Plong-nya Hati Ibu Longga

Longga Rajagukguk adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di salah satu SMP di Jakarta Timur. Saat ada seleksi terbuka lelang jabatan eselon 3 dan 4 di lingkungan Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2014,  Bu Longga mendaftar dan lulus serta dilantik menjadi Kepala Tata Usaha (TU) SMPN  di wilayah Jakarta Timur, jabatan ini di DKI Jakarta selevel dengan eselon 4.

Bu Longga, begitu aku biasa memanggilnya, sejak 2010 aktif dalam organisasi guru di Jakarta organisasi Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) yang kemudian berganti nama Serikat Guru Indonesia Jakarta (SEGI Jakarta). SEGI Jakarta kemudian bergabung dengan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Meski usianya sudah tidak terbilang muda, namun semangatnya untuk aktif  berorganisasi sangat luar biasa. Bahkan Bu Longga pun tak ragu turun ke jalan untuk melakukan aksi demonstrasi dalam perjuangannya. Semangatnya dan keberaniannya patut diacungi dua jempol.

Perjuangan bu Longga bersama SEGI Jakarta dan FSGI tak pernah surut meski berbagai resiko harus dihadapinya, mulai dari menerima ejekan rekan-rekan guru sampai tekanan dari atasannya dengan berbagai bentuk. Namun, semua resiko itu terus dihadapinya dan tidak pernah terlintas dipikirannya untuk berhenti berjuang apalagi keluar dari SEGI Jakarta. Bu Longga baru mengajukan pengunduran diri setelah dilantik menjadi pejabat eselon 4. Berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, yang bukan guru memang tidak boleh menjadi anggota organisasi profesi guru. Sebagai pejabat struktur, bu Longga memang bukan guru lagi, bukan pegawai fungsional, jadi tidak berhak lagi menjadi pengurus organisasi profesi guru.

Saat baru menjabat sebagai Kepala TU SMP, bu Longga juga kerap mengalami “bully” dari berbagai pihak karena stigma sebagai mantan aktivis SEGI Jakarta/FSGI. Di berbagai sekolah, masih banyak pendidik dan tenaga kependidikan yang belum memahami UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, apalagi masih kuatnya atmosfir “PGRI”  di kalangan para pendidik dan tenaga kependidikan di negeri ini. Sehingga yang dialami oleh Bu Longga adalah hal yang biasa juga dihadapi oleh teman-teman seperjuangan FSGI di seluruh Indonesia.

Saat kasus “pencopotanku sebagai kepala SMAN 3 Jakarta” menjadi pemberitaan besar, Bu Longga juga mengalami dampak, semakin di bully karena di media berita sangat tidak seimbang, sehingga seluruh keluarga besar FSGI di berbagai wilayah di Indonesia mengalami juga dampaknya. Di bangun kesan bahwa FSGI adalah organisasi illegal, diimage kan bahwa Sekjen FSGI adalah guru dan kepala sekolah “ga bener”, dan sebagainya.

Tekanan dari birokrat juga tak kalah “kenceng” saat itu, bahkan ada yang dipaksa menuliskan surat pengunduran diri secara tertulis di atas materai dari kepengurusan FSGI. Hampir semua pengurus SEGI Jakarta dalam pantauan, dicari-cari kesalahannya. Beberapa kegiatan SEGI Jakarta pun minim dihadiri anggota karena mereka rata-rata ketakutan. Situasi sangat mencekam, bahkan ancaman pemecatan terhadap saya pun sudah digaungkan resmi dalam pertemuan Dinas Pendidikan DKI  Jakarta dengan komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI).  Kondisi ini betul-betul ujian berat bagi keluarga besar FSGI di seluruh Indonesia, terutama Jakarta.

Saat pendaftaran gugatan di PTUN Jakarta, hanya 3 orang aktivis SEGI Jakarta yang berani mendampingiku, yaitu Heru Purnomo, Sugih Subandria dan Euis Nurjanah. Sedangkan saat proses sidang berlangsung, hanya Abdul Jalil Kasim saja yang pernah hadir. Namun, saat pembacaan putusan cukup banyak kawan seperjuangan yang hadir, bahkan hadir Purnaman perwakilan dari SEGI Purbalinga.

Pagi itu, kamis 7 Januari 2016, sekitar jam 10.00 wib, aku didampingi suamiku,tim lawyer, 2 orang rekan kerja suamiku serta rekan-rekan seperjuangan di FSGI duduk mengobrol santai di lobby ruang tunggu PTUN Jakarta, mereka adalah Purnaman, Heru Purnomo, Sugih Subandria, Abdul Jalil Kasim, Fathyatur Rohmah, dan Slamet Maryanto.  Kami semua siap menerima apapun keputusan pengadilan, yang paling buruk sekalipun.

Majelis hakim ternyata mengabulkan semua gugatanku, aku memenangkan gugatan di PTUN melawan Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta. Secara cepat berita kemenangan ini kami sebarkan ke semua jaringan FSGI di Indonesia, baik melalui grup-grup whatshap, FB, FP maupun twitter. Dalam waktu singkat kabar yang mebahagiakan ini tersiar cepat dan direspon banyak pihak, ucapan selamat pun membanjir, salah satunya dari Bu Longga yang meneleponku langsung ketika kami sedang syukuran makan siang di RM Sederhana tidak juah dari gedung PTUN Jakarta.

Beberapa kawan seperjuangan menyusul hadir ke tempat kami makan siang karena begitu bahagianya mendengar kemenangan ini, mereka adalah Ujang Subiatun, Aida, Guntur, dan bu Longga. Bu Longga sempat menelepon sebelum menyusul kami di RM Sederhana, beliau minta ditunggu agar bisa silaturahmi dengan teman-teman FSGI.

Saat tiba di RM Sederhana, bu Longga langsung memelukku erat dan menangis. Beliau sangat terharu dengan kemenangan ini, dalam keharuan yang menyesakan dada, bu Longga bertutur bahwa semua tekanan yang dia rasakan selama berbulan-bulan ini langsung buyar, beban berat itu  hilang. Semua hinaan, cacian dan semua hal yang mendeskreditakan aku, FSGI, dan perjuangan kami seolah tertelan bumi. Ada kepuasan luar biasa yang dirasakannya, inilah yang disebut makna hakiki perjuangan, perasasaan kemenangan melawan keswenang-wenangan penguasa.  Hanya para pejuang yang dapat merasakan indahnya kemenangan ini….

 

Jakarta, 15 Pebruari 2016

 

About retnolistyarti

Perempuan energik dan cerdas, guru inovatif dan kreatif, penulis buku, penulis artikel, peneliti pendidikan, dan aktivis organisasi guru yg merdeka "FMGJ". Di FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta) Retno menjabat sebagai ketua umum dan sebagai Sekjen di Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), organisasi di level nasional. Ibu 3 anak dari Audi, Ulvi dan Ilo. Mengajar sejak 1994. 3 tahun mengajar di SMA Labschool, 3 tahun di SMPN 69 dan mulai tahun 2000 s.d. sekarang mengajar di SMAN 13 Jakarta (sekolah dimana dulu Retno menjadi muridnya). Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. Saat ini sedang menyelesaikan 2 buah buku tentang perjuangan guru melawan sistem yang menindas dan pengalaman praktik kelas yg kreatif dan inovatif. Retno juga berencana menulis buku tentang perjuangannya di bidang pendidikan mulai saat menjadi guru, kepala sekolah dan sekjen FSGI.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Plong-nya Hati Ibu Longga

  1. jaka says:

    Bu Retno L. berjuang di garda depan sbg peran utama.Tmn2 FSGI/SEGI Jakarta ikut mendorong perjuangan dan mendo’akan allhamdulillah Allah SWT mengabulkan kemenangan.Bravo Bu Retno L.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s