Hasil Liputan Catahu 2015 Pendidikan FSGI

Hindari Egoisme Struktural

RICHALDO Y HARIANDJA

 

Senin, 4 Januari 2016

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2016/01/04/ArticleHtmls/Hindari-Egoisme-Struktural-04012016012009.shtml?Mode=1#

Dunia pendidikan di Tanah Air masih belum terbebas dari kekerasan terhadap anak. Egoisme struktural dinilai menjadi salah satu penyebabnya.

MASALAH kekerasan dalam dunia pendidikan hanya bisa disele saikan lewat kerja sama an tarlembaga. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus dapat bersinergi dengan Komisi Perlindungan Anak Indone sia dan Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menjelaskan salah satu hal yang perlu dikerjakan lewat sinergi itu ialah sosialisasi UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Instruksi Presiden No 5/2014 tentang Gerakan Nasional Antikejahatan Seksual terhadap Anak, dan UU No 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

“Kalau itu sudah dilakukan, Dinas Pendidikan serta orangtua akan mengerti peran mereka dalam pencegahan kekerasan,” ucap Retno saat di temui selepas memaparkan catatan akhir tahun FSGI di Jakarta, kemarin.

Dengan demikian, ujarnya, kasus-kasus kekerasan dapat dicegah dari tingkat keluarga dan dukungan dari pihak terkait dalam penyelesaiannya.

Pasalnya, tingkat kekerasan di dalam pendidikan sudah men jurus ke arah mengkhawatirkan.

Retno mengutip data Plan Indonesia pada 2014 yang mencatat 7 dari 10 pelajar di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Bahkan 43% pelajar tidak bertindak apa-apa saat melihat kekerasan itu terjadi.

“Ini menunjukkan implementasi undang-undang tersebut masih lemah,” lanjut Retno.

Belum lagi, penyelesaian ka sus-kasus kekerasan di dunia pendidikan di beberapa daerah kurang mendapat dukungan dari dinas pendidikan terkait. “Ada kegamangan dari sekolah karena mereka takut mendapat perlawanan dari orang tua dan tidak adanya dukungan dinas pendidikan,” tambah Retno.

 

Selain itu, menurut Retno, guru harus memiliki keterampilan untuk menyelesaikan kasus kekerasan. Sayangnya, hanya sedikit guru yang memiliki keterampilan tersebut.

Oleh karena itu, pemerintah diminta tidak hanya menguji kompetensi guru dalam bidang akademis karena kompetensi guru di kelas bukan hanya soal kemampuan menguasai bidang yang diajarkan. Ungkapan itu juga disuarakan Itje Chodidjah dari Dewan Pertimbangan FSGI dalam kesempatan sama. Menurut Itje, guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar materi akademis. Sayangnya, uji kompetensi guru hanya berfokus pada kemampuan akademis. Kemampuan itu hanya terpakai 30% di dalam pengajaran. “Pemerintah harus mampu menaikkan kemampuan nonakademis guru karena hal itu juga penting bagi seorang guru yang berpengaruh kepada siswa.“ Berorganisasi Dalam kesempatan itu, Retno juga mengapresiasi rencana pemerintah menata organisasi profesi guru yang ada sesuai dengan janji Presiden Joko Widodo lewat pidato yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan.Dengan penataan, diharapkan organisasi profesi guru bebas politik, independen, dan lebih fokus memajukan pendidikan nasional.

“Yang terjadi di daerah, ketua dari organisasi-organisasi guru banyak yang berasal dari internal Dinas Pendidikan. Hal tersebut tentu akan mematikan keberanian guru melawan birokrasi yang terkadang menghalangi kreativitas guru,“ terangnya. (H-1) richaldo@mediaindonesia.com

 

EMAIL

richaldo@mediaindonesia.com

 

 

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s