, sementara Guntur duduk di sisi kananku, tepat dihadapan Kadisdik. Meja kerja Kadis berada di pojok kiri pintu masuk, dekat jendela. Meja yang cukup besar dan kokoh itu tidak dipenuhi tumpukan kertas kecuali perlengkapan alat tulis dan sebuah telepon kabel. Di hadapan pak Lasro, ada tumpukan kertas yang tidak seberapa tebal yang siap ditandatangani.
Keterbukaan dan keramahan Lasro Marbun setiap kali aku bertemu denganya, telah menghilangkan sekat-sekat antara atasan dan bawahan, beliau sangat cair dalam berdialog. Sikapnya yang lebih banyak mendengar daripada berbicara sungguh membuat kami merasa di dengar, merasa dihargai dan merasa tidak pernah takut menyatakan pendapat atau melaporkan suatu temuan di lapangan. Setiap mendengarkan yang kami sampaikan, beliau selalu serius menyimak dan sekali-kali tampak mencatat. Pemandangan yang tidak biasa jika berhadapan dengan para birokrat.

Setelah berdiskusi beberapa temuan lapangan, akhirnya Kadisdik memulai pembicaraan tentang SMAN 3 Jakarta. Sekolah tua yang pernah menjadi sekolah teladan tersebut terletak di jalan Setiabudi II, Jakarta Selatan tersebut dinyatakan Lasro Marbun sebagai salah satu sekolah yang budaya kekerasannya sudah berlangung bertahun-tahun lamanya. Kadisdik menyatakan info tersebut berasal dari masyarakat yang melaporkan langsung kepada Basuki Tjahaya Purnama (Gubenur DKI Jakarta) pasca meninggalnya 2 siswa kelas X SMAN 3 Jakarta dalam suatu kegiatan pelantikan anggota ekskul pecinta alam SMAN 3 Jakarta yang dikenal dengan nama Sabhawana.
Akibat peristiwa tersebut, Dinas Pendidikan DKI Jakarta menindak tegas dengan membubarkan Ekskul Sabhawana, mencopot Kepala Sekolah, memutasi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dan memecat guru Pembina Ekskul Sabhawana.Kasus kematian kedua siswa tersebut juga akhirnya di laporkan kepada pihak berwajib oleh orangtua salah satu korban, proses pengadilannya pun sudah dilakukan dengan vonis tertinggi 3 tahun terhadap pelaku.

Lasro Marbun mengaku sudah blusukan ke SMAN 3 Jakarta untuk membuktikan semua laporan yang diterima Gubenur Ahok. Beliau menyatakan benar adanya semua data yang masuk, kondisinya sangat memprihatinkan dan memerlukan penanganan khusus. Saat melaporkan hasil blusukan ke Gubenur, Lasro Marbun menyampaikan bahwa budaya kekerasan SMAN 3 Jakarta dan kondisi sekolah yang kurang kondusif membutuhkan seorang pemimpin yang berani, tangguh, berintegritas moral dan bersih. Gubenur Ahok meminta pak Lasro memilih kepala sekolah yang memenuhi kriteria tersebut untuk dapat membenahi SMAN 3 Jakarta.

“Untuk itulah, saya memanggil bu Retno, karena sepanjang pengamatan saya, dari 180 kepala SMAN/SMKN di Jakarta, hanya ibu yang memenuhi kriteria tersebut. Pak Ahok juga setuju dengan pilihan saya, jadi kami akan mutasi ibu ke SMAN 3 Jakarta desember 2014. Ibu silahkan menyelesaikan dahulu program sekolah bersih, akuntabel dan transparan di SMAN 76 Jakarta,” ujar Lasro Marbun kepadaku.
Beribu pikiran berkecamuk dibenakku saat mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Kadisdik. Aku bingung mau jawab ya atau tidak. Di satu sisi aku khawatir apa yang ku bangun selama 9 bulan di SMAN 76 Jakarta belum kuat benar tetapi harus segera ku tinggalkan karena ada tugas lain yang menanti. Namun, disisi lain aku merasa sangat tersanjung dengan pilihan istimewa yang dikemukakan kadisdik. Beliau dan pak Ahok menilai aku sanggup menjalankan amanat “memutus mata rantai kekerasan di SMAN 3 Jakarta” untuk menciptakan sekolah yang aman, nyaman dan ramah anak. Sebagai “prajurit”, aku memang harus bersedia ditempatkan di manapun.
Akhirnya, pada 19 desember 2014 Surat Keputusan (SK) mutasiku ke SMAN 3 Jakarta ditandatangani dan pada 29 desember 2014 aku dilantik oleh Kadisdik DKI Jakarta bersama ratusan kepala SD, SMP, SMA dan SMK negeri yang juga dimutasi dengan berbagai alasan. Pak Lasro sempat menyatakan padaku bahwa penempatanku di SMAN 3 Jakarta hanya sampai Juni 2015. Harapanku, setelah Juni 2015 pk Lasro akan bersedia menempatkan aku kembali ke SMAN 13 Jakarta, tempat pengabdianku selama hampir 15 tahun sebagai guru.

Sambil melangkahkah kaki ke parkiran untuk menghampiri mobilku, aku terus berpikir dan mulai membulatkan tekad untuk bersiap menghadapi apapun kelak yang akan ku lakukan di SMAN 3 Jakarta untuk pembenahan, sudah terbayang beratnya, karena aku sadar, kehadiranku mungkin tak dikehendaki banyak orang. Apalagi masalah yang harus ku selesaikan adalah masalah berat dalam pendidikan di negeri ini, yaitu kekerasan Dalam Pendidikan. “Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Kuasa, aku memastikan diri untuk melangkahkan kakiku ke SMAN 3 Jakarta, semoga Allah melancarkan dan memudahkan segala langkahku….aamin yra,” ucapku mantap dalam hati.

Jakarta, 29 Desember 2014

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kisah Awal Sebagai Kepsek SMAN 3 (Part 1)

  1. tias says:

    Assalamualaikum Wrb

    Salam hangat,

    Setelah membaca tulisan-tulisan dalam blog ibu, kami menyadari betapa berharganya pendidikan khususnya bagi Bu Retno. Sangat di sayangkan jika semangat Ibu tidak diberitakan atau diteruskan pada generasi muda yang dimana saat ini hanya mementingkan kepentingan individual, tidak suka pelajaran PKN, tidak suka menjadi guru dan ogah memedulikan perihal pendidikan.

    Untuk itu, kami sangat berharap meminta kesediaan Bu Retno untuk melakukan wawancara dengan kami. Hasil wawancara ini bukan untuk kepentingan media ataupun komersial lainnya, melainkan untuk kabar dan motivasi bagi para mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta. Harapan kami Ibu bisa menularkan semangat dan kisah pada para mahasiswa supaya mereka peduli pada nasib pendidikan bagi kaum remaja-pemuda di negri tercinta ini.

    Jika Bu Retno berminat silakan kirimkan nomor telepon Ibu ke email: riyanitias@hotmail.com sebelum tanggal 4 July 2015.
    Saya akan merasa lebih senang jika Ibu menerima permintaan dari kami.

    Mohon maaf jika ada salah kata atau ketidaksopanan dari comment ini mengingat kami sama sekali susah menghubungi ibu.

    Terima kasih Bu Retno🙂

    Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s