Akhirnya Menang : Perjuangan Kita Berhasil!

Setelah melalui proses sidang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta selama lima bulan, maka pada kamis,  7 Januari 2016,  pukul 11.00 wib,  akhirnya tiba saatnya mendengarkan putusan hakim  atas gugatan No. 165/G/2015/PTUN-Jakarta antara Retno Listyarti melawan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terkait Surat Keputusan pemberhentian Retno Listyarti sebagai Kepala SMAN 3 Jakarta.

Ada perasaan dag dig dug saat aku memasuki ruang sidang yang berukuran sekitar 10 x 8 meter. Dalam ruang sidang yang didominasi warna hujau, tampak ketiga hakim sudah duduk di posisinya, begitupun panitera. Pengunjung sidang juga cukup banyak, hampir semua kursi terisi, mereka terdiri dari para wartawan dan kawan-kawan seperjuangan. Ada kameramen metrotv dan Net.tv, juga terlihat beberapa wartawan media online dan cetak dari Republika, Kompas, Wartakota, Koran Tempo, Suara Pembaharuan, dan lain-lain.

Aku dengan tim lawyer dari LBH Jakarta duduk di sisi kiri hakim, sedangkan tim lawyer Dinas Pendidikan DKI Jakarta duduk di seberang kami. Hakim ketua, Tri Cahya Laksana, kembali menawarkan perdamaian sebelum putusan dibacakan, namun kedua belah pihak menolak berdamai dan memohon keputusan hakim atas perkara ini.

Suasana hening dan cukup tegang ketika hakim mengetuk palu untuk memulai persidangan. Hakim menjelaskan bahwa satu hakim sedang cuti dan telah ditunjuk hakim pengganti. Keduabelah pihak maju ke meja hakim untuk memastikan surat keputusan penunjukan hakim pengganti. Hakim ketua kemudian membuka map berisi surat keputusan perkara dan secara bergantian ketiga hakim membaca surat keputusan tersebut halaman demi halaman.

Suasana ku rasakan cukup mencekam dan hening, ketegangan di rasakan semua pihak, termasuk para pengunjung. Hakim membacakan semua uraian proses dan menetapkan satu persatu dasar keputusan. Aku merasakan ketegangan luar biasa, apalagi uraian hakim kadang memberi optimisme menang, namun terkadang menjadi pesimis.

Ketegangan mencair ketika hakim membacakan “…….menurut majelis hakim kesalahan penggugat adalah pelanggaran ringan yang hukumnya adalah teguran, bukan hukuman berat berupa pemberhentian sebagai Kepala Sekolah. Dengan demikian tergugat sudah menghukum secara sewenang-wenang dan melanggar asas proporsionalitas sebagaimana diatur dalam UU PTUN….”. Aku langsung mengucapkan syukur dan tak terasa menetes airmata keharuan.

Selanjunya terdengar dengan begitu indah di telingaku ketika Hakim Ketua memnyatakan mengabulkan seluruh gugatan, memerintahkan pencabutan SK No.355/2015 tentang pemberhentian Retno Listyarti sebagai Kepala SMAN 3 Jakarta, memerintahkan kepada pemprov DKI Jakarta untuk memulihkan harkat, martabat dan kedudukan Retno Listyarti sebagai Kepala Sekolah, dan membebankan biaya perkara Rp 276.00 kepada tergugat.

Usai pembacaan putusan, para pengunjung sidang langsung mengucapkan selamat atas kemenanganku, termasuk awak media. Berita di salah satu media online yang ku baca 2 jam setelah putusan PTUN cukup mengejutkanku, mereka memberi judul “Ahok Kalah, PTUN Menangkan Gugatan Retno”. Lebih mengejutkan lagi esok harinya ketika membaca media cetak Wartakota, jumat 8 Januari 2016, kemenangan ini menjadi headline di halaman muka, dan halaman 11 dengan judul besar “Retno Listyarti Banjir Ucapan Selamat”.

Kemenangan ini telah membayar semua kegetiran dan kepiluan yang ku rasakan selama hampir 8 bulan lamanya. Esensiku menggugat ke PTUN adalah untuk melawan arogansi dan kesewenang-wenangan, bukan untuk jabatan. Aku sudah tidak berminat sama sekali untuk menjadi kepala sekolah lagi. Kemenangan ini makin meneguhkan niatku untuk terus berjuang di pendidikan. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap kritis apapun resikonya.

Terimakasih dan penghargaan tinggi untuk tim lawyer dari LBH Jakarta yang selalu mendampingiku dalam perjuangan selama11 tahun terakhir……Salam perjuangan!

 

Jakarta, Minggu, 24 Januari 2016

Retno Listyarti  (Pendidik, Penggiat Pendidikan dan Sekjen FSGI)

 

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s