Kisah Sebagai Kepala SMAN 3 Jakarta (Part 2)

HARI PELANTIKAN DAN PERASAAN AKAN KEHILANGAN SOSOK LASRO MARBUN
Oleh : Retno Listyarti

Siang hari yang cerah selepas makan siang masuk sms undangan pelantikan ke handphoneku, saat itu aku sedang bekerja di ruanganku seperti biasa. Undangan itu sesungguhnya tidak terlalu mengejutkanku, tetapi kepala tata usaha (TU) SMAN 76 Jakarta, Sayuri dan stafnya Imam Sucahyo sempat kaget juga. Akhirnya jadi juga aku dimutasi dari SMAN 76 ke SMAN 3 Jakarta. Setelah tiga bulan terakhir santer beredar kabar aku akan di mutasi ke SMAN 3 atau SMAN 8 Jakarta, karena beritanya memang sudah tersiar kemana-mana, termasuk di SMAN 3 Jakarta sendiri.

Bahkan, 2 minggu sebelum undangan pelantikan tiba, Guntur Ismail mendapatkan tugas khusus dari Kadisdik untuk sidak ke SMAN 3 Jakarta. Hasil sidak menunjukkan data bahwa ada kekhawatiran dari para guru SMAN 3 Jakarta menerima kehadiran Retno Listyarti sebagai kepala sekolah. Hal tersebut sudah diprediksi Kadisdik, mengingat reputasi Retno Listyarti yang sudah dikenal publik sebagai aktivis guru yang tegas dan berani. Selain itu, banyak juga birokrat di lingkungan dinas pendidikan DKI Jakarta “tidak rela” jika aku yang notabene adalah kepala sekolah baru kok bisa ditempatkan di sekolah besar dan unggul seperti SMAN 3 Jakarta. Karena budaya sebelumnya, kepala sekolah yang ditempatkan di SMAN 3 Jakarta adalah kepala sekolah senior, bukan kepala sekolah yang baru menjabat selama 9 bulan dan di sekolah “pelosok”, jauh dari pusat kota pula.
Pelantikan Kepala Sekolah, 29 Desember 2014

Selama di SMAN 76 Jakarta, ada dua orang yang sangat dekat denganku dan menjadi kepercayaanku, beliau adalah Sayuri (Kepala TU) dan staf TU, Imam Sucahyo. Saking percayanya, nyaris tak ada hal yang ku tutupi dengan keduanya terkait manajemen SMAN 76 Jakarta. Layolitas keduanya tidak pernah ku ragukan sedikitpun. Oleh karena itu, tak heran ketika undangan pelantikan tiba, Sayuri dan Imam Sucahyo ingin mendampingiku, tentu saja aku tidak keberatan. Pelantikan bertempat di gedung Nyi Ageng Serang, pasar Festival, Jl Rsuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 29 desember 2014 jam 14 wib.
Siang itu terik panas matahari sangat menyengat, dengan menggunakan mobil sekolah, Sayuri dan Imam Sucahyo mendampingiku pelantikan. Ikut serta bersama kami, Agus Jaya, kepala SMAN 92 yang akan dimutasi ke SMAN 76 Jakarta, Agus adalah kepala sekolah penggantiku, kebetulan rumah beliau dekat sekali dengan SMAN 76 Jakarta, jadi agar efektif, kami janjian berangkat bareng. Pukul 11 wib kami berangkat dari cakung, perjalanan kami cukup lancar dan tiba di pasar festival sekitar pukul 12.30 wib.
Sesampai di pasar festival, kami makan siang dahulu di resto “Es Teler 77”, entah kebetulan atau tidak, kami berempat memesan menu yang sama, yaitu sop iga. Menu yang tepat di saat lapar menyerang dan memang sudah jam-nya makan siang, rasanya nikmat sekali, entah karena memang enak atau memang kitanya yang sedang kelaparan….hehehe. Yang membuat tambah nikmat, karena santapan ini gratis, ternyata pak Sayuri mentraktir kami, Alhamdulillah, terimakasih pak!

Setelah makan siang, kami segera mencari mushola, agak bergegas karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 wib, maklum saja, undangan pelantikan jam 14 wib. Walau biasanya rada ngaret waktunya, namun kami tetap juga bergegas, ada rasa tidak enak kalau terlambat, apalagi sengaja terlambat.

Parkiran pasar festival yang begitu luas nampak penuh mobil berbagai merk, sejurus memandang tampak banyak orang di pasar festival yang mengenakan atasan putih dan bawahan hitam, rupanya mobil-mobil itu milik para kepala sekolah yang akan dilantik. Konon kabarnya, ada sekitar Sembilan ratusan kepala sekolah dan pengawas TK, SDN dan SMPN yang dilantik, baik pengangkatan baru maupun yang dimutasi, mereka dilantik lebih dahulu, sekitar pukul 11 wib. Sedangkan pelantikan baru akan dilaksanakan pukul 14 wib, khusus kepala sekolah dan pengawas SMAN/SMKN DKI Jakarta.

Saat tiba di depan Aula Nyi Ageng Serang, situasinya sangat padat dan tidak beraturan. Kami yang baru datang agak kebingungan karena tidak jelas dimana kami harus mengisi daftar hadir, sementara melalui pengeras suara, panitia terus menerus meneriakan agar para kepala sekolah dan pengawas sekolah yang akan dilantik diminta memasuki ruangan aula dan berbaris sesuai dengan wilayahnya. Akhirnya, aku memutuskan untuk langsung masuk tanpa mengisi daftar hadir. Namun, sesampai di ruangan aula, kebingungan kembali menerpaku, pasalnya aku tidak tahu harus berdiri di barisan Jakarta Timur (asal sekolah lamaku) atau Jakarta Selatan (tempat baru penugasanku). Kebingungan bertambah lagi karena tidak jelas mana rombongan Jakarta Timur dan mana rombongan Jakarta selatan. Aku memutuskan berdiri dimana saja dan langsung mengikuti gladi bersih pelantikan dipandu oleh panitia.

Aku berdiri di barisan paling belakang, barisanku kebetulan dekat pintu masuk aula, biar mudah keluar nantinya pikirku. Saat sedang serius mengikuti acara gladi bersih, reflek aku menengok pintu aula dan nampaklah sosok yang begitu ku hormati dan ku kagumi, sosok yang selama 11 bulan berjuang bersama membenahi pendidikan Jakarta, Lasro Marbun, orang nomor satu yang memimpin Dinas Pendidikan DKI Jakarta selama 11 bulan terakhir. Tanpa canggung, aku menghampiri beliau dan menyalami, seperti biasa beliau menyambut hangat dan kali ini aku merasakan perbedaan genggaman tangannya padaku, lebih erat dan lebih lama, seolah beliau mengirimkan pesan khusus untukku.
Belum selesai pikiranku mencoba mencari makna pesan itu, tiba-tiba kami semua peserta pelantikan dan para pejabat di lingkungan dinas pendidikan diperintahkan oleh pembawa acara untuk bersiap diri mengikuti prosesi pelantikan. Ruangan yang tadinya hinggar bingar berubah menjadi sunyi, prosesi pelantikan dimulai dan ku lihat di atas panggung Lasro Marbun berdiri tegak dengan wajah agak “galau”. Tubuhnya yang kecil dan kian kurus selama di Dinas Pendidikan tampak berdiri di tengah-tengah panggung. Karena perawakannya yang kecil, maka aku harus berjingkat untuk melihatnya dari posisiku yang berada di belakang, jauh dari panggung.

Tak terasa, sebelas bulan waktu yang cukup singkat untuk menikmati kebersamaan dengan seorang Lasro Marbun, pribadinya yang bersahaja dan tegas, perilakunya yang bersih dan berani, kecerdasannya yang luar biasa namun rendah hati membuatku “berkawan dekat” dengan beliau. Kami memiliki banyak kesamaan visi di bidang pendidikan.

Selama duapuluh satu tahun aku menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Dinas PendidikanDKI Jakarta, tapi baru kali ini aku merasakan memiliki kepala dinas pendidikan yang luar biasa, mendekati sempurna bagiku. Kepala Dinas yang nyaris tak memiliki sekat atasan vs bawahan, kepala dinas yang tak sungkan menceritakan kegalauan hatinya menyaksikan kondisi lapangan, kepala dinas yang cermat memahami kebutuhan lapangan dan membuat regulasi yang dibutuhkan, kepala dinas yang bersih dan bertekad melawan korupsi di pendidikan. Sambil memandangi sosoknya yang sedang memberi sambutan, pikiranku terus kemana-mana, aku baru menyadari bahwa ini adalah detik-detik terakhir Lasro Marbun memimpin Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Aku membatin, ya Tuhan, aku akan kehilangan teman berjuang di pendidikan. Mungkinkah ku dapatkan sosok birokrat seperti Lasro Marbun?

Aku tak bisa kosentrasi penuh mengikuti prosesi pelantikan. Pikiranku mengembara mengingat kembali saat aku di panggil ke ruangannya untuk mendapatkan tugas baru di SMAN 3 Jakarta. Dengan kesatunannya, beliau bertanya “bersediakah aku membantunya membenahi SMAN 3 Jakarta? Saya tidak menemukan figure lain untuk membenahi sekolah itu kecuali bu Retno. Masalah di sekolah itu berat dan sudah sangat kompleks,” ujar Lasro Marbun. Awalnya aku keberatan, namun dengan kesatunannya dan demi perjuangan memutus mata rantai kekersan di pendidikan, aku akhirnya menyatakan bersedia.

Siang ini, di ruangan yang tak sejuk lagi karena penuh sesak manusia, aku menetes airmata, terbayang beratnya tugasku di SMAN 3 Jakarta dan tanpa di temani oleh Lasro Marbun. Aku mulai berpikir, sanggupkah aku?…..Sambil mengucap sumpah jabatan yang didiktekan Lasro Marbun dari tengah panggung, aku terus merenung dengan airmataku terus mengalir. Aku harus sanggup, kataku dalam hati, Lasro Marbun pasti membantuku dengan caranya jika aku mengalami kesulitan kelak. Aku yakin, dia tidak akan meninggalkan aku jika aku menghadapi masalah nantinya.

Tanpa terasa pelantikan berakhir. Hari itu, aku tak lagi berjumpa dengan Lasro Marbun seusai pelantikan. Kami berempat menaiki mobil dan bergegas pulang. Mobil kami kali ini penuh penumpang karena ada 3 pengawas yang searah pulang dengan kami ikut menumpang. Aku turun di masjid dekat Vespa (Kelapa Gading) di jemput suamiku, sementara mobil sekolah terus melaju untuk kembali ke SMAN 76 Jakarta, terimakasih pak Sayuri dan pak Imam karena sudah menyediakan waktu, pikiran dan tenaga untuk mendampingiku selama ini hingga detik terakhir, aku akan selalu mengingat semua kebaikan anda berdua……..

Jakarta, 30 Desember 2014

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s