OPINI: Nilai Nol di Rapor Peserta Didik

Nilai Nol di Rapor Peserta Didik

RETNO LISTYARTI

Kompas Cetak, 15 September 2016 1 komentar

Mendapatkan nilai nol dalam ulangan atau tugas mungkin pernah dialami sebagian orang, tetapi memperoleh nilai nol (0) di rapor rasanya sulit dipercaya. Namun, kejadian ini dialami salah seorang siswi di SMA Negeri 4 Bandung.

Mencuatnya kasus ini ke publik tentu saja mengejutkan banyak pihak. Hal ini berpotensi menimbulkan keraguan masyarakat untuk memercayai nilai yang diberikan guru dan sekolah.

Meskipun pihak sekolahsudah mengklarifikasi di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa itu bukan nilai nol, melainkan kosong alias belum diisi, tetap saja faktanya di rapor tertulis ”0” bukan dikosongkan. Ada kelalaian manajemen sekolah yang telah memberikan rapor bernilai nolyang sudah ditandatangani kepala sekolah dan wali kelas, bahkan lengkap dengan stempel sekolah, bukti bahwa pelayanan sekolah buruk.

Bukan kesalahan teknis

Dalam matematika, kita hanya mengenal bilangan nol, genap dan ganjil, tidak ada bilangan kosong. Artinya, secara defacto dan dejure nilai rapor siswi tersebut adalah nol karena tidak mungkin rapor yang siap dibagikan nilainya dikosongkan.

Jika sekolah hanya berpijak padaalasan kesalahan teknis operasional pengolahan nilai, itu hanya melihat dari hasil akhir. Padahal, kesalahan teknis itu disebabkan oleh peristiwa yang mendahuluinya, sebagaimana dikemukakan orangtua korban di sejumlah media. Ada sebab-akibat mengapa sekolah sampai memberikan nilai nol di rapor. Inilah yang seharusnya didalami KPAI karena orangtua korban memercayakan penyelesaian kasusnya ke KPAI.

KPAI dalam pemeriksaan awal mengakui adanya unsur kelalaian sekolah yang secara implisit membuktikan buruknya pelayanan sekolah terhadap peserta didik. Pemberian nilai nol di rapor telah membuat korban malu, tidak percaya diri, dan depresi.

KPAI sejatinya tidak berhenti pada pengakuan sekolah yang menganggap pemberian nilai nol di rapor sebagai kesalahan teknis operasional semata. KPAI harus menggali peristiwa sebelum nilai rapor diberikan karena di situlah benang merah dari kekerasan psikis yang dialami korban. Bagaimana mungkin peristiwa pendahulunya selama berbulan-bulandiabaikansehingga publik harus percaya bahwa itu semata-matakarena kesalahan teknis tanpa ada latar belakang peristiwa yang mendahuluinya.

Ada indikasi bahwa guru Matematika, wakil kepala sekolah (bidang kurikulum), dan kepala sekolah telah lalai memerhatikan persoalan individu siswa yang sedang menderita sakit dengan diagnosis astigmat miop compositus ODS dansikatrik kornea ODS, sebagaimana hasil pemeriksaan dokter mata Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.

Di balik kekurangan memiliki penyakit tertentu, sehingga berujung pada kecepatan dan kesempurnaan mengumpulkan tugas khususnya pada mata pelajaran Matematika kelompok peminatan, seharusnya bagian kurikulum dan kepala sekolah turun tangan. Hal ini melihat dan memerhatikan sisi kelebihan dan potensi si anak yang mendapat kepercayaan mewakili SMAN 4 Bandung dalam olimpiade biologi tingkat wilayah,sesuai Surat Keterangan Kepala Sekolah Nomor: 421.3/848-SMA.04/2016.

Pemberian nol dengan standar indikator melihat keaktifan siswa dari kecepatan mengumpulkan tugas akademik, sesungguhnya dalam hal ini guru baru menerapkan salah satu dari empat kompetensi guru, yaitu kompetensi profesional. Masih ada tiga kompetensi lagi yang wajib dimiliki guru, yaitu kompetensi sosial, pedagogik, dan kepribadian, sebagaimana diatur dalam Pasal 10 UU No 14/2005.

Memberi nol dan tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki, melengkapi, dan menyusulkan tugas yang belum sempurna—padahal situasi dan kondisi masih memungkinkan—dapat dikategorikan melanggar peraturan dan perundang-undangan sebagai berikut.

Pertama, guru tidak memahami dan salah tafsir Kurikulum 2013 yang mewajibkan memproses, menganalisis penilaian kepada siswa secara portofolio, dengan melihat dan memerhatikan siswa sebagai individu dan pribadi yang unik, berbeda dengan siswa lain. Keadaan siswa yang sedang menderita sakit dan perlu perawatan dokter dan memperjuangkan sekolah menjadi peserta olimpiade biologi seharusnya jadi indikator adanya pertimbangan fleksibel kemudahan dan rasa maklum pengumpulan tugasnya dapat disusulkan.

Kedua, kewajiban guru memiliki kompetensi dan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional telah diatur pada Pasal 8 UU Guru dan Dosen (UU No 14/2005). Ketidakmampuan guru menjalankan tuntutan kurikulum adalah persoalan besar, serius, dan jadi perhatian publik karena yang bersangkutan bukan saja melanggar UU Guru dan Dosen, melainkan juga nyata melanggar UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Ketiga, UU Sisdiknas Pasal 12 mengatur kewajiban sekolah memfasilitasi kebutuhan peserta didik demi tercapainya penyaluran minat, bakat, dan kemampuan. Tidak memberi kesempatan kepada siswa mengumpulkan tugas secara susulan sangat berpotensi mematikan kreativitas siswa.

Keempat, mematikan kreativitas siswa, pemberian nilai nol, dan menolak memberi kesempatan mengumpulkan tugas adalah faktor utama penyebab dan pendorong siswa diputuskan tidak naik kelas oleh SMAN 4 Bandung pada tahun pelajaran 2015/2016. Kesalahan proses pelayanan, sistem pengolahan nilai yang berdampak munculnya nilai nol yang berujung pada kesalahan mengambil keputusan tidak naik kelas bagi siswa adalah termasuk perbuatan melanggar hukum dan kode etik guru.

Lewat jalur pengadilan

Kelima, mengingat adanya bukti perlakuan kepada siswa yang didahului penolakan memberi kesempatan menyempurnakan tugas, adanya pemberian nilai nol, dan berakibat siswa tidak naik kelas, maka ditinjau dari hubungan sebab-akibat telah layak diselesaikan melalui proses hukum, yaitu pengadilan tata usaha negara, pidana, dan perdata. Tuntutan pelanggaran yang dapat diajukan di antaranya pelanggaran kewajiban menjalankan tugas profesi guru yang diatur Pasal 20, UU No 14/2005.

Keenam, memahami dan memaklumi siswa yang kurang berdaya karena sedang ditimpa penyakit dengan cara memberi kesempatan dan kemudahan mengumpulkan tugas secara menyusul adalah kebiasaan yang sudah lahir, terpelihara, dan hidup bertahun-tahun sehingga dapat diterima oleh bangsa Indonesia sebagai hukum tidak tertulis, nilai dan etika yang diakui oleh masyarakat. Acuan tersebut diatur Pasal 20 UU No 14/2005.

Ketujuh, mengacu padasurat edaran Direktur PSMA No 5182/D4/LK/2015 tentang Pemberlakuan Panduan Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan, maka kasus pemberian nilai nol di rapor siswi SMAN 4 Bandung pada mata pelajaran Matematika bukan hanya kesalahan guru, melainkan juga manajemen sekolah.Ketika ada siswa tidak memiliki nilai harian, guru bersangkutan seharusnyamenagih tugas ke siswa yang nilainya belum lengkap, bukan menyerahkan nilai nol di akhir tahun dengan alasan siswa tidak mengumpulkan.

Menurut ketentuan yang berlaku untuk penilaian dalam Kurikulum 2013, laporan pada hasil penilaian pendidikan pada akhir semester dan akhir tahun (rapor) ditetapkan dalam rapat dewan guru berdasarkan hasil penilaian oleh pendidik dan hasil penilaian oleh satuan pendidikan. Ketika peserta didik hanya memiliki nilai UAS, maka sudah seharusnya sekolah mempertanyakan dan memeriksa guru yang tidak menyerahkan nilai harian anak. Sekolah harus menyelidiki mengapa guru bersangkutan tidak menjalankan tugas pokoknya melakukan penilaian harian selama satu semester, bukan malah membiarkan pemberian nilai nol di rapor.

Pemberian nilai nol kepada peserta didik oleh guru Matematika SMAN 4 Bandung ini sangat memprihatinkan dan telah mencemarkan nama baik guru Indonesia. Hal ini juga merupakan kemunduran dalam pendidikan nasional dan berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap penilaian yang dilakukan guru dan sekolah. Hal ini sangat berbahaya bagi upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

RETNO LISTYARTI, PRAKTISI PENDIDIKAN DAN SEKJEN FEDERASI SERIKAT GURU INDONESIA (FSGI)

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

FSGI : Pemberian Nilai NOL Pada Siswa SMAN 4 Bandung Bukan Semata Kesalahaan Sistem

FSGI : Pemberian Nilai NOL Pada Siswa SMAN 4 Bandung Bukan Semata Kesalahaan Sistem

Sesuai dengan hasil kajian hukum FSGI yang juga sudah diserahkan kepada KPAI,  maka pernyataan sekolah dengan mengaku bahwa pemberian nilai NOL sebagai kesalahan teknis tidak dapat diterima oleh nalar.  Jika sekolah hanya berpijak pada  alasan kesalahan teknis operasional pengolahan nilai , maka itu hanya melihat dari hasil akhir saja. Padahal Kesalahan teknis itu disebabkan oleh peristiwa yang mendahuluinya  sebagaimana hasil kajian fsgi. Ada sebab akibat mengapa sekolah sampai memberikan nilai NOL di rapor.

Dari keterangan korban dan orangtuanya dapat disimpulkan bahwa ada kesengajaan oknum guru yang memiliki perencanaan menghancurkan nilai anak, yaitu dengan menolak memberikan tugas/ulangan susulan padahal waktunya masih memungkinkan.  Ada unsur buruknya pelayanan sekolah terhadap peserta didik, dalam hal ini adalah korban yang mengalami diskriminasi dan tekanan hingga depresi.    Bagaimana mungkin peristiwa pendahulunya selama berbulan-bulan  diabaikan  sehingga public harus percaya bahwa itu semata-mata hanya karena kesalahan teknis tanpa ada latar belakang peristiwa yang mendahului  sebelumnya.

Ada kelalaian sekolah yang telah memberikan rapor bernilai NOL  yang sudah ditandatangani kepala sekolah dan wali kelas bahkan lengkap dengan stempel sekolah merupakan bukti bahwa pelayanan sekolah buruk.  Akibat perlakuan oknum guru yang berujung pada pemberian nilai NOL maka ada seorang anak yang dirugikan dan hal ini sudah memenuhi unsure kekerasan terhadap anak.

Menolak memberi kesempatan mengumpulkan tugas secara susulan dalam situasi dan waktu yang masih memungkinkan,dengan alasan siswa sedang menderita sakit dan dalam perawatan dokter,dan memberi nilai nol pada rapor siswa di semester II sehingga berdampak pada penjatuhan keputusan Tidak Naik Kelas bagi siswa tersebut adalah termasuk dalam klasifikasi perlakuan tindakan kekerasan psikis terhadap anak yang diatur pada Undang-Undang Perlindungan Anak yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 23 Tahun 2002 pasal 80 dengan ancaman hukuman penjara 3 tahun 6 bulan. Dengan adanya dugaan telah terjadi kekerasan terhadap anak maka sudah sepatutnya KPAI menyelamatkan masa depan korban, jangan terbawa alasan sekolah bahawa ini hanya kesalahan teknis belaka.

FSGI mendorong KPAI untuk mendalami lebih jauh latar belakang pemberian nilai NOL di rapor demi kepentingan pendidikan agar masyarakat Indonesia dapat mempercayai penilaian yang diberikan guru dan sekolah. Memberikan nilai NOL dirapor adalah kemunduran dalam pendidikan Indonesia. KPAI sejatinya ikut mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas dan berkeadilan di negeri ini.

Jakarta, 10 September 2016

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pernyataan Resmi FSGI Terkait Mendampingi Korban Nilai Nol di Rapor

Yth. Teman-teman Guru anggota FSGI di seluruh Indonesia,

FOKUSLAH PADA MEMAJUKAN PENDIDIKAN INDONESIA, BUKAN PERKARA GURU DILAPORKAN KE KPAI

Berkaitan dengan “serangan” berbagai pihak –terutama para guru—karena keputusan pengurus pusat FSGI untuk mendampingi siswi SMAN 4 Bandung yang mendapatkan nilai NOL di rapor, maka dengan ini kami menyampaikan :

PERTAMA, Serangan itu sudah kami perkirakan dari awal, jadi kami tidak terkejut, justru serangan ini menunjukkan FSGI sangat diperhitungkan. FSGI selalu menghargai perbedaan pendapat. Kami persilahkan pihak-pihak  yang tidak setuju dengan langkah yang dipilih FSGI untuk berpendapat, termasuk yang ingin menyalahkan sesuai keterbatasan pengetahuan dan data yang dimilikinya. Tetapi, mari kita tetap saling menghormati.

KEDUA, FSGI mempersilahkan semua pihak untuk menyampaikan dukungan maupun ketidaksetujuan. Sikap  dan kritik FSGI memang kerap melawan mainstream dan atas keputusan ini FSGI kerap  “diapresiasi”, “diserang” maupun “dihujat” banyak pihak, makanan biasa hampir setiap tahun. Bagi FSGI, itu adalah resiko dari perjuangan dan pilihan, FSGI selalu siap menghadapi ini dengan himpunan data, fakta dan kekuatan yang dimiliki. Membuktikan kebenaran memang membutuhkan waktu dan kesabaran, semua ikhtiar butuh pengorbanan.

KETIGA, FSGI menyadari bahwa Tupoksi pengurus organisasi guru menurut  pasal 42 UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen, bukan hanya melindungi guru tapi memajukan pendidikan nasional. Pendidikan Indonesia berjalan mundur ketika ada guru memberikan nilai NOL (0). Tindakan guru tersebut melanggar etika dan peraturan perundangan, sehingga layak direkomendasi untuk diberi hukuman supaya menimbulkan efek jera pada yang bersangkutan dan guru lain di masa yang akan datang.

KEEMPAT, Memberikan nilai NOL di rapor adalah tindakan yang memalukan bagi guru Indonesia dan sekolah di Indonesia.  Jika dibiarkan maka masyarakat menjadi tidak percaya pada penilaian yg diberikan guru disekolah. Tindakan FSGI justru ingin menyelamatkan guru dan sekolah di Indonesia. Sebagai sesama pendidik, sudah seharusnya kita saling mengingatkan jika ada rekan sejawat yang keliru, bukan membangun solidaritas buta yang tidak berdasarkan data, fakta apalagi kajian hukum yang komprehensif. Pemberian nilai NOL di rapor sangat membahayakan kualitas pendidikan Indonesia.

KELIMA, Apabila mengacu kepada standar berpikir rasional,  logis,dan ilmiah pada rapor smester II tahun pelajaran 2015/2016 tidaklah mungkin siswa memperoleh nilai nol di rapor. karena ketentuan penilaian rapor dalam Kurikulum 2013 adalah nilai semester ganjil dan genap diakumulasi. Korban memiliki nilai 50 ketrampilan untuk mata pelajaran peminatan di semester 1, jadi mustahil nilainya NOL pada semester 2.

KEENAM, FSGI adalah organisasi profesi guru yang memiliki ciri yang sudah teruji dan terukur selama bertahun-tahun, yaitu mengedepankan data. Seluruh kritikan FSGI atas berbagai kebijakan maupun keputusan birokrat selalu dengan data dan kajian cermat dan terukur. FSGI tidak pernah digugat secara hukum oleh pihak manapun, karena data dan  kajian yang dimilikinya, sebaliknya FSGI lah pihak yang selalu berposisi menggugat pihak lain dengan bermodal kecermatan data, analisis aturan yang dilanggar dan hasil kajian yang terukur. FSGI juga kerap memenangkan gugatan karena selalu berdiri di atas aturan.  Tentu saja, keputusan FSGI kali ini untuk mendampingi korban dan orangtuanya juga sudah diperhitungkan secara logis, cermat dan terukur.

KETUJUH, FSGI memilih KPAI untuk turun tangan dan memediasi pihak-pihak terkait, justru karena FSGI mendorong penyelesaian masalah di “meja coklat” melalui dialog BUKAN di “meja hijau”, walau jalur hukum sudah bisa ditempuh orangtua korban karena adanya dugaan kuat pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 23 Tahun 2002 pasal 80 dengan ancaman hukuman penjara 3 tahun 6 bulan. Dengan adanya dugaan telah terjadi kekerasan terhadap anak maka sudah sepatutnya KPAI turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap pelaku baik kesalahan atas nama pribadi maupun jabatan. Langkah FSGI ini justru secara tidak langsung berupaya melindungi guru untuk TIDAK dilaporkan pidana ke kepolisian oleh orangtua korban.

Dasar dan alasan kuat FSGI memutuskan untuk mendampingi korban dan orangtuanya :

JULI 2016, Orangtua korban yang memiliki insiatif untuk melaporkan kasus nilai NOL di rapor anaknya ke FSGI dengan membawa kronologis peristiwa dan bukti-bukti. Orangtua korban yang mendatangi FSGI ke Jakarta, bukan sebaliknya. FSGI dengan ayah korban terus berkomunikasi selama Juli-Agustus karena banyak bukti yang harus dilengkapi sebelum tim kajian FSGI membuatkan kajian hukum atas kasus ini.

AGUSTUS 2016, Orangtua korban melengkapi bukti-bukti yang diminta tim kajian FSGI, mulai dari fotocopy rapor, surat keterangan sakit dari RS, surat keterangan mengikuti olimpiade biologi, dan lain-lain. Dari data tertulis dan wawancara terungkap bahwa korban mengalami tekanan berbulan-bulan dari 2 gurunya hingga mengalami depresi  akibat tidak diberi kesempatan mengikuti ulangan susulan, memberikan tugas susulan dan presentasi karena tidak masuk sekitar 3 minggu. Guru lain di SMAN 4 Bandung memberikan kesempatan, kecuali guru matematika dan bahasa Indonesia. Hal ini dibuktikan dari nilai rapor, dimana mata pelajaran lain memberikan nilai bagus, setidaknya memenuhi KKM dan nilai sikap semuanya A dan B, termasuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan matematika.

Dalam kajiannya, FSGI menemukan adanya unsur “Kelalaian Sekolah”. Guru matematika, Wakasek Kurikulum,dan Kepala Sekolah telah lalai memperhatikan persoalan individu siswa yang sedang menderita sakit dengan diagnosis Astigmat Miop Compositus ODS dan Sikatrik Kornea ODS,dengan Dokter Pemeriksa Irawati Irfani,dr,SpM.MKes. Diperiksa di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung,dan mendapatkan saran medis untuk tetap control dan berobat jalan dalam waktu 3-6 bulan yang akan datang.

Dibalik kekurangan memiliki penyakit tertentu sehingga berujung pada kecepatan dan kesempurnaan mengumpulkan tugas khususnya pada mata pelajaran matematika kelompok peminatan, seharusnya bagian kurikulum dan Kepala Sekolah turun tangan melihat dan memperhatikan sisi kelebihan dan potensi yang dimiliki oleh anak dalam bentuk mendapatkan kepercayaan mewakili SMAN 4 Bandung dalam Olimpiade Biologi Tingkat Wilayah sesuai Surat Keterangan Kepala Sekolah Nomor: 421.3/848-SMA.04/2016.

SEPTEMBER 2016, FSGI sudah menyelesaikan kajian hukum, menulis surat pengantar orangtua korban ke KPAI dan siap merilis hasil kajian ke public melalui konprensi pers di LBH Jakarta. FSGI mendampingi korban dan ortu ke KPAI sehari setelah konpers.

Benarkah Siswa Jarang MASUK SEKOLAH?

Berdasarkan rekapan yang berasal dari bukti buku rapor anak yang bernama D. Puspita. R pada semester I,II tahun pelajaran 2015/2016 SMAN 4 Bandung,untuk selanjutnya dalam hal ini disebut sebagai siswa, diperoleh data terlampir ketidakhadiran kumulatif sebagai berikut:

  1. Sakit : 4 hari
  2. Ijin                        : –
  3. Tanpa Keterangan : 7 hari         :

Dari data tersebut diatas total ketidakhadiran siswa sebanyak11 hari dari 180 hari belajar efektif atau sebanding dengan 6,1% sehingga persentase kehadiran mencapai 93,9%.

Untuk nilai Peminatan Matematika Kompetensi Keterampilan pada semester II tahun pelajaran 2015/2016,guru memberi tugas 3(tiga) kali dengan rincian sebagai berikut:

  • Tugas pertama mengerjakan soal materi: Pertidaksamaan Mutlak,Pecahan,dan Irrasional. Pada tugas ini siswa memperoleh nilai 50
  • Tugas kedua mengerjakan soal materi : Geometri Bidang Datar
  • Tugas ketiga mengerjakan soal materi : Persamaan Trigonometri

Sesuai arahan guru,tugas kedua dan ketiga dititip dan diserahkan melalui ketua kelas via email tapi belakangan diketahui data tugas kirimannya belum terkirim atau sampai tujuan sehingga siswa berinisiatif melakukan kiriman ulang dan walau dimohon berkali-kali guru matematika tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki pengiriman dan pengumpulan tugas dengan cara susulan.

Menolak memberi kesempatan mengumpulkan tugas secara susulan dalam situasi dan waktu yang masih memungkinkan,dengan alasan siswa sedang menderita sakit dan dalam perawatan dokter,dan memberi nilai nol pada rapor siswa di semester II sehingga berdampak pada penjatuhan keputusan Tidak Naik Kelas bagi siswa tersebut adalah termasuk dalam klasifikasi perlakuan tindakan kekerasan psikis terhadap anak yang diatur pada Undang-Undang Perlindungan Anak yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 23 Tahun 2002 pasal 80 dengan ancaman hukuman penjara 3 tahun 6 bulan. Dengan adanya dugaan telah terjadi kekerasan terhadap anak maka sudah sepatutnya KPAI turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap pelaku baik kesalahan atas nama pribadi maupun jabatan.

Setelah dianalisis oleh tim kajian FSGI, pemberian nilai nol kepada peserta didik oleh guru matematika SMAN 4 Bandung ini sangat memprihatinkan dan telah mencemarkan nama baik guru Indonesia, karena dari data kehadiran mengikuti pembelajaran di sekolah dan ada pengumpulan tugas serta memperoleh nilai 50 di semester pertama, maka siswa tidak mungkin bernilai NOL. Ada dugaan yang kuat telah terjadi kesalahan dalam proses dan system pengolahan nilai,maka dalam persoalan ini sudah saatnya Irjen Kemendikbud Republik Indonesia,Inspektorat Provinsi Jawa Barat dan Gubernur Jawa Barat,dan Dinas Pendidikan Kota Bandung turun tangan tuntaskan kasus tersebut.

Salam Perjuangan

Atas Nama Pengurus Pusat FSGI

Retno Listyarti M.Si (Sekretaris Jenderal)

Posted in Uncategorized | 1 Comment

https://www.youtube.com/watch?v=UpDDRf6Kgts

Posted in Uncategorized | Leave a comment

https://www.youtube.com/watch?v=5yxeLvPDmAE

Posted in Uncategorized | Leave a comment

https://www.youtube.com/watch?v=SIWRr7qDJbE

Posted in Uncategorized | Leave a comment

https://www.youtube.com/watch?v=kCE42D8sZIQ (2)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

https://www.youtube.com/watch?v=7yAq688GijM

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Diskusi Rebons di Okezoone.com

Diskusi Rebons Streaming Okezoone.com, selasa 16 Agustus 2016 Narasumber : Sekjen FSGI, Ketua Komnas Perlindungan Anak dan perwakilan Kementerian Agama RI tentang “Kontraversi Full Day School”https://www.youtube.com/watch?v=UpDDRf6Kgts

Posted in Uncategorized | Leave a comment

FSGI DalamWorkshop di MAN 7 Jkt

Website Kemenag DKI Jakarta memuat berita Workshop Pendidikan Karakter MAN 7 Jakarta, ada FSGI nya hehehe…..bravo MAN 7 Jakara, terimakasih sudah mengundang FSGI

https://dki.kemenag.go.id/berita/395934/workshop-pendidikan-karakter-di-man-7-jakarta

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment